logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 04 Oktober 2007 NASIONAL
Line

Ribuan Pelayat Antar Jenazah Mbah Hinan

TEMANGGUNG - Ribuan pelayat berdesak-desakan mengantarkan jenazah KH Muhaiminan Gunardo menuju ke tempat peristirahatannya yang terakhir di pemakaman Kiai Parak, Kauman Parakan, kemarin.

Rasa sedih yang mendalam dan isak tangis tidak bisa lagi disembunyikan dari wajah mereka, terutama tatkala jenazah kiai karismatik yang biasa dipanggil Mbah Hinan itu mulai diturunkan ke liang lahat.

Para pelayat tidak hanya berasal dari Temanggung, namun juga kota/kabupaten lain di Jateng dan Jatim. Mereka juga bukan hanya ulama dan santri, tapi juga para pejabat, tokoh masyarakat, PNS, dan alumni Pondok Kiai Parak dan masyarakat kalangan bawah.

Sejumlah tokoh yang hadir dalam upacara pemakaman itu antara lain Ketua Dewan Syuro DPP PKNU sekaligus pengasuh Ponpes Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang KH Abdurrahman Chudlori (Mbah Dur), Idham Chalid (Sekjen PKNU), Abdul Kadir Karding (Ketua DPP PKB), HM Adnan (Ketua PWNU Jateng), dan Maarif Zainudin (Pengasuh Ponpes Lirboyo Kediri).

Sementara dari kalangan pejabat, tampak hadir Gubernur Ali Mufiz, Bupati Temanggung M Irfan, sejumlah bupati/wali kota di Jateng, serta pejabat dan staf dinas/instansi Pemkab Temanggung dan Pemprov Jateng.

Gubernur Ali Mufiz dalam sambutan upacara pemakaman mengatakan, masyarakat Jateng sangat kehilangan atas wafatnya KH Muhaiminan Gunardo, yang selama hidupnya senantiasa mengabdikan diri untuk kemaslahatan umat. ''Semoga segala amal-amalnya diterima Allah SWT dan diampuni kesalahan-kesalahannya,'' kata dia.

Menurut Gubernur, Mbah Hinan merupakan sosok sederhana. Namun dedikasinya bagi kemaslahatan umat sangat tinggi. ''Karena itu, kita perlu meneladani dan berkewajiban untuk meneruskan segala perjuanganya tersebut.''

Dakwah ke Luar Jawa

KH Abdurrahman Chudlori mengatakan, akhir-akhir ini Mbah Hinan sangat giat untuk berdakwah dan menyebarkan ilmunya ke mana-mana, termasuk luar Jawa. Itu karena keprihatinannya dengan fenomena yang terjadi, dimana fitnah makin merebak, halal-haram tidak dibedakan lagi dalam mencari penghidupan, dan anak durhaka pada orang tua.

''Karena itu, kalau ulama dipanggil Allah, sebetulnya telah menjadikan gelap dunia ini. Ibaratnya, jika Allah akan mengambil lampu dunia, maka diambil oleh-Nya para ulama itu,'' tambahnya.

Dikatakan, jika manusia tidak segera memiliki lampu, pasti akan tersesat dalam mengarungi kehidupan. Selama hidupnya, Mbah Hinan telah memberikan teladan kepada para ulama agar selalu menyebarkan ilmunya. Sebab, jika ulama tidak mau menyebarkan ilmunya akan dilaknat Allah. ''Mbah Hinan selalu berupaya berjuang melalui bidang apa pun, termasuk ketika memilihkan calon gubernur,''ujarnya. (H24-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA