logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 03 Oktober 2007 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Kenaikan Inflasi Mulai Perlu Diwaspadai

Kendati Menteri Keuangan Sri Mulyani tetap merasa tenang karena kenaikan laju inflasi masih dalam batas toleransi, namun mulai perlu diwaspadai karena dalam bulan-bulan seperti ini hingga akhir tahun kecenderungan kenaikan harga-harga barang dan jasa akan terus terjadi. Artinya tekanan terhadap inflasi menguat sehingga kita perlu mengantisipasi. Pendek kata kewaspadaan terhadap inflasi tak boleh melemah. Data menunjukkan laju inflasi bulan September mencapai 0,8 persen atau naik cukup tinggi dibanding Agustus yang hanya 0,75 persen. Padahal sebelumnya laju inflasi per bulan hanya berkisar 0,4 - 0,5 persen saja.

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat laju inflasi year on year pada bulan September lalu sebesar 6,9 persen. Menurut Sri Mulyani semua itu masih bisa diterima karena memang kita mematok sebesar 6 persen dengan plus minusnya 1 persen. Tetapi bagaimana dengan situasi tiga bulan terakhir apakah bisa dikendalikan sehingga tak sampai mencapai angka lebih tinggi lagi. Kita sepakat inflasi merupakan indikator ekonomi yang penting dan sekaligus sensitif. Tidak ada artinya laju pertumbuhan didorong kalau pada saat yang sama inflasi juga naik. Di samping itu berbagai implikasi selalu menyertai tingginya inflasi.

Dalam beberapa pekan terakhir terjadi gejala penguatan rupiah yang dipicu masuknya modal asing dari luar dan juga melemahnya dolar akibat kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed menurunkankan sukubunga. Tetapi sayang gejala positif itu tak bisa serta merta mendorong penurunan BI rate karena memang inflasi juga cenderung naik. Sehingga boleh dikatakan Indonesia belum dapat menikmati dampak yang ditimbulkan dari perubahan pasar uang di tingkat global itu. Jadi inflasi memang masih menjadi faktor kunci. Maka wajar apabila segala cara dan upaya haruslah dikerahkan untuk mengeremnya.

Bulan-bulan September dan Oktober jelas merupakan bulan yang rawan. Semua mafhum dalam suasana Ramadhan dan perayaan Idul Fitri, masyarakat selalu meningkatkan konsumsinya. Baik menyangkut kebutuhan pokok sampai membeli mobil atau rumah baru. Di satu sisi jelas ini menjadi dorongan bagi pertumbuhan karena barang-barang semakin laku namun di sisi lain pertambahan uang beredar dan permintaan di pasar yang meninggi mendorong kenaikan harga. Baik yang naik rasional karena faktor cost push maupun yang agak tidak wajar karena spekulasi. Karena perilaku masyarakat pun terkadang dipengaruhi faktor psikologis.

Bagi pemerintah komoditi penting dan pokok bagi masyarakat, pada masa-masa seperti ini haruslah dijaga benar kalau perlu dengan melakukan operasi pasar. Juga kelancaran pasokan barang akan menentukan seberapa kuat kenaikan harga terjadi. Sayangnya tak semua bisa dipengaruhi dan ditentukan oleh pemerintah. Di sektor perdagangan misalnya, banyak spekulasi terjadi karena besarnya peran pedagang dan luasnya jaringan distribusi. Namun apabila harga bahan-bahan kebutuhan pokok minimal bisa dikendalikan sangatlah berpengaruh. Apalagi kalau masyarakat juga membantu dengan tidak ikut-ikutan berspekulasi.

Benar bila dikatakan laju inflasi tidak perlu ditakuti karena perekonomian yang tanpa inflasi tidaklah justru biasanya lesu. Inflasi adalah bagian yang tak terpisahkan dari pertumbuhan. Hanya saja harus ada kendali sehingga tidak melonjak terlampau tinggi karena hal itu akan menurunkan daya beli masyarakat dan berarti mengurangi tingkat kesejahteraannya. Patokan inflasi sekitar 6 persen tetaplah harus dipegang sehingga pemerintah tak boleh tinggal diam dalam tiga bulan ke depan. Apalagi menjelang Natal dan Tahun Baru kecenderungan peningkatan konsumsi masyarakat juga terjadi lagi termasuk alokasi biaya untuk berlibur dan berwisata.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA