logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 03 Oktober 2007 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Deklarasi Capres Sutiyoso, Apa Maknanya?

Satu nama lagi di bursa calon presiden (capres). Itulah setidak-tidaknya makna deklarasi Sutiyoso, yang pada 7 Oktober nanti akan mengakhiri jabatan sebagai Gubernur DKI Jakarta. Proklamasi "Sutiyoso for President" Senin lalu menambah jumlah nama yang diperkirakan bakal maju dalam pemilihan presiden 2009. Yang lain masih berkisar pada tokoh-tokoh lama, yakni Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden M Jusuf Kalla, Ketua Umum PDI-Perjuangan Megawati Soekarnoputri, dan Ketua Umum Partai Hanura Wiranto. Pencapresan nama-mana tersebut diperkirakan hanya tinggal menunggu waktu.

Kecuali langkah Sutiyoso, sejauh ini bursa capres masih berkesan "beku", belum memunculkan figur alternatif yang lebih menyegarkan. Bisa jadi pada level cawapres-lah, nantinya bakal muncul nama baru. Dengan figur lama dan sudah sangat dikenal, pada sisi tertentu seolah-olah kita akan kembali berjalan dengan harapan-harapan yang tidak diperbarui, walaupun tentu dengan janji-janji baru. Tingkat keterujian mereka, secara awam akan diukur oleh rakyat sebagai pemberi suara dengan apa yang sekarang dirasakan secara nyata: adakah perbaikan taraf hidup, kesejahteraan, serta penyelesaian berbagai problem bangsa?

Kita sering terkooptasi oleh opini, figur baru juga tidak serta merta menjamin perbaikan, karena ada faktor pengalaman dan kebelumterujian. Tetapi apakah opini demikian itu tidak dikembangkan oleh mereka yang secara status quo diuntungkan oleh eksistensi figur-figur stok lama? Nyatanya, pemunculan tokoh yang lebih segar, dengan gagasan-gagasan alternatif memang masih harus ditunggu. Apakah karena kita nyata-nyata minim stok pemimpin? Atau partai-partai politik kurang memberi peluang bagi munculnya pencerahan dalam hal figur, dan selalu lebih nyaman menoleh ke tokoh-tokoh lama?

Keberanian Bang Yos untuk tampil "menantang" figur-figur stok lama, tentulah didasari pertimbangan merasa telah cukup teruji dalam memimpin Ibu Kota dalam dua periode. Pendekatan-pendekatan kepemimpinannya selama ini memuat model gebrakan, walaupun dalam beberapa hal sering dinilai kontroversial. Terlepas dari plus-minus performa personal maupun leadership-nya, putra Gunungpati, Kota Semarang itu dikenal sebagai sosok yang tegar dan berani. Namun kita tidak dalam kapasitas untuk menilai kualitas kepemimpinannya sebagai gubernur, apakah cukup atau tidak cukup menjadi modal pencapresannya.

Kini yang sangat dirasakan oleh rakyat adalah tuntutan peningkatan taraf hidup secara konkret. Kebutuhan-kebutuhan dasar makin tak terjangkau ketika harga-harga cenderung tak terkendali. Duet SBY - JK sejauh ini masih banyak mendapat sorotan lebih banyak tebar pesona di balik persoalan-persoalan krusial yang belum tertuntaskan. Pekerjaan rumah yang menantang, misalnya penyelesaian tragedi lumpur panas Lapindo, bencana alam di berbagai daerah yang antara lain terpicu oleh tidak terkendalinya pembalakan hutan secara liar, serta angka kemiskinan yang paralel dengan keterbatasan penyediaan peluang kerja.

Kita belum menangkap harapan lain yang lebih kuat dari deklarasi Sutiyoso kecuali baru pada tahap memperbanyak alternatif figur. Rakyat membutuhkan jawaban dari harapan-harapan yang pernah dirajut lewat janji perubahan pasangan SBY - JK. Dinamika politik dan realitas sosial rakyat akan terus bergerak. Kalau selama sisa waktu kepemimpinannya duet pucuk pimpinan nasional yang sekarang mampu menumbuhkan kepercayaan rakyat lewat perubahan-perubahan secara nyata, bukan tidak mungkin rakyat tidak akan berpaling kepada siapa pun nama yang kelak muncul sebagai pemberi alternatif harapan.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA