| Kamis, 04 Oktober 2007 | NASIONAL |
HIBURAN Kisah Pengisi Acara SahurJeda Syuting untuk Tidur dan Sahur
JAMAKNYA setiap ramadan tiba, hampir semua stasiun televisi berlomba-lomba menggelar acara pengantar santap sahur. Setiap harinya, stasiun televisi mulai menayangkan acara itu sekitar pukul 02.30 hingga tiba saat imsak atau bahkan shalat subuh. Rata-rata acara pengantar santap sahur diisi dengan ragam variety show berbau komedi. Para pengelola stasiun televisi berkilah, pada saat itu umat Islam sebenarnya tentu masih mengantuk, dengan menyaksikan acara berbau komedian, diharapkan santap sahur akan lebih ceria, kantuk pun hilang. Di stasiun TPI misalnya memilih acara ''Komedi Putar'' dengan bintang antara lain Cagur dan SOS. RCTI menyajikan Star (Stasiun Ramadan) dengan bintang Eko Patrio dan kawan-kawan. Trans TV menayangkan ''Saatnya Kita Sahur'' dengan bintang Komeng dan Adul, sementara Trans7 memilih ''Empat Mata Sahur.'' Sedikit berbeda adalah Indosiar yang tahun ini memilih Tasahur, ''Pentas Saat Sahur''. Berupa variety show keagamaan yang diisi oleh para abege dengan presenter Indra Bekti serta Natalie Sarah. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, SCTV kali ini menayangkan sinekuis ''Para Pencari Tuhan'' (PPT) dengan bintang Bajaj, Deddy Mizwar, Agus Kuncoro dan Zaskia A Mecca. Sinekuis PPT bisa dibilang menjadi sebuah oase di tengah gempuran tayangan komedi yang nyaris seragam di semua stasiun televisi. Sebagai sebuah sinetron, PPT dikemas sedemikian rupa, sehingga terkesan ringan namun tetap sarat makna. Sinetron PPT Bila hampir semua tayangan sahur ditayangkan langsung, tidak begitu dengan PPT. Di samping kuis yang dibawakan langsung oleh trio Bajaj, Aden, Isa dan Melky, pemirsa dipersilakan menyaksikan sinetronnya yang menjadi bahan pertanyaan kuis. ''Kalau pemain lain selesai syuting bisa istirahat, kami bertiga nggak begitu. Selesai syuting sekitar jam 23.00, kami langsung menuju studio Penta di Kebon Jeruk, sementara syuting di Jatiasih, Bekasi. Jadi setiap hari selama ramadan ini kami menempuh perjalanan dari ujung timur Jakarta menuju ujung barat Jakarta,'' kata Isa, pemeran Juki dalam PPT itu. Mereka hanya sempat beristirahat sepanjang perjalanan yang memakan waktu lebih dari satu jam itu. Setiba di studio Penta mereka sudah harus segera mempelajari skrip kuis yang telah disiapkan. Pukul 03.00 acara dimulai hingga sekitar pukul 05.00. ''Kami makan sahur di sela-sela kuis,'' tambah Aden. Selesai acara itu, mereka langsung meluncur menuju lokasi syuting PPT. Tiba di lokasi sekitar pukul 06.30. ''Tidur sebentar, nggak bakalan bisa lama-lama deh tidur di lokasi syuting. Soalnya nggak lama, Pak Haji Deddy pasti akan segera menyapa kami dengan kata-kata yang membangun. Bangun! Bangun! Tepat pukul 09.00, syuting sudah harus dimulai lagi,'' tambah Melky. Begitulah keseharian mereka selama puasa. Tapi mereka tetap bersemangat. ''Ini sinetron pertama kami, apalagi kemarin-kemarin kami kan masih pengangguran,'' aku Melky yang mengaku masih terikat kontrak dengan TPI hingga tahun 2008. Selama ini mereka lebih banyak tampil off air. Tak berbeda jauh dengan personel Bajaj adalah Tukul Arwana dan pengisi acara sahur lainnya. Tukul sibuk di bulan ramadan ini. Selain harus tetap syuting untuk ''Empat Mata'' tayangan reguler, ia juga harus syuting untuk ''Empat Mata Sahur''. Belum lagi tampil pula di Star milik RCTI. ''Ya begitulah. Selesai syuting 'Empat Mata', saya langsung ke studio RCTI. Jam 01.00 sudah harus siap karena harus mempelajari skrip. Selesai acara sahur pulang sebentar, terus syuting film,'' ujar Tukul yang masih merahasiakan judul film yang dilakoninya. Bagi Tukul bulan ini tak berbeda dengan bulan lain, tetap bekerja keras dan profesional. Rata-rata para pengisi acara sahur sudah harus tiba di studio tengah malam. Sembari dirias, mereka mempelajari skrip yang harus mereka tampilkan dini hari itu. Selesai membaca secara perorangan, mereka lalu berembug mengenai bloking atau plot acara. Improvisasi menjadi bagian penting sebuah tayangan komedi. Jam terbang menjadi masalah utama sukses tidaknya sebuah acara. Di sela-sela menghibur pemirsa, mereka menyempatkan diri bersantap sahur. Ibadah jalan terus, rezeki pun mengalir lancar ke pundi-pundi mereka.(Tresnawati-77) | ||||