logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 01 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Perubahan Iklim Tekan Produksi Pangan

JAKARTA- Perubahan iklim secara global akan menjadi tekanan berat bagi produksi pangan, khususnya beras, karena peningkatan produktifitas menjadi semakin sulit. Hal itu dikatakan Deputi Bidang Kelautan dan Pertanian Kantor Menko Perekonomian, Bayu Krisnamurthi, dalam diskusi terbatas dengan Forum Wartawan Bulog di Jakarta, kemarin.

Menurut Bayu, pemerintah perlu segera mengantisipasi perubahan iklim tersebut. ''Indonesia adalah korban dari perubahan iklim global, meski selama ini kita dianggap mempunyai kontribusi terhadap perubahan iklim tersebut terutama dalam kasus kebakaran hutan,'' ucapnya.

Akibat perubahan iklim, kata dia, pola musim menjadi tidak menentu. Misalnya, pada tahun ini musim hujan mundur hingga dua bulan. Bahkan kejadian El Nino maupun La Nina menjadi lebih cepat dari semula 10 tahun sekali, menjadi 7 tahun dan sekarang malah 5 tahunan.

Implikasi dari perubahan iklim tersebut, lanjutnya, membuat produktivitas mendapat tekanan lebih berat. Begitu juga upaya pemerintah meningkatkan produksi pangan semakin sulit karena tidak ada kepastian iklim, khususnya ketersediaan air. ''Coba tanyakan ke petani, faktor apa yang paling menentukan kegiatan mereka. Jawaban mereka pasti air. Jika kondisi air tidak menentu, input produksi lain seperti pupuk juga sulit diterapkan,'' kata dia seraya menambahkan, perubahan iklim akan menjadi masalah besar pada hajat hidup orang banyak.

Apalagi, kata Bayu, terkait dengan perdagangan internasional, iklim di negara lain justru berpengaruh pada Indonesia. Dia menyebut, ketika Australia terkena kemarau hebat tahun ini, pengaruhnya terhadap Indonesia cukup besar terutama pada produk ternak, susu, dan gandum. ''Beberapa waktu lalu kita ikut merasakan harga susu naik hingga 100 persen,'' ujarnya.

Bahan Bakar Nabati

Menurutnya, menghadapi perubahan iklim itu, negara-negara di dunia kini mulai merespons kejadian tersebut dengan melakukan mitigasi dan adaptasi, terutama mengurangi efek rumah kaca. ''Salah satu yang menjadi andalan dunia, termasuk Indonesia adalah pengembangan biofuel atau bahan bakar nabati (BBN),'' paparnya.

Bayu mengakui, Indonesia mempunyai kesempatan lebih besar ketimbang negara lain dalam pengembangan BBN, karena bahan baku yang dipakai tidak berkompetisi dengan produk pangan, yaitu jarak pagar. Berbeda dengan AS dan China yang harus mengonversikan jagung untuk bioetanol.

Pada 2008/2009, kata dia, produksi bioetanol dari jagung AS diperkirakan mencapai 9 miliar galon atau sekitar 35 miliar liter. Saat ini sudah ada 15 pabrik bioetanol, 80 pabrik dalam tahap konstruksi, dan sekitar 50-60 pabrik dalam rencana pembuatan.

Begitu juga dengan China. Negara Tirai Bambu itu pada 2010 diperkirakan akan memproduksi 2 miliar ton etanol yang berbasis jagung dan sorgum. ''Di luar negeri basis pengembangan biofuel berasal dari tanaman biji-bijian seperti jagung dan sorgum. Ini jelas beda dengan Indonesia yang bisa memakai jarak pagar,'' ungkapnya.(tri-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA