SUARA MERDEKA
 
INDEKS WACANA Rabu, 14 Nopember 2007

Dari zaman Orde Baru, pegawai negeri sipil menjadi sasaran empuk untuk mendulang suara setiap kali pemilihan umum. Golkar kala itu memobilisasi mereka untuk kemenangannya bertahun-tahun. Dimulai dari kementerian dalam negeri dan kementerian lain terus ke bawah sampai di tingkat kelurahan/desa. Maka, akan ketahuan siapa berkontribusi apa, dan bila tidak mau rasakan akibatnya. Model mobilisasi demikian inilah yang menjadikan Golkar kala itu tak tertandingi. Era reformasi berlangsung, PNS tidak lagi boleh disentuh. 

Keputusan DPRD Kota Semarang untuk tidak menyetujui permohonan tambahan dana kepada PSIS melalui APBD perubahan, mendapat reaksi keras suporter. Mereka menggelar demonstrasi di kompleks Balai Kota, pekan lalu. Namun aksi Snex dan Panser Biru itu sebenarnya telah membuka ruang bagi terjadinya hubungan yang lebih intensif antara pengelola PSIS dengan DPRD, eksekutif, dan komunitas sepak bola Semarang. Para pendukung tim yang telah bersusah payah mengeluarkan dana dan tenaga untuk mendukung kesebelasan pujaannya, perlu untuk mengetahui informasi-informasi penting menyangkut pengelolaan PSIS.

SEBUAH penelitian yang dilakukan oleh Judy Motion (2000) di New Zealand terhadap politikus perempuan menunjukkan bahwa politikus perempuan cenderung diposisikan dalam wilayah domestiknya sebagai istri, ibu, dan pasangan, daripada sebagai pribadi dengan segenap kemampuannya.

SELALU saja dalam pemilihan kepala daerah (pilkada), Nahdlatul Ulama (NU) menjadi perhatian serius bagi para bakal calon (balon). Hampir semua balon mengakui NU memag fantastis, sebab tak ada satu organisasi kemasyarakatan (ormas) pun yang memiliki kapital politik sebesar organisasi itu. Bisa dibayangkan bila balon berhasil menguasainya.

Sikap arogan dan tidak simpatik menjadi penyebab hilangnya rasa kebersamaan dan rusaknya hubungan kerja yang baik antara sesama institusi hukum. Setidaknya itulah pendapat pribadi saya ketika menyaksikan proses bon pinjam tahanan 3 tersangka yaitu Muji bin Simun, Yudi Hartono bin Rochman, Teguh Wiranto bin Risman.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA