| Kamis, 04 Oktober 2007 | NASIONAL |
Rafi pun Bisa Tidur Lelap karena Zakat
MUHAMMAD Ibnu Rafi tidur lelap dalam boks bayi di samping ranjang ibunya. Rafi, demikian dia dipanggil, adalah nama bayi buah hati pasangan Supriyanto-Nurul Qomariyah yang lahir Rabu (3/10) pukul 01.00 di Rumah Bersalin Gratis (RBG) Rumah Zakat Indonesia. Bersama dengan dua bayi lainnya yang lahir pada hari yang sama, Rafi dan ibunya mendapatkan fasilitas perawatan tanpa dipungut biaya sepeser pun. Bagaimana klinik itu menghidupi kegiatan operasionalnya? Jawabnya, zakat! Dengan pembayaran zakat para aghniyya, para keluarga tidak mampu bisa mendapatkan fasilitas persalinan yang memadai. Bangunan yang berada di Jl Lamper Tengah 670 Semarang itu permanen dan berlantai keramik. Ada beberapa ruang di dalamnya, satu unit untuk ruang persalinan, satu ruang nifas, dan satu ruang periksa kehamilan, dan satu ruang periksa kesehatan umum. Para pasien yang melahirkan pun mendapatkan jatah makan dan berhak tinggal di tempat itu selama 24 jam. Di halaman terdapat pula tiga unit ambulans, masing-masing untuk pasien persalinan, pasien umum, dan mobil jenazah. Kebersihannya pun terjaga. ''Semua itu bisa terlaksana dari zakat yang disalurkan kepada kami,'' kata Rahayu Ummi Hikmah, Officer Health Care RBG Rumah Zakat Indonesia. Dijelaskan, para muzakki (pembayar zakat) bisa mendonasikan dananya sebesar Rp 800.000/ibu untuk membantu pengembangan program rumah bersalin. Dana itu akan dimanfaatkan untuk membiayai fase kehamilan, persalinan, dan paskamelahirkan. Sejak beroperasi 26 Mei 2007, RBG telah membantu kelahiran 76 bayi dan semuanya selamat. Empat Fokus Rumah bersalin itu merupakan salah satu program Rumah Zakat Indonesia. Lembaga amil zakat tersebut memiliki empat fokus program pengembangan, yakni kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan peningkatan kapasitas pemuda. Setiap program dibagi dalam paket-paket zakat dengan nominal tertentu. Muzakki bisa memilih paket zakat yang sesuai dengan kemampuannya. Misalnya zakat senilai Rp 100.000 akan dikemas dalam paket sembako yang kemudian diberikan kepada mustahik (penerima zakat). Yudi Hadiansyah, Pimpinan Dompet Peduli Umat Daarut Tauhiid (DPU-DT) mengatakan, pada momen Ramadan ini terdapat semacam eforia membayar zakat. Tidak hanya zakat fitrah, berbagai jenis zakat pun diterima. Pada Ramadan ini pihaknya mengembangkan program Instropeksi (Inovasi Filantropi Serempak Aksi). Program itu berupaya mengangkat potensi zakat, infak, sedekah, dan wakaf secara optimal. Tiap tahun jumlah yang akan diamanatkan ke lembaga itu terus meningkat. Ramadan tahun ini saja pihaknya telah mencatat penerimaan zakat sebanyak Rp 1 miliar. Karena itu, hingga akhir tahun ini dia menargetkan penerimaan zakat hingga 3 kali lipat dari tahun lalu yang mencapai Rp 1 miliar. Dia menilai, kesadaran masyarakat berzakat kian meninggi, meski sebenarnya bila dibandingkan dengan potensi yang ada masih banyak yang belum tergarap. ''Peningkatan penerimaan zakat ini salah satunya didorong cara pembayarannya yang kian mudah. Mereka tinggal mentransfer dana lewat bank atau bisa pula lewat SMS yang bisa langsung terpotong otomatis untuk zakat,'' katanya. (46) | ||||