logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 02 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Otak Tikus Berpendar Pelangi


SM/Reuters WARNA-WARNI: Sebagian susunan syaraf pada otak tikus memancarkan cahaya warna-warni bergantung pada aktivitas syaraf otak itu.(25)

CHICAGO - Kelompok ilmuwan Amerika Serikat memanipulasi syaraf-syaraf neuron pada otak tikus sehingga bisa memancarkan cahaya berpendar-pendar dengan warna pelangi. Eksperimen tersebut bukan untuk sekadar menampilkan tikus yang aneh. Warna-warni neuron itu dimaksudkan untuk mempermudah para ilmuwan memetakan jaringan syaraf otak yang rumit.

Kelompok itu menjuluki tikus tersebut "Brainbow" (dari kata brain = otak dan rainbow = pelangi). Dengan "otak pelangi", peneliti lebih mudah melacak neuron pada sistem syaraf, sehingga bisa menggali lebih dalam organisasi dan fungsi syaraf otak.

"Sangat sulit menggambarkan diagram jaringan pelangi itu," kata Joshua Sanes, profesor pada Jurusan Biologi Seluler dan Molekuler dan Pusat Ilmu Otak, Harvard University. "Itulah kegunaan utama membuat masing-masing syaraf memancarkan cahaya berbeda."

Sanes mengatakan, metode "otak pelangi" itu makin membuka peluang untuk riset berbagai penyakit seperti autisme, keterbelakangan mental, penyimpangan bipolar, dan bahkan kesulitan belajar yang bisa jadi terkait dengan problem-problem jaringan syaraf otak.

"Dengan begitu, akan terungkap bahwa berbagai penyimpangan perilaku sebetulnya adalah gangguan pada sirkuit otak," kata dia.

Penelitian tersebut dipimpin Dr Jean Livet dari Harvard. Dia mendapat ilham dari ubur-ubur Aequorea victoria. Ubur-ubur ini memiliki gen yang membuat protein tubuh berpendar cahaya.

Tim peneliti kemudian mencoba memasukkan gen itu ke dalam tikus percobaan supaya hanya neuron saja yang berpendar. Pada mulanya, pendar cahaya hanya berwarna hijau. Namun, anggota peneliti lain berhasil merekayasa gen untuk berpendar cahaya warna merah, kuning, dan biru.

Kini, Livet telah memadu-padankan warna-warna itu untuk menciptakan sekitar 90 spektrum warna sehingga memancarkan pendaran tak ubahnya pelangi. Dia menggunakan sistem rekombinasi genetik untuk mengatur gen-gen supaya menafsirkan protein berwarna dan memendarkan cahayanya hanya pada sel-sel syaraf tikus.

"Sistem rekombinasi itu sebetulnya untuk mengacak warna-warna dengan berbagai cara sehingga setiap warna yang berbeda akan muncul," kata Sanes. Efek multiwarna yang ditimbulkan dari sistem rekombinasi ini membantu peneliti untuk mengamati dan tidak kehilangan jejak atas aktivitas syaraf otak.(rtr-gn-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA