| Kamis, 01 Nopember 2007 | NASIONAL |
Akhir Hidup Preman DesaBapak-Anak Tewas Dikeroyok
BATANG- Bapak dan anak yang selama ini dikenal sebagai preman desa tewas setelah dikeroyok oleh warga. Peristiwa yang terjadi di Dusun Grenyah, Desa Toso, Kecamatan Bandar, Batang, Rabu sekitar pukul 13.00 itu, merupakan puncak dari kekesalan warga. Sejumlah warga mengatakan, korban Warsani (50) dan anaknya, Trimo (30) selama ini sering membuat resah warga yang lokasinya berada di pelosok pedesaan, di antara kebun cengkih. Ulah mereka bersama anaknya yang lain, Taryono (34) dan Tikno (29) menjadi pemicu kemarahan warga. Warga sudah tidak tahan dengan ulah keluarga mereka. ''Apa yang menjadi kemauannya harus dituruti. Misal ada yang memiliki kerbau apabila diminta harus direlakan, kalau tidak seluruh isi rumah bisa dirusak,'' kata Effendi, warga setempat. Akibat ulahnya, tiga kepala keluarga desa itu terpaksa harus pindah rumah. ''Bapak dan anak itu biasa merusak rumah tetangganya apabila tidak dituruti kemauannya,'' ujar dia. Apalagi, kalau mengancam keluarga selalu membawa senjata tajam dan parang. Warga pun ketakutan. Namun, Rabu kemarin menjadi puncak dari kemarahan warga. Sebelumnya Taryono dan Tikno, sudah menghilang dari desanya, sekitar dua bulan setelah polisi mencarinya berkaitan dengan laporan perusakan rumah warga. Sedangkan Warsani dan Trimo, masih terlihat mondar-mandir di kampungnya sambil mengancam warganya yang melaporkan kedua anaknya. Namun, keduanya sejak Minggu lalu tidak pulang. ''Tidak hanya warga Toso yang mengetahui kelakuannya. Tapi tetangga desa juga mengerti ulah preman mereka yang sering memeras karena juga banyak yang menjadi korban.'' Dikepung Warga Ketika Rabu, sekitar pukul 13.00 keduanya terlihat berada di rumah, warga langsung mengepungnya. Tapi, nyali kedua preman desa itu besar juga. Mereka tidak takut. Dengan menggunakan keris dan parang, keduanya berusaha melawan. Namun jumlah warga yang mencapai ratusan orang dengan senjata pentungan dan bambu, membuat Warsani dan Trimo terdesak, kemudian lari. Pengejaran dilakukan warga secara beramai-ramai di kebun cengkih. Pelarian keduanya berakhir di kebun cengkih di Desa Kalipancur, Kecamatan Blado, sekitar dua kilometer dari Grenyah. Setelah kecapaian karena lari, Warsani dan Trimo dikepung dari seluruh penjuru. Akhirnya, tidak ada daya lagi. Kedua korban bertubi-tubi terkena pukulan tangan dan tendangan kaki. Begitu emosinya, sebagian warga juga menggunakan pentungan dari kayu dan bambu untuk menghajar keduanya. Korban pun tewas di kebun cengkih, jauh dari perkampungan itu. Mayat keduanya kemudian, dipikul dengan bambu dan diletakkan di tengah kampung tak jauh dari tempat tinggalnya. Sauti (49), istri Warsani yang tinggal di dalam rumah bersama ibunya Tasmiyah (68) tak berani ke luar. Dia pun tidak mengetahui kalau suami dan anaknya sudah tewas dengan kondisi tubuh yang mengerikan. Kapolsek Bandar AKP Sumbaryono bersama anggota yang datang di tempat kejadian berusaha menenteramkan warga. Beberapa saat datang Kasatreskrim AKP H Mat Rdiho dan Kanit Buser Ipda Hartono SH. Polisi segera mengamankan lokasi dan warga yang semula akan membakar kedua mayat itu. Emosi warga berangsur-angsur dikendalikan. Rumah korban di bagian depan ditulisi dengan kalimat ''rumah keluarga PKI'' dan tulisan PKI berikut gambar palu arit. Kapolres AKBP Edi Suroso bersama Kabagops Kompol Basuki SPd meminta warga tidak emosi. Sementara unit identifikasi melakukan olah tempat kejadian. Kedua mayat selanjutnya dibungkus dengan tikar dan dinaikkan pikap dibawa ke kamar mayat RSUD Kalisari untuk divisum. ''Kita masih melakukan penyelidikan. Hasil keterangan saksi menyebutkan, kalau kedua korban selama ini sering bikin resah warga,'' ujar Kapolres. Untuk menjaga situasi desa setempat, diterjunkan pasukan Dalmas. Selain itu dilakukan pengamanan tertutup oleh anggota Satreskrim dan Satintelkam. Camat Bandar Agung Wisnu Barata SSos juga meminta perangkat desa setempat untuk mengendalikan warganya agar tidak melakukan tindakan anarkis. (ar-77) | ||||