logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 03 Oktober 2007 SEMARANG
Line

Mengenal Allah melalui Jagat Raya

BISAKAH dibayangkan hanya dengan menonton tayangan proses terbentuknya matahari, langit dan bumi, ratusan orang guru menangis bersama?Ya, di pelatihan Emotional Spiritual Quotient (ESQ), itu bisa terjadi.

Sekitar 800 guru dari berbagai sekolah di Jawa Tengah menyaksikan struktur jagad raya, serta proses penciptaannya yang luar biasa, melalui petualangan angkasa di bawah bimbingan trainer ESQ Novriza, Regi Latief dan Ramdani.

Empat buah layar ukuran 2 x 3 meter yang terpampang di Krakatau Ball Room Hotel Horison Semarang, secara detail menjelaskan teori terbentuknya tatanan tata surya mulai dari yang dipaparkan Galileo Galilei hingga teori Big Bang.

Semua ada disana. Tayangan itu menceritakan lengkap bagaimana galaksi, cluster galaksi, serta jagat raya dengan fungsi dan segala keteraturannya.

Tapi gara-gara tayangan itu, tiba-tiba saja para pahlawan tanpa tanda jasa itu merasa sebagai manusia yang amat sangat kecil dari sebuah alam raya yang diciptakan Tuhan yang Maha Besar. Tak kuasa menahan air mata, mereka pun menangis sembari mengucap Allahu akbar dan Astaghfirullah.

"Allaahu akbar... Allaahu akbar... Allaahu akbar.... astaghfirullahaladzim.... ampuni dosaku ya Allah," teriak seorang peserta seraya menangis.

Suaranya terdengar parau. Sembari menengadahkan tangan, mulutnya tak berhenti mengucapkan istighfar.

Kecerdasan Emosi

Begitulah pemandangan yang nampak tatkala para pendidik ini diajak jalan-jalan ke ruang angkasa yang menjadi bagian pelatihan ESQ Pendidikan, Selasa (2/10).

Mengajak peserta berjalan-jalan ke luar angkasa adalah satu dari serangkaian program ESQ Pendidikan yang digelar Forum Komunikasi ESQ Jawa Tengah. Tujuannya membentuk karakter tangguh, lewat cara memadukan konsep Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosi (EQ), dan Kecerdasan Spiritual (SQ).

Lantas mengapa para guru memerlukan pelatihan ini? Menurut koordinator peduli pendidikan ESQ Jateng, Ny Djoko Wahjudi, guru adalah ujung tombak pendidikan. Maka dalam mendidik, sikap guru diharapkan bisa lebih sabar. "Karena kecerdasan emosi dan pikiran guru menjadi contoh bagi anak didik," ujarnya.

Dalam pelatihan ini, para guru tersebut ditatar bagaimana lebih mengenal Allah dan mengolah spiritual serta potensi diri agar bermanfaat. "Diharapkan setelah mengikuti pelatihan ini cara mengajar para guru akan berubah, sehingga tak ada lagi anak-anak yang stres. Begitu juga gurunya," kata dia.(Fani Ayudea-18)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA