logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 02 Nopember 2007 NASIONAL
Line

AJARAN SESAT

Pengikut Al Qiyadah di Semarang Tiarap Rumah Mewah Itu Kini Sepi...


SM/ Adi Prianggoro RUMAH MEWAH:Seorang anggota polisi berpakaian preman menyambangi rumah mewah di Jl Kinibalu Timur 65, Semarang, yang sepi dan terkunci.(30)

Pengikut ajaran Al Qiyadah Al Islamiyah sudah betul-betul menyebar di berbagai daerah. Tak terkecuali Kota Semarang, yang menjadi pantauan aparat kepolisian. Berikut laporan Suara Merdeka mengenai anak buah Ahmad Mushaddeq tersebut di Kota Lunpia.

SUARA ramai namun tidak gaduh seperti sekumpulan orang membaca shalawat, sekarang tidak lagi terdengar. Beberapa remaja belasan tahun yang biasa mondar-mandir di rumah mewah di Jl Kinibalu Timur No 65 pun sudah tak terlihat.

Ya, di rumah mewah bercat campuran kuning dan coklat di RT 5 RW 3, Kelurahan Tandang, Tembalang, Semarang itu diduga aparat kepolisian sebagai ajang pertemuan para pengikut aliran Al Qiyadah Al Islamiyah wilayah Semarang dan sekitarnya.

Pintu pagarnya dikunci gembok. Rumah mewah itu pun kini telah sepi dari semua aktivitas yang biasa dilihat warga sekitar.

Menurut warga sekitar, kondisi sepi itu mulai terjadi sejak Rabu (31/10) sore. Padahal rumah tingkat berlantai dua itu biasa didatangi belasan orang setiap harinya.

"Kebanyakan yang datang ke rumah itu siswa-siswi sejumlah sekolah menengah atas. Mereka masih mengenakan seragam sekolah," kata Ayu (22), warga yang tinggal di depan rumah tersebut.

Kata dia, siswa-siswi itu mulai terlihat datang sekitar pukul 13:00, pulang lebih kurang pukul 18:00. Warga sekitar yang iseng bertanya, medapat jawaban mereka mengikuti les atau pelajaran tambahan.

Awalnya beberapa warga sekitar tak curiga. Namun setelah banyak orang dari berbagai kalangan kerap datang, kecurigaan mulai menyembul ke permukaan.

Aktivitas Berbeda

Ketua RT 5 Kusrin, juga pernah bertanya-tanya soal aktivitas yang berbeda di rumah tersebut. Sebab lama-kelamaan yang datang tidak hanya sekelompok pelajar. Sejumlah pria dan wanita muda di atas remaja, serta orang-orang yang diduga berkeluarga juga masuk-keluar di rumah kontrakan milik Supriyadi, warga Cempedak Utara.

Sesuai data di RT, rumah tersebut dikontrak sejak awal Juli 2007 oleh 12 orang yang kebanyakan statusnya mahasiswa. Tetapi mereka hanya mengumpulkan tujuh kartu tanda penduduk (KTP) kepada pengurus RT.

Penghuni rumah yang dikelilingi tembok tinggi itu, juga jarang bergaul atau bertegur sapa dengan warga sekitar. Bahkan berkesan, tak satu pun terlihat saat beberapa kali diundang menghadiri kegiatan kampung.

"Karena hal seperti inilah, banyak yang menjadi heran. Kalau memang menyelenggarakan les pelajaran tidak mungkin sebanyak itu yang datang. Ditambah lagi, beberapa keluarga dengan mengendarai mobil juga seringkali bertamu," kata Kusrin.

Pernah suatu kali soal banyaknya orang dari berbagai lapisan yang datang, dia tanyakan lagi kepada penghuni kos. Jawabannya? "Itu teman-teman lawas (lama-Red). Kami sedang ada kegiatan reuni kecil-kecilan," kata Kusrin menirukan ucapan salah seorang penghuni kos.

Kini setelah tersiar kabar ada ajaran Al Qiyadah Al Islamiyah yang difatwa MUI sebagai aliran sesat, kecurigaannya dan warga sekitar pun mengarah ke hal tersebut. Dia pun cukup yakin rumah tersebut menjadi tempat berjamaah oleh aliran itu.

Bertambah Kuat

Dugaan itu bertambah kuat saat dia didatangi oleh Kuntoro, warga RT 4 RW 21, Sendang Mulyo, Tembalang. Pria tersebut mencari anaknya bernama Arif Setiawan, siswa yang tengah menempuh pendidikan di salah satu sekolah di Kota Lunpia.

"Awalnya saya membantah kalau ada nama Arif Setiawan tinggal di wilayah RT ini. Namun, usut punya usut, ternyata orang yang dimaksud itu adalah Hasan Salim," tandasnya.

Ya, sebagian besar pria yang tinggal di rumah kontrakan itu menggunakan nama alias atau nama lain saat mendaftarkan identitasnya di kampung tersebut.

Kepada Ketua RT, Kuntoro mengungkapkan, anaknya diduga mengikuti aliran yang dianggap menyimpang dari ajaran agama. Antara lain, memadukan Alquran dan Injil dalam beribadah.

Terpisah, Mohammad Johan, salah seorang pengikut aliran tersebut mengaku terpaksa menghentikan aktivitas. Kalau toh ada kegiatan, kini dilakukan tidak mencolok, berpindah-pindah, dan hanya diikuti dalam kelompok lebih kecil.

"Ini karena kami ada tekanan. Juga ada perintah untuk sementara berhenti dari kegiatan seperti semula. Ya tiarap dulu. Tunggu perintah dari pusat," terang dia.

Kamis (1/11) sejumlah personel Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Jateng dan Polsekta Tembalang menyambangi rumah bertingkat tersebut. Karena pintu gerbang terkunci rapat, mereka hanya berdiri di luar pagar.

Kemudian mengobrol dengan warga sekitar untuk mengumpulkan keterangan seputar dugaan rumah itu digunakan sebagai aktivitas pengikut aliran sesat.

Kapolresta Semarang Selatan AKBP Drs Imran Yunus MH mengatakan pihaknya memang menerima informasi di rumah tersebut diduga digunakan sebagai tempat aktivitas para pengikut Ahmad Mushaddeq.

"Kegiatan yang dilakukan di rumah tersebut belum diketahui secara pasti. Apakah mengajarkan aliran itu. Kami masih menyelidiki lebih mendalam," katanya.

Meski demikian dari 12 mahasiswa yang mengontrak rumah tersebut, dia sudah mengantongi identitas asli delapan nama.

Dia telah memerintahkan anggotanya untuk mencari jamaah yang mengontrak di rumah tersebut dan mengharapkan warga bersikap tenang, tidak mudah menuduh para penghuninya mengikuti sebuah aliran sesat.

Demi menjaga hal tidak diinginkan, kini sudah ada sejumlah personel untuk mengawasi dan mengamankan rumah tersebut baik secara terbuka maupun tertutup.

"Kalau dari hasil penyelidikan ternyata terbukti mereka mengajarkan aliran sesat, kami tidak sungkan-sungkan menindak sesuai undang-undang yang berlaku," tandasnya.(Riyono Toepra, Adi P, Fahmi ZM, Saptono JS-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA