| Rabu, 03 Oktober 2007 | SEMARANG |
Berkah Obrolan Sahur RamadanBPR Tak Mengandalkan Canggihnya TeknologiPERKEMBANGAN Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang keberadaannya makin lama kian banyak dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Hal ini dapat dimengerti, karena pangsa pasar utama BPR adalah masyarakat menengah bawah. Meski demikian, bukan berarti kehadiran dan perkembangan BPR kemudian tidak layak untuk diperhitungkan. Justru menurut Kristian Hardianto, Komisaris Utama PT BPR Gunung Rizky, perkembangan BPR di Semarang yang berjumlah sekitar 400 unit semakin menggembirakan. Tak hanya di Semarang, secara umum perkembangan BPR di Jateng pun juga makin baik. "Meski jumlahnya dari tahun ke tahun tetap, perkembangannya menuju ke arah positif," ujarnya dalam acara Berkah Obrolan Sahur Ramadan 1428 H, Selasa (2/10), yang disiarkan langsung Suara Sakti 105,2 FM dari lobi Hotel Ciputra. Hadir pula Yance Chan, wealth motivator, dalam acara yang dimoderatori oleh Adi Ekopriyono itu. Sisi Kemanusiaan Kristian menjelaskan, sudah seperti menjadi fitrah dari BPR, bahwa mereka punya keunikan dalam hal pelayanan kepada para nasabah. Keunikan tersebut terletak pada fleksibilitas mereka dalam menggarap masyarakat ekonomi menengah bawah. "BPR justru punya potensi untuk lebih berkembang tanpa mengandalkan canggihnya suatu teknologi," katanya dalam acara yang didukung oleh Djarum Super, Telkom Flexi, Wawasan, Mandiri Prioritas, dan Garuda Indonesia. Pendengar bisa berinteraksi melalui SMS di (024) 70400 550 dan telepon interaktif di (024) 8447154. Yance Chan menambahkan, para pelaku BPR harus mampu mengoptimalkan kelebihan dan keunikan yang ada pada diri mereka. Artinya, memaksimalkan hal-hal yang berhubungan dengan sisi kemanusiaan. "Kehadiran pelaku BPR yang mau secara langsung datang menemui para nasabahnya, tanpa disadari telah menegaskan arti penting nguwongke konsumen," katanya dalam acara yang dipandu Ardi, host dari Suara Sakti. BPR tidak memandang nasabah dengan ukuran berapa uang yang akan mereka pinjam atau simpan, sehingga transaksi yang terjadi bukan sekadar transaksi keuangan, tetapi lebih dari itu yakni interaksi antardua insan yang saling membantu dan membutuhkan. "Kemauan pelaku BPR untuk berbincang sejenak ngaruhke nasabah ketika melayani akan memberi kesan yang mendalam." Dengan demikian tidak ada jarak antara penerima dan pemberi uang yang tanpa disadari akan menggiring kedua pihak kepada suatu ikatan seperti layaknya keluarga yang saling memberikan perhatian.(Fani Ayudea-18) |