logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 03 Oktober 2007 SALA
Line

SUBOSUKOWONOSRATEN

Dam Colo Ditutup

KLATEN - Penutupan Dam Colo di Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo selama sebulan sejak 1 Oktober lalu, tidak akan berdampak besar bagi 1.888 ha sawah di dua kecamatan - Cawas dan Karangdowo - di Klaten.

Kasubdin Pertanian Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPDKP) Klaten Ir Wahyu Prasetya mengatakan, penutupan dam tersebut merupakan rutinitas tiap tahun.

"Pasti ada pengaruhnya bagi ketersediaan air sawah-sawah, tetapi dampaknya tidak terlalu besar bagi dua kecamatan tersebut," ujar dia, Selasa (2/10) kemarin.

Pasalnya, separo lebih areal persawahan di Cawas dan Kaeangdowo saat ini ditanami palawija - bukan padi - yang tidak memerlukan banyak air. Apalagi, para petani sudah memanen kacang hijau dan kedelai.

Jika penutupan Dam Colo berlangsung sebulan, waktu sebulan itu bisa digunakan untuk menyelesaikan panen palawija, sekaligus persiapan tanam padi. Pada awal November mendatang, hujan diprediksikan mulai turun.

Jadi, penutupan itu bagi sebagian petani di Klaten bukan masalah. Meskipun demikian, dia mengakui ada beberapa wilayah yang masih menanam padi, sekalipun tidak banyak.(H34-58)

Lima Jembatan Alih Status

SUKOHARJO - Lima jembatan berstatus milik desa diusulkan diubah menjadi jembatan kabupaten. Pasalnya, kondisi kelima jembatan itu memprihatinkan.

Jembatan desa di samping Pasar Gawok dan Mancasan merupakan jembatan gantung peninggalan jaman Belanda.

Sedangkan tiga jembatan lain di Gentan, Kertonatan dan Plosokuning berupa jembatan sesek terbuat dari bambu, yang dibangun secara swadaya masyarakat.

Ketua Komisi III DPRD Sukoharjo Jaka Wuryanta, Selasa (2/10) kemarin mengatakan, usulan perubahan status itu berasal dari masyarakat melalui komisi yang dipimpinnya.

Menurutnya, satus jembatan perlu diubah, karena dana Bagi Hasil Bantuan Keuangan (BHBK) dan Alokasi Dana Desa (ADD) tidak mungkin digunakan untuk membangun jembatan tersebut. (H44-67)

Predikat Kota Solo Bertambah

SOLO- Pemanfaatan city walk yang belakangan diubah namanya menjadi ''Srawung Warga'' diharapkan akan melengkapi predikat kota Solo. Selama ini Solo mempunyai sebutan ''Kota Batik'', ''Kota Budaya'', ''Kota Dagang'', ''Kota Vokasi'', kota yang tidak pernah tidur pada malam hari, dan sebutan lainnya.

Dalam peresmian city walk, Senin (1/10) malam, Sekda Provinsi Jateng, Mardjijono ketika membacakan sambutan Gubernur Ali Mufiz mengemukakan, city walk diharapkan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat Solo. ''Secara ekonomi, diharapkan city walk bisa menjadi tempat para pedagang kecil untuk berjualan,'' kata dia memberi contoh.

Sementara itu, peresmian city walk berlangsung sangat meriah. Masyarakat tumpleg bleg menyaksikan peresmian itu. Peresmian diawali dengan kedatangan Wali Kota, Joko Widodo bersama rombongan yang naik di atas gerbong Kereta Api jurusan Solo-Wonogiri yang biasa melintas di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. (G8-42)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA