logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 06 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Demokrasi Indonesia Dikuasai Etnis Mayoritas

JAKARTA - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Laode Ida mengatakan, akan ada kecemburuan bila pemimpin bangsa yang muncul mayoritas adalah orang Jawa. Hal tersebut sangat riskan bagi demokrasi.

"Selama ini, demokrasi kita masih dikuasai etnis mayoritas. Misalnya tidak mungkin presiden kita adalah orang Kalimantan," katanya dalam diskusi dengan tema "Refleksi Semangat Sumpah Pemuda dalam Aktualisasi Peran DPD RI' di Gedung DPD Senayan Jakarta, Senin (5/11).

Dia mengatakan, diperlukan demokrasi berbasis identitas yang berkeadilan, karena partai politik (parpol) menutup generasi muda untuk muncul di panggung politik. Di kalangan pemuda ada KNPI, Ansor, GMNI, dan sebagainya.

Tetapi, lanjutnya, organisasi itu tidak mengekspresikan kekuatan pemuda, melainkan hanya merupakan ormas. "Hal itu berbeda dengan DPD. Sebab, sampai saat ini kepemimpinan di DPD berdasarkan kesetaraan wilayah Indonesia," tambah Laode Ida.

Dikatakan, hakikat sumpah pemuda adalah ikatan keragaman Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan DPD yang diisi oleh perwakilan daerah. "Meski DPD lahir setelah 76 tahun Sumpah Pemuda, tetapi lembaga itu merefleksikan perwakilan daerah sesuai semangat sumpah pemuda."

Dicurigai

Di tempat yang sama, Pengamat politik dari CSIS Indra J Pilliang mengatakan, selama ini kepentingan daerah selalu dicurigai berpotensi menggerakan separatisme.

"Jakarta selalu berang jika ada bendera RMS berkibar, Partai GAM muncul, dan sebagainya, yang dianggap memicu separatis. Padahal di daerah, masalah tersebut masih berupa wacana," katanya.

Menurut Indra, perbedaan pendapat antara pusat dengan daerah sering diselesaikan dengan senjata, misalnya mengerahkan kekuatan militer.

"Seharusnya, cara seperti ini segera diubah dan tidak dilakukan lagi," tegasnya.

Senada, Zaim Uchrowi dari Balai Pustaka menilai, bangsa ini statis, feodal, dan tidak mampu menjaga kekayaan alamnya. "Ini sudah terjadi sebelum Sumpah Pemuda sampai sekarang. Kalau begitu terus, bagaimana kita bisa membangun bangsa Indonesia menjadi lebih baik," katanya.

Zaim melihat, ada heroisme di tingkat pemuda yang cenderung revolusioner. Selain itu, ada pula rasa solidaritas di kalangan muda agar bisa bersama-sama berjuang. Sebab, di kalangan pemuda ada harapan terjadi perubahan.

Dikatakan, bangsa ini tidak tahu akan menuju kemana dan hanya berputar pada masalahnya sendiri.

"Bangsa ini hanya memikirkan kepentingan uang dan akan cepat kolaps. Banyak pemekaran daerah karena kaum elite-nya hanya ingin mendapatkan jabatan," tambahnya.(H28-49)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA