| Jumat, 02 Nopember 2007 | NASIONAL |
Harga Minyak 96 DolarSINGAPURA- Harga minyak dunia melambung hingga 96 dolar AS per barel kemarin, akibat kemerosotan stok minyak mentah Amerika yang menimbulkan kecemasan pasar mengenai suplai untuk musim dingin. "Kemerosotan cadangan minyak mentah Amerika Serikat telah menjadi pemicu utama kenaikan harga minyak," kata David Moore, analis komoditas Commonwealth Bank of Australia di Sydney. Harga minyak Light untuk kontrak Desember sempat melonjak hingga 96,24 dolar per barel dalam perdagangan New York Mercantile Exchange (NYMEX), sebelum akhirnya turun menjadi 95,59 dolar. "Kita sedang memasuki wilayah tak dikenal. Tak seorang pun ingin menjual, karena khawatir bakal terjadi lonjakan harga," kata pialang Ken Hasegawa dari Fimat Jepang. Minyak Brent untuk kontrak Desember juga sempat mengalami kenaikan 1 dolar hingga menembus rekor 91,63 dolar per barel di London. Namun pada sesi penutupan, harganya turun menjadi 91,37 dolar. Anggaran Aman Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, meski harga minyak dunia sudah mendekati level 100 dolar per barel, APBN dinyatakan masih aman. "Yang jelas pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi, meski harga minyak melambung, karena harga BBM subsidi sudah dua kali dinaikkan tahun 2005," katanya di sela-sela diskusi 3 Tahun SBY-JK di Hotel Nikko, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (1/11). Menurut JK, Indonesia sebagai produsen minyak juga diuntungkan dengan kenaikan harga. Selain itu komoditas tambang dan perkebunan Indonesia saat ini juga meningkat. Sedangkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan, harga minyak mentah yang kini menggila harus diwaspadai. Jika kenaikan harga minyak berlangsung lama, maka akan memperlambat ekonomi dunia. Harga minyak akan mengakibatkan kenaikan inflasi pada bulan November, karena banyak industri yang harus mengeluarkan biaya. "Kenaikan harga minyak harus dikelola dengan baik oleh pemerintah. Memang ada sinyal harga BBM dalam negeri tidak naik. Itu sinyal yang bagus, karena harga BBM itu multiplier effect-nya banyak," ujarnya dalam jumpa pers di kantornya Jakarta. Selama harga BBM dalam negeri tidak naik, maka fluktuasi harga minyak mentah tidak akan terlalu memusingkan. "Jadi ini tergantung dari policy pemerintah apakah akan menaikkan BBM atau tidak," ujarnya. Sedangkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyiapkan sistem jaring pengaman sosial (social safety net) apabila harga minyak menembus 100 dolar AS per barel. "Nanti kita lihat bentuknya seperti apa, karena masih harus dikaji. Tapi itulah yang dilakukan kalau harga minyak naik dan kita harus siap-siap. Pemerintah sudah stand by, antara lain di Bappenas siapkan social safety net," ujarnya Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta di sela-sela rapat triwulanan di Gedung Bappenas, Jakarta, Kamis (1/11). Meski demikian, menurut dia, dana untuk sistem jaring pengaman sosial ini belum disiapkan pemerintah. "Nantilah, paling ada penghematan anggaran lagi," ujarnya Paskah mengatakan sistem jaring pengaman sosial diperlukan, karena kenaikan harga minyak yang drastis akan memberikan dampak terhadap ekonomi secara beruntun. Kenaikan harga minyak akan memengaruhi produksi dan secara langsung akan menghambat ekspor. (ap-rtr,dtc-ben,33) |