| Rabu, 03 Oktober 2007 | SEMARANG |
Disediakan, 276 Tangki Air Bersih
UNGARAN - Sebanyak 12 dari 19 kecamatan di Kabupaten Semarang mengajukan permintaan bantuan air bersih. Hal ini menyusul datangnya musim kemarau yang mulai terasa sejak September. Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Drs Pudji Hutomo menyampaikan hal itu, Selasa (2/ 10). ''Pada tahun ini Pemkab Semarang menyediakan 276 tangki bantuan air bersih. Dana yang dianggarkan untuk kegiatan ini sebesar Rp 50 juta. Jika masih kurang akan diambilkan dari dana tidak terduga bupati,'' kata Pudji Hutomo kemarin. Sejak tanggal 2 hingga 29 Oktober (dikurangi Liburan bersama PNS 12-16 Oktober-Red), Pemkab berencana mengirimkan bantuan air sebanyak 86 tangki. Ke-12 kecamatan yang mendapatkan bantuan tersebut adalah Bawen, Pabelan, Ungaran Timur, Bancak, Sumowono, Suruh, Kaliwungu, Jambu, Pringapus, Bringin, Tuntang, dan Bandungan. Dia berharap, perusahaan swasta juga turut membantu penyaluran air bersih bagi warga yang sangat membutuhkan. Droping air dari Pemkab Semarang untuk kali pertama diberikan kepada warga di Dusun Semanding dan Jambe, Desa Candi Garon, Kecamatan Sumowono pada Selasa (2/ 10) sore. Secara simbolis Wakil Bupati Semarang Hj Siti Ambar Fathonah menyodorkan selang air pertama untuk diberikan warga. Kepala Kesbang Linmas dalam hal ini hadir sebagai ketua harian Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana, yang didukung Dinkesos KB dan Bagian Sosial Setda. Tahun Sulit ''Satu dusun mendapat jatah dua tangki. Jumlah tersebut memang belum mencukupi, tapi daerah lain juga harus mendapat air,'' terangnya. Permintaan bantuan ini menurutnya bukan sebuah keterlambatan. Karena warga memang saat ini baru benar-benar membutuhkan. Pudji Hutomo menegaskan, tahun ini merupakan tahun sulit. Sebab biasanya Pemkab mendapat bantuan air bersih dari Pemprov. ''Tapi hingga sekarang belum ada tanda-tanda adanya bantuan,'' ungkap dia. Menurut dia, problema kekurangan air bersih saat kemarau merupakan masalah tahunan, sehingga pihak desa juga harus lebih kreatif mengupayakan ketersediaan air. ''Saya berharap dana alokasi umum desa (DAUD) bisa digunakan membuat sumur bor. Jadi dana desa tersebut tidak hanya berorientasi untuk pembangunan fisik,'' tandasnya. Dijelaskan, berdasar hasil inventarisasi, hampir semua kecamatan di kabupaten ini terancam kekeringan. (H14-16) |