| Senin, 05 Nopember 2007 | NASIONAL |
Waspada Banjir dan LongsorAKHIR Oktober sampai awal November musim penghujan mulai mengguyur. Ini tentu merupakan berita baik bagi petani yang sedang memasuki masa tanam. Air akan melimpah dan tanaman padi mereka tidak kekeringan. Sebaliknya, bahaya musim penghujan pun juga mengadang. Kewaspadaan dan antisipasi harus dilakukan sejak dini. Jajaran Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mengingatkan, meski saat ini dalam masa transisi, hujan sudah mulai mengguyur sehingga perlu diwaspadai. Jika tidak dampaknya diperkirakan bisa lebih parah ketimbang menjelang musim hujan tahun-tahun lalu. Sebab, kondisi lingkungan sudah berubah. Banjir dan tanah longsor merupakan ancaman alam yang selalu andil dalam setiap musim penghujan Kedua bencana tersebut perlu diwaspadai. Apalagi saat cuaca tidak menentu seperti sekarang ini, sangat rawan terjadi musibah yang pastinya tidak diinginkan itu. Diperkirakan pertengahan November terjadi hujan dengan curah tinggi yang akan mengguyur seluruh wilayah Jawa Tengah. Tidak menutup kemungkinan terjadi banjir ataupun tanah longsor. Sepanjang tahun 2007 ini telah terjadi beberapa kali banjir dan tujuh kali tanah longsor yang merugikan harta benda dan juga nyawa. Tercatat pada 18 Februari 2007, terjadi longsor di Desa Tanjungsari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. Longsor tersebut mengakibatkan delapan orang meninggal dan tujuh orang luka parah. Sementara di Semarang, akibat hujan deras semalaman dua rumah di Kelurahan Lempongsari, Kecamatan Gajahmungkur, terkena longsoran tebing. Peristiwa berlangsung 29 Oktober lalu, Begitu pun dengan bencana banjir. Tercatat pada awal tahun 2007, tepatnya 2 Februari di Wonosobo terjadi banjir akibat meluapnya Sungai Serayu. Kejadian tersebut menyebabkan empat anak terseret arus dan seorang remaja hilang. Banjir bandang di Wonosobo merupakan kiriman gelontoran air dari Dataran Tinggi Dieng setelah didahului hujan lebat. Di Tegal, banjir menggenangi sekolah-sekolah, sedangkan di Jepara banjir mengakibatkan satu jembatan ambrol. Wilayah Jawa Tengah memang memiliki potensi besar terhadap terjadinya banjir dan tanah longsor. Ada 12 titik daerah rawan banjir dan tanah longsor di Jawa Tengah yang harus diwaspadai. Untuk daerah potensi banjir antara lain terbagi menjadi dua. Pertama, jalur pantura: Brebes, Comal (Pemalang), Cepiring (Kendal), Semarang, Welahan (Jepara), Jekulo (Kudus), dan Tayu (Pati). Jalur selatan: Majenang (Cilacap), Banyumas, Gombong, Kebumen, dan Kutoarjo (Purworejo). Untuk daerah potensi longsor terbagi menjadi tiga jalur. Pertama, jalur pantura meliputi Ketanggungan (Brebes), Paninggaran (Pekalongan, jalur alternatif menuju Banjarnegara dan Yogyakarta), Kendal, Sukorejo (Kendal, jalur alternatif menuju Temanggung dan Yogyakarta), dan Gubug (Grobogan). Kedua , jalur tengah meliputi Ajibarang (Kabupaten Tegal), Kretek (Wonosobo), dan Sumberlawang (Sragen). Ketiga, jalur selatan yakni Lumbir, Wangon, Gumilar (Cilacap), dan Sumpiuh (Banyumas). (Sasi/Pusdok SM-46) |