logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 04 Oktober 2007 NASIONAL
Line

Geledah Rumah, Tangkapi Oposan


SM/Reuters REKAMAN PERTEMUAN: Stasiun televisi Myanmar Rabu kemarin menyiarkan rekaman pertemuan Utusan Khusus PBB Ibrahim Gambari (kiri) dengan Jenderal Senior Than Shwe (kanan) di ibu kota Naypyidaw.(25)

YANGON - Junta Myanmar Rabu kemarin menggeledah rumah-rumah dan menangkapi lagi orang-orang yang dituduh terlibat demonstrasi. Penangkapan itu berlangsung hanya selang beberapa jam setelah Utusan Khusus PBB Ibrahim Gambari pulang dari misinya di Myanmar.

Sedikitnya delapan truk penuh berisi para tahanan terlihat melaju dari pusat kota Yangon. Di sebuah rumah dekat Pagoda Shwegadon, hanya ada seorang gadis berusia 13 tahun. Orang tua gadis itu ikut ditahan oleh militer.

''Mereka menyuruh saya untuk tidak lari karena mereka akan kembali lagi,'' kata dia. Pada tengah malam itu, tentara menyuruh orang-orang ke luar dari rumah dan kemudian banyak di antaranya dibawa pergi dengan truk militer.

Tindakan penumpasan oleh militer itu terus berlanjut kendati Gambari telah bertemu Jenderal Senior Than Shwe. Pertemuan itu sempat memunculkan harapan bahwa Than Shwe bakal melonggarkan cengkeraman kerasnya serta membuka pembicaraan dengan tokoh oposisi Aung San Suu Kyi.

Singapura, selaku ketua ASEAN, menyatakan cukup berlega hati dengan akses dan kerja sama dari pemerintahan Myanmar yang diberikan kepada Gambari. Utusan PBB itu kemarin singgah di Singapura sebelum melanjutkan perjalanan ke New York. Tidak ada penjelasan apapun mengenai hasil pertemuan Gambari dengan Than Shwe. Sumber PBB mengatakan, Gambari akan terlebih dulu melaporkan hasil pertemuan itu kepada Sekjen PBB Ban Ki-moon sebelum memberikan keterangan kepada publik. Dia dijadwalkan kembali ke Myanmar pada awal November.

Suasana Teror

Sejauh ini, belum ada tanda-tanda keberhasilan misi Gambari serta tekanan internasional untuk mengubah kebijakan keras Myanmar. Junta dikenal tidak bersedia tunduk pada tekanan internasional serta jarang menerima kedatangan para pejabat PBB.

''Saya tidak berharap banyak dari pertemuan itu. Pemimpin junta sedemikian kukuh berpegang pada pandangan mereka sendiri sehingga pembicaraan apapun tak ada gunanya,'' kata David Steinberg, pakar mengenai Myanmar dari Georgetown University.

''Mereka akan mengatakan sedang dalam proses menuju demokrasi, jadi apa keinginan kalian?'' tambahnya.

Junta berkilah bahwa aksi protes yang dipelopori para biksu itu ditanggapi dengan seminimal mungkin penggunaan kekuatan militer. Menurut keterangan versi pemerintah, situasi di Yangon dan kota-kota lain sudah berangsur normal.

Militer menampik pemberitaan yang menyebutkan jumlah korban tewas jauh lebih banyak daripada versi pemerintah. Namun, Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer yakin jumlah korban jauh lebih banyak.

''Faktanya memang sulit diketahui. Namun, tampaknya jumlah korban yang disebutkan kurang dari 30 orang tampaknya terlalu dikecilkan,'' kata dia.

Sementara itu, 80 biksu dan 149 biksuni yang ditahan telah dibebaskan kemarin. Lima wartawan lokal, seorang di antaranya koresponden harian Jepang Tokyo Shimbun, juga dibebaskan.

Junta juga mengerahkan kelompok preman ke rumah-rumah untuk mencari para biksu yang bersembunyi. Diplomat Barat mengatakan, serbuan itu sengaja untuk menciptakan suasana teror.

Di Jenewa, Dewan Hak Asasi Manusia PBB, termasuk China, mengutuk represi kejam oleh junta. Dewan mendesak para jenderal mengizinkan Utusan Khusus bidang HAM PBB Paulo Sergio Pinheiro untuk berkunjung ke Myanmar. (rtr-gn-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA