logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 14 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Siapkan Peringatan Dini Banjir dan Longsor

SEMARANG - Gubernur Jateng Ali Mufiz meminta tiap daerah perlu segera menyiapkan sistem peringatan dini (early warning system) tentang bencana banjir dan tanah longsor. Tindakan itu perlu segera direspons oleh seluruh kepala daerah agar bisa menekan jumlah korban saat terjadi bencana.

''Bencana itu datang tanpa kita ketahui. Tentunya di waktu sekarang itu perlu segera dilakukan adalah menyiapkan sistem peringatan dini,'' kata dia usai rapat koordinasi (Rakor) Intelijen di kantor gubernur Jl Pahlawan Semarang, Selasa (13/11).

Berdasarkan hasil pemetaan daerah rawan bencana ada 24 kabupaten/kota dinyatakan rawan banjir dan 27 kabupaten masuk rawan tanah longsor.

Langkah Pemprov Jateng adalah mengkoordinasikan tiap Badan Koordinasi Pembangunan Lintas Kabupaten/Kota (Bakorlin) dalam menyiapkan anggaran dan peralatan.

Pedeteksi Longsor

Sementara itu, dari Bandung sedikitnya empat unit alat pendeteksi longsor dipasang sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana. Dua alat yang tengah dikembangkan departemen pekerjaan umum itu di antaranya ditempatkan di Banyumas.

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) PU, Hendrianto Notosoegondo, keberadaan alat itu dalam rangka pemantapan sistem peringatan dini atas bencana gerakan tanah itu.

"Memang masih dikembangkan. Nantinya diharapkan bisa dibuat dalam skala besar, secara massal," tandasnya usai menghadiri kegiatan kolokium hasil penelitian dan pengembangan sumberdaya air PU di Bandung, Selasa (13/11).

Alat-alat itu masih terus dipasang di daerah yang dianggap rawan longsor. DPU berencana menempatkan alat-alat itu yang sekarang masih berupa prototipe itu di provinsi-provinsi kawasan merah. "Alat ini akan efektif berkerja,akurat jika ditempatkan dalam kolom yang rapat," katanya.

Oleh peneliti Balai Sabo Puslitbang Sumber Daya Air, alat pantau rekahan permukaan tanah itu ditempatkan di Desa Cibangkong, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas.

Keberadaan alat itu ditunjang oleh alat pantau deformasi dan alat penakar curah hujan untuk menghasilkan data yang terukur.

Hasil penelitian yang dilakukan Hariyadi Djamal, Oriza Andamari, dan Haryanto menunjukan kecepatan pergerakan tanah di daerah itu termasuk lambat yakni lebih dari 10 cm per bulan.

Meski demikian, tim merekomendasikan agar dibentuk komunitas peduli rawan longsor di tingkat desa. Komunitas itu untuk merangsang warga dalam memanfaatkan keberadaan alat monitoring itu.

Warga disarankan diberikan pengetahuan praktis seperti survei mencari batas longsoran, tanda rekahan tanah, serta menuangkannya dalam peta.

Tak hanya itu, warga hendaknya dibekali dengan identifikasi tanda-tanda longsor seperti bidang gawir, mata air yang tiba-tiba muncul, arah rekahan, rumah retak, dan pencatatan pengukuran kedalaman air.(H37,H7,dwi -77)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA