logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 03 Oktober 2007 NASIONAL
Line

Kim Jong-il Sambut Langsung Presiden Korsel

SEOUL - Pemimpin Korea Utara Kim Jong-il di luar dugaan menyambut secara pribadi kunjungan Presiden Korea Selatan Roh Moo-hyun di Pyongyang, kemarin. Sambutan Kim itu dianggap sebagai isyarat positif bagi konferensi tingkat tinggi yang bertujuan mengakhiri permusuhan kedua negara.

Dengan raut wajah kaku dan tanpa senyum, Kim berjabatan tangan dengan Roh di Pyongyang.

Puluhan ribu orang melambaikan karangan bunga plastik yang melambangkan bunga nasional Korut bernama Kimjongilia. Semula, Roh dijadwalkan hanya disambut oleh kepala negara Kim Yong-nam, bukan Kim Jong-il.

''Ini merupakan isyarat bagus,'' kata seorang staf kepresidenan Korsel kepada AFP di Seoul. ''Dengan sambutan Kim Jong-il secara pribadi, pihak Korut telah menunjukkan kesungguhan mereka mengenai konferensi itu.''

Dalam pernyataannya, Roh memuji upaya rekonsiliasi kedua negara itu yang secara teknis masih berperang. Perang Korea 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, tanpa kesepakatan damai.

Media pemerintah Korut menyatakan, Pyongyang diliputi kegembiraan layaknya dalam suasana pesta.

Lintasi DMZ

Dalam kunjungannya ke Korut ini, Roh juga membuat sejarah sebagai presiden Korsel pertama yang berjalan kaki menyeberangi zona demiliterisasi (DMZ).

''Saya sekarang melintasi garis terlarang ini,'' kata Roh. ''Setelah saya pulang, lebih banyak orang akan melakukan hal serupa. Maka, garis pemisah ini akhirnya hilang dan terwujudlah perdamaian serta rekonsiliasi.''

Setelah melewati garis pemisah tersebut, Roh dan istri disambut dua perempuan berbusana tradisional Korea hanbok. Pemimpin Korsel itu menerima karangan bunga Kimjongilia.

Roh dijadwalkan berunding dengan Kim Yong-nam, sebelum dia mengadakan pertemuan dengan Kim Jong-il, Rabu ini.

Media melaporkan, kedua pemimpin akan membahas proyek bernilai miliaran dolar. Roh mengatakan akan memprioritaskan isu perdamaian permanen semenanjung Korea dalam pertemuan itu.

Secara teknis, kesepakatan damai kedua Korea itu juga perlu ditandatangani Amerika Serikat dan China.

Sebab, Amerika ikut berperang membela Korsel dalam Perang Korea, sementara China membantu Korut.(afp-ben-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA