| Kamis, 01 Nopember 2007 | NASIONAL |
Calon Pemimpin Minimal Usia 40
JAKARTA- Mantan Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional Amien Rais sependapat munculnya wacana calon pemimpin dari kalangan muda. Kendati demikian, dia mematok, sebaiknya minimal berusia 40 tahun. ''Karena kalau masih sangat muda sifatnya suka grusa-grusu,'' katanya dalam pidato acara deklarasi Komite Bangkit Indonesia (KBI) di gedung Perpustakaan Nasional Jalan Salemba Raya, Jakarta, Rabu (31/10). Dalam deklarasi itu hadir sejumlah tokoh seperti Try Sutrisno, Wiranto, Amien Rais, Taufik Kiemas, Akbar Tandjung, Kwik Kian Gie, dan Anhar Gonggong. Komite ini digagas oleh Dr Rizal Ramli, sekaligus menjadi ketuanya. Menurut Rizal Ramli, KBI akan berupaya melakukan perubahan perilaku masyarakat dan seluruh komponen bangsa agar negara ini menjadi lebih baik. Dia tidak menyebut kemungkinan lembaga tersebut akan menjadi partai politik. Atasi Masalah Amien menganggap umur 40 tahunan sudah bisa mengatasi persoalan secara bijak. Selain itu, umur itu sudah paham persoalan dan dari segi emosi sangat stabil. Mantan Ketua MPR ini juga menyarankan agar kaum muda yang akan bangkit tidak cengeng dan merengek-rengek meminta kepada orang tua. ''Karena untuk mencapai kepemimpinan nasional dibutuhkan perjuangan yang keras,'' ujarnya. Mantan Ketua MPR itu berpesan agar para calon pemimpin muda yang ingin bertarung dalam Pilpres 2009 tidak lupa diri jika sudah menduduki kursi kekuasaan. ''Jangan sampai lupa niatnya untuk memajukan negara.'' Di tempat yang sama, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan, sangat tidak sehat mengumandangkan dikotomi generasi tua dan muda. ''Jangan dibawa pada pertentangan generasi, karena itu tidak sehat,'' katanya. Namun Din sangat menginginkan saat ini generasi muda tampil untuk memimpin bangsa. Pemimpin muda memiliki karakter tidak lamban dalam mengambil keputusan, cekatan dan tidak terlalu banyak pertimbangan dalam membuat kebijakan. ''Bangsa kita sekarang memerlukan pemimpin seperti itu.'' Dikatakan, minimnya keterlibatan generasi muda dalam berbagai hal karena faktor sistem dan budaya yang berlaku saat ini, sehingga kesempatan bagi generasi muda untuk tampil menjadi sulit. Sementara itu, Direktur Eksekutif Reform Institute Yudi Latif juga menyebutkan bahwa kepemimpinan bangsa memerlukan pemimpin muda. Namun dalam pilpres 2009, generasi muda masih sangat sulit. Untuk itu, hal yang perlu dilakukan generasi muda dalam jangka waktu yang dekat adalah penguatan dalam berbagai internal partai politik dan parlemen. ''Kalau untuk pilpres 2009 masih sulit,'' katanya. Belum Ada Adapun Direktur Eksekutif The Indonesian Institute, Jeffrie Geovanie mengatakan, belum ada tokoh muda saat ini yang berpeluang memenangkan Pilpres tahun 2009, meski banyak tokoh berusia muda yang memiliki kemampuan dan kapasitas tampil sebagai pimpinan nasional. ''Lemahnya sistem rekruitmen dan kaderisasi pimpinan melalui partai politik merupakan salah satu penyebab utama kecilnya peluang tokoh muda untuk tampil sebagai pimpinan nasional,'' katanya. Dia juga memperkirakan yang tampil sebagai bakal calon presiden dan wapres berdasarkan hasil Pilpres 2009 masih berasal dari kalangan tokoh tua nasional. Perkiraan anggota Dewan Penasehat CSIS itu relevan dengan hasil survei berbagai lembaga riset yang menyebutkan sejumlah tokoh nasional berpeluang memenangkan Pilpres 2009, di antaranya adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri. Menurut Jeffrie, pimpinan yang berasal dari tokoh tua atau tokoh muda tidak perlu dipertentangkan, namun kaderisasi pimpinan melalui partai politik semestinya diperbaiki agar tokoh-tokoh muda berpeluang tampil sebagai pimpinan. ''Kalau mau tampil sebagai pimpinan, ya harus melalui partai politik. Tidak perlu alergi dengan parpol karena partai politik adalah pintu untuk tampil ke berbagai jabatan publik,'' katanya. Namun, lanjutnya, sistem rekruitmen dan kaderisasi partai politik yang harus diperbaiki lebih dulu. Karenanya perlu dibangun aliansi strategis oleh sesama kelompok muda untuk bahu membahu mendapatkan kepemimpinan partai politik. Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Soetrisno Bachir juga mengingatkan kalangan generasi muda agar tidak alergi dengan parpol. ''Bagaimanapun konsensus nasional dan konstitusi telah menegaskan bahwa satu-satunya jalur masuk ke posisi jabatan publik hanya melalui parpol,'' katanya. Namun Bachir mengkritik keberadaan kaum muda yang kerap kali berubah watak idealismenya setelah mereka ikut menikmati kekuasaan. ''Persoalannya adalah adanya perubahan watak para pemuda yang dulunya vokal, kritis dan punya komitmen tinggi menjadi melempem setelah masuk parpol dan duduk di legislatif,'' ujarnya. (di,bn-49) | ||||