logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 03 Oktober 2007 SEMARANG
Line

Jipin Modern, Meliuk tapi Tak Seronok

  • Oleh Fani Ayudea

BUNYI rebana dan kentrung yang dipukul, beradu dengan salawat badar ternyata menciptakan harmoni tersendiri nan syahdu. Tak hanya enak didengar tetapi kalbu pun ikut tersentuh. Tidak hanya orang tua yang menyukai musik bernapaskan Islam ini. Lihat saja ratusan orang tua dan muda yang memadati halaman Masjid Agung Jateng. Mereka ikut bergoyang, ada yang mengangkat tangan di atas kepala bahkan ada pula yang sekedar bertepuk tangan mengikuti irama saat grup rebana dari Kecamatan Gayamsari tampil membawakan salawat badar dalam ''Festival Rebana dan Jipin'' di halaman Masjid Agung Jateng, Minggu (30/9).

Festival yang diprakarsai PT Indofood Sukses Makmur itu, diikuti ibu-ibu PKK dari 16 kecamatan Se-Kota Semarang. Mereka mencoba mengkreasikan antara musik khas Timur Tengah dengan modern. Tak cuma alat-alat perkusi yang dibawa peserta, ada pula organ yang mengiringi. Sehingga terciptalah musik jipin rasa modern. Lagu-lagu yang dibawakan tak melulu berbahasa Arab. Ada pula tembang Caping Gunung berbahasa Jawa namun syairnya diubah oleh ibu-ibu dari Kecamatan Semarang Selatan.

Bapake solat

Ibune solat

Putra-putrane solat

Sekeluarga pada solat

Ayo podo dilakoni khusyuk

Sing tenanan

Bakal tentrem lahir batin

Begitu pula dengan kelompok rebana dari Kecamatan Banyumanik. Durasi sepuluh menit yang diberikan dimanfaatkan betul untuk membawakan dua lagu, yaitu Istighfar dan Manungsa Ing Ndonya. "Kalau lagu Istighfar itu murni berbahasa Arab. Tapi kalau yang kedua, modifikasi antara irama lagu lama dan rebana," jelas Retno, salah satu vokalis kelompok rebana Kecamatan Banyumanik.

Meski ada beberapa peserta yang membawakan lagu sambil duduk, namun jipin (joget) mereka tampak rampak dan padu. "Siapa pun yang mendengar, pasti tergoda ikut bergoyang. Meliuk-liuk tapi tak seronok," kata Suparman warga Sendangguwo.

"Jipinnya sangat indah,'' ucap Renata, siswi SMA Negeri 2 Semarang.

Ya, musik memang universal. Rebana pun tak melulu harus menggunakan syair berbahasa Timur Tengah. bahkan tak melulu juga membuat anak ABG (anak baru gede-Red) tak bisa menikmati lagu berisi puji-pujian tersebut.

Meski rebana bukan kesenian asli Indonesia namun musik yang lebih menonjolkan suara rampak dari keteplak, jidor, genjer, dan icik-icik tersebut merupakan musik bernapaskan Islam yang dibawa dari Timur Tengah. Modernisasi membuat rebana dilengkapi dengan bunyi gitar, rebab, organ, dan drum sehingga suaranya terdengar lebih komplet dan dinamis. (56)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA