| Rabu, 03 Oktober 2007 | BUDAYA |
Wisata Spiritual ala MamanBAKDA asar, di jalanan sebuah dusun pinggiran kota Semarang, puluhan anak dan beberapa remaja suntuk melukis. Mereka mempermainkan cat dengan sebatang kuas atau jari-jemari. Terkadang mereka mencipratkan atau menumpahkan begitu cat itu saja dari mangkuk kecil ke atas kain putih 50 meter yang tergelar di separo badan jalan. Sementara itu, di tepian jalan di seberang mereka, Maman Suparman sibuk menata "karya instalatif". Ya, Maman, yang baru saja memamerkan karya di Komunitas Sendangmulyo, asyik-masyuk "melukis" bersama anak-anak itu di Gebyog, Gunungpati, Minggu (30/9). Tanpa banyak kata, tanpa banyak sapa, dia merampungkan karyanya. Jadilah sebuah "lukisan alam": bonggol dan akar pohon yang dimakan rayap menyembul, terbingkai dalam kanvas yang tersobek di tengah. Namun, entah kenapa, sejenak kemudian Maman membongkar kembali karya itu dan membiarkannya menjadi karya tak rampung-rampung. Lupa Dahaga Dan, anak-anak itu? Ah, mereka tak peduli benar pada apa yang dilakukan Maman. Bahkan sepertinya mereka tak tahu pula apa yang diperbuat Maman. Mereka asyik dengan lukisan masing-masing, sembari bercanda dan tertawa-tawa. "Bah, Babahe, lihatlah, masa tulisan namaku lebih gede ketimbang lukisanku," celetuk Rizqi sembari menunjuk-nunjuk. Babahe, sapaan akrab Catur Widya Pragolopati, terkekeh. "La, siapa yang menulis?" sahut dia. "Mbak Asih kok Bah," ujar gadis kecil itu seraya kembali suntuk melukis kembang dan kupu-kupu. Lihatlah pula, Uus, Pakung, Heru, Siti, Luki dengan kelompok-kelompok kecil, teman sebaya masing-masing, terus melukis sambil bercanda. Tak terasa sore terus merayap. Dahaga dan haus saat berpuasa nyaris tak teringat lagi. Mereka masih asyik melukis. Namun, ketika dari masjid di ujung jalan berkumandang azan, mereka bergegas dan bersicepat ulang ke rumah masing-masing untuk berbuka. Ya, ya, itulah suasana dalam pembukaan pameran Maman di Gebyog -- kali ini dibingkai dalam tajuk "Rekreasi Spiritual". Pada malam harinya, sebagai rangkaian dengan pameran itu, di Masjid Miftakhul Huda digelar pengajian untuk memperingati Nuzulul Quran. Pengajian diisi Ustad Muhammad Irsyad dari Candisari, Semarang, yang menguraikan makna Alquran bagi kehidupan. Melukis bersama itulah, menurut Maman Suparman, justru menu utama pameran sejak 30 September sampai 9 Oktober itu. Maman memajang 37 karya, sebagian besar diniatkan sebagai karya kaligrafi, di pepohonan, di teras rumah penduduk, dan di serambi Masjid Miftakhul Huda. "Sungguh, saya merasa telah menemukan tempat yang amat pas bagi lukisan saya. Ya, di sinilah, di pepohonan dan di teras rumah penduduk inilah rumah bagi lukisan saya," ujar dia dengan mata berbinar. Justru di pedusunan semacam Gebyog, yang relatif jauh dari hiruk-pikuk hedonisme mal dan supermarket, itulah dia merasa asyik bisa melakukan wisata spiritual. Rekreasi dengan menggambar bersama anak-anak kampung di bawah keteduhan pepohonan, di tengah keteduhan bulan Ramadan. (Gunawan Budi Susanto-53) |