| Kamis, 01 Nopember 2007 | NASIONAL |
Meminta Waktu KembaliPARA pengikut ajaran sesat Al Qiyadah Al Islamiyah di Kabupaten Cilacap meminta waktu untuk kembali ke jalan yang benar. Mereka butuh waktu untuk memperbaiki penyimpangan sehingga bisa kembali ke ajaran Islam yang benar. ''Semua yang kami jalani adalah pembelajaran dalam upaya mencari keyakinan hidup yang benar sebenar-benarnya. Oleh karena itu kalau dipandang salah, kami perlu waktu untuk mengubah agar kembali ke agama Islam yang benar,'' kata salah satu pengikut aliran tersebut, Surip Maryoto, mewakili kawan-kawanya, kepada Suara Merdeka. Surip mengatakan, selama 1,5 tahun dia dan kawan-kawannya menjalani keyakinan itu sebenarnya diyakini ajaran mereka tidak jauh dari agama Islam. Mereka mengucap kalimat syahadat yang benar dan melakukan ibadah lain seperti umat Islam umumnya. Namun baru pada beberapa bulan terakhir muncul pandangan baru di aliran itu, seperti tidak wajibnya shalat lima waktu dan puasa di bulan ramadan. Bahkan penggantian kalimat syahadat dengan mengakui pemimpin mereka, Ahmad Mushaddeq, sebagai rasul juga baru muncul belakangan ini. ''Sebelumnya semua normal seperti ajaran Islam umumnya. Beberapa bulan terakhir ada perubahan, sesuatu yang juga kami ikuti,'' kata Surip. Meski tahu ada perubahan dua kalimat syahadat namun mereka tetap mengikuti dan menjalan ajaran itu. Mereka yakin itu proses menuju pencarian sebuah ajaran agama yang paling benar dan hakiki. ''Kita menjalaninya karena sadar sedang berproses. Baru setelah semua meledak seperti sekarang ini muncul penyadaran yaitu keyakinan ada yang tidak bisa diterima masyarakat dengan dari keyakinan kami ini,'' kata warga Jl. Bawean Cilacap itu. Sulit Sepaham Polisi menyebut Surip Maryono sebagai salah satu pentolan Al Qiyadah Al Islamiyah di Cilacap. Dia orang pertama yang menerima ajaran itu dari tokoh Al Qiyadah luar kota. Surip merupakan satu-satu anggota Al Qiyadah Cilacap yang ikut dibaiat oleh pemimpin Al Qiyadah Ahmad Mushaddeq di Bogor, beberapa waktu lalu. Surip mengatakan menerima ajaran itu dari seorang kenalan di Yogyakarta. Setelah itu kenalan itu mendatangi rumahnya di Cilacap setiap pekan untuk melakukan ''pencerahan'' kepada dirinya. Setelah dipandang mengetahui dan memahami ajaran itu, sosok asing itu mulai memperjarang kunjungannya menjadi sebulan sekali. Sementara Surip pun mulai sering menggelar pengajian dan diskusi melibatkan kawan dan orang terdekat tentang isi ajaran itu. Ada sebagian menerima dan sebagian menolak. ''Kami lebih menyebut perkumpulan yang dilakukan sebagai diskusi dan bukan pengajian. Namun sulit untuk menemukan orang yang sepaham dan menerima pemikiran dalam ajaran ini,'' kata dia. Selain di rumahnya, Surip dan beberapa pengikut yang sudah masuk juga melakukan penyebaran paham ini sambil berbincang dengan orang yang rumahnya mereka kunjungi. Anggota Al Qiyadah Cilacap lain, Edi Sutarno, menyatakan lelah dengan apa yang dialaminya saat ini. Keluarga resah dan dia pun tidak tenang. (Mohamad Sobirin-77) |