| Rabu, 03 Oktober 2007 | MURIA |
WORO WOROPetani Tunggu Gelontoran AirPATI - Para petani di sepanjang hulu dan hilir Kali Juwana, menunggu gelontoran air dari Waduk Kedungombo. Air tersebut sangat diharapkan petani yang saat ini masih menanam padi namun terancam kekeringan, terutama di Kecamatan Margorejo dan Pati. Di Kecamatan Pati, beberapa petani di Desa Semampir dan Dengkek, sudah ada yang mulai menunggu di pinggir sungai. Tujuannya, bila sewaktu-waktu air datang, tinggal menghidupkan pompa air untuk menaikkan air. Hal tersebut dibenarkan Harjo (51), salah seorang petani di Desa Semampir. Petugas Subdin Pengairan Diskimpras Kabupaten Pati, Nardi ST mengatakan, saat ini air Waduk Kedungombo hanya digelontorkan 25 meter kubik/detik.Itu sekadar untuk membasahi saluran.Proses pembasahan akan berlangsung selama 15 hari. "Dengan demikian, air waduk itu sampai di Pati, diperkirakan sekitar Sabtu (6/10) mendatang." (ad-54) Titik Macet Mulai Diantisipasi JEPARA - Pemkab dan Polres Jepara bekerja sama untuk mengantisipasi titik rawan kemacetan di jalan utama Jepara, mulai Welahan hingga Keling. Selain mulai mendirikan posko, juga mengantisipasi terjadinya kecelakaan. "Kami mulai mendirikan posko-posko di beberapa titik rawan macet," kata Kapolres Jepara AKBP Pristio Dwi Antono melalui Kasat Lantas AKP V Thirdy Hadmiarso SIK, Selasa (2/10). Kendati tidak menjadi jalur utama mudik, tetap ada beberapa titik rawan macet. Dia mencontohkan, titik rawan itu adalah dekat Pasar Pecangaan, kawasan Gotri Welahan, serta jalan dekat terminal dan Pasar Bangsri. Pantauan Suara Merdeka di kawasan dekat Gotri titik paling menjadi langganan macet ada di jalan raya Welahan di Desa Brantak Sekarjati. Selasa kemarin, kemacetan terjadi hampir satu kilometer. Penyebabnya, para karyawan pabrik rokok yang keluar dari perusahaan di dekat jalan raya. (H15-54) Ditunggu, OP Minyak Goreng Subsidi BLORA - Operasi pasar (OP) minyak goreng curah bersubsidi dari pemerintah tak kunjung dilaksanakan. Padahal, kegiatan itu sebelumnya diagendakan minggu kedua dan keempat bulan Ramadan. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Prayitno melalui Kasubdin Perdagangan Pujianto mengemukakan, hingga kini pihaknya masih menunggu penetapan jadwal OP dari Disperindag Provinsi Jateng. Menurut dia, panitia pelaksana OP di Blora telah siap termasuk jika harus menanggung biaya transportasi, pengepakan hingga menjualnya. "Berdasarkan informasi yang kami terima, belum ada kabupaten dan kota di Jateng yang sudah menggelar OP minyak goreng bersubsidi. Yang ada, baru pemberitahuan kuota untuk setiap daerah," ujar Pujianto kemarin. (H18-54) Pemilik Rumah Adat Dapat Sertifikat KUDUS - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Diparbud) Kudus akan memberikan sertifikat kepemilikan benda cagar budaya (BCB) kepada pemilik rumah adat Kudus. Pemberian sertifikat itu merupakan salah satu cara untuk mencegah penjualan BCB kepada pihak lain. Kalau tetap dijual, Diparbud masih bisa mengetahui ke mana rumah adat itu akan dibawa. Kepala Diparbud Brata Subagya menyatakan itu setelah bertemu dengan beberapa camat dan kepala desa di kantornya, Selasa (2/10). Brata berharap, camat dan kepala desa atau kelurahan ikut membantu dinasnya untuk melaksanakan pendataan ulang keberadaan rumah adat Kudus. Dari pertemuan itu, diyakini jumlah rumah adat Kudus masih cukup banyak. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng pada tahun 2003 lalu mencatat, rumah adat Kudus tinggal 33 buah. Namun berdasar rapat koordinasi kemarin, jumlahnya diperkirakan bisa mencapai dua kali lipat. (H35-76) Air Irigasi untukKeperluan Rumah Tangga KUDUS- Warga yang berada di sekitar jaringan irigasi Kedungombo menganggap penggelontoran yang mulai dilakukan Senin (1/10) lalu banyak memberi manfaat. Selain untuk kepentingan pertanian, mereka juga dapat menggunakan untuk keperluan sehari-hari. Banyak cara yang dilakukan warga untuk memanfaatkan kiriman air dari waduk tersebut. Salah satunya masyarakat Desa Sambung, Kecamatan Undaan, Selasa (2/10) kemarin menyalurkan air dari jaringan irigasi ke selokan yang ada di sekitar rumah mereka, melalui pipa atau selang plastik. ''Kami gunakan selang plastik untuk menyedot air dari jaringan irigasi untuk dialirkan ke selokan yang ada di dekat kampung,'' kata seorang warga, Sujadi. Caranya, air dialirkan ke selokan dengan pipa paralon atau selang plastik. Diharapkan genangan di selokan tersebut akan merembes ke sumur warga yang sudah mulai mengering. (H8-19) |