logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 02 Oktober 2007 NASIONAL
Line

profil

Panjang Usia dengan Hidup Bersahaja


SM/Sri Wahjoedi TIUP LILIN: Gesang meniup lilin pada perayaan ulang tahun ke-90 di Diamond Convention Hall, Jl Slamet Riyadi, Solo, semalam.(30)

Begitu banyak penghargaan yang telah diterimanya. Baik yang berwujud piagam maupun uang. Namun Gesang tetaplah Gesang, yang tak ingin menjadikan berkah itu kemudian mengubah sikapnya yang rendah hati. Pada 1 Oktober 2007, sang ''Bengawan Solo'' itu genap berusia 90 tahun. Berikut laporan Wisnu Kisawa dan Sri Wahjoedi.

RUANG tamu boleh jadi salah satu tempat yang menyita perhatian saat berkunjung ke rumah Gesang di Jalan Bedaya No 5, RT 01 RW III, Kampung/Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta. Bukan karena sekarang kondisinya sudah lebih baik setelah dibangun lima tahun lalu. Namun di sana ada puluhan piagam penghargaan yang memenuhi hampir seluruh dinding ruangan.

Itulah antara lain peneguhan tentang kapasitas maestro musik keroncong dari seorang Gesang Martohartono. Komponis yang tidak saja dikenal di Tanah Air, tetapi juga telah menembus hingga dunia internasional. Banyaknya piagam penghargaan tersebut, rasanya tak perlu diragukan lagi jika bicara siapa sosok Gesang.

''Ini saja sebenarnya masih banyak yang tidak ditempel, karena jumlahnya mencapai ratusan,'' katanya kepada Suara Merdeka kemarin.

Ratusan piagam? Benar. Di antaranya ada penghargaan Tanda Kehormatan dari Presiden RI (1992), lalu penghargaan sebagai pencipta lagu ''Bengawan Solo'' dari Gubernur Jawa Tengah. Ada lagi penghargaan sebagai insan musik dari berbagai lembaga baik di tanah air maupun dari luar negeri.

Nah, di antara penghargaan itu, ada sebuah piagam yang berkesan berbeda. Kertasnya sudah tampak kumal, bahkan telah robek di beberapa bagian. Dalam surat tertanggal 26 April 1950 dengan simbol palang merah itu di atasnya terdapat nama lembaga Komando Tentara Teritorial Kota Surakarta (Staff Civiel). ''Penghargaan ini saya dapatkan setelah saya dibebastugaskan dari anggota PMI (Palang Merah Indonesia) karena ingin kembali ke masyarakat,'' ujar dia.

Pantas saja kalau dia begitu fasih bercerita tentang sejarah lagu ''Jembatan Merah'' yang dia ciptakan 1942, di masa revolusi fisik. Juga ''Roda Dunia'' (1939) yang berkisah tentang meletusnya perang dunia dua.

Kefasihannya itu disebabkan dia secara langsung merasakan kancah pertempuran, meski tidak dengan memanggul senjata. ''Lagu 'Jembatan Merah' saya ciptakan setelah 'Bengawan Solo' pada 1940. Setelah itu menyusul karya saya yang lain seperti lagu keroncong asli 'Sapu Tangan' dan 'Tirtonadi'. Sedangkan yang langgam ada 'Caping Gunung' dan 'Ali-Ali','' katanya.

Tetap Bersahaja

Meski dunia telah mengakui karyanya, Gesang tetap tak berubah. Anak pasangan Martodiharjo dan Sumiyah yang sewaktu bayi diberi nama Sutadi ini tetap hidup bersahaja.

''Waktu kecil nama saya sebenarnya Sutadi. Namun karena sering sakit-sakitan, lalu diganti dengan nama Gesang. Dengan harapan seperti artinya (gesang dalam bahasa Jawa berarti hidup-Red),'' ujar dia.

Kesahajaan itulah salah satu yang membuat dia dikaruniai umur panjang. Bahkan masih terlihat kuat ketika usianya menginjak 90 tahun.

''Saya tak ingin terlalu ngoyo dalam hidup. Ada atau tidak, senang atau susah, ya dihadapi saja,'' ujar komponis yang pernah mengenyam Sekolah Jawa Angka Loro Muhammadiyah Solo itu.

Itukah yang menjadi kiat panjang umur? Di antaranya memang dari sikap yang demikian. Namun di luar itu, untuk urusan jasmaniah dia selalu jalan-jalan pagi setiap hari. ''Menikmati udara pagi. Kalau pas punya uang ya sambil mencari soto untuk sarapan. Namun kalau tidak ya cukup jalan-jalan saja,'' kata dia.

Sebuah sikap yang tidak ngoyo. Maka tak heran jika dia kemudian seperti kebal untuk menghadapi pahit getirnya hidup. Hidup prihatin dengan harus berpindah-pindah rumah. Juga ketika sampai sekarang dirinya tak memiliki keturunan untuk melanjutkan generasi, meski sebenarnya telah menikah.

''Tahun 1941 saya menikah dengan Waliyah. Namun 1962 bercerai tanpa dikaruniai seorang anak,'' ujarnya seraya menyebutkan bekas istrinya tersebut kabarnya sudah meninggal.

Bagaimana dengan kisahnya di dunia keroncong? Barangkali banyak yang tak mengira bahwa sejak dulu hingga sekarang Gesang tak bisa memainkan satu pun alat musik keroncong.

''Saya itu bisanya ya hanya bernyanyi. Kalau mencipta lagu, ya dengan menyesuaikan nada yang sudah saya hapal saja. Kalau harus memainkan alat musik saya tidak bisa,'' katanya dengan kesan lugu.

Sebagai penyanyi, ia tak membuat kelompok. Dia hanya bergabung dengan sejumlah grup keroncong di antaranya seperti Mante Carlo, Sinar Bulan dan Irama Sehat. Dari bergabung dengan sejumlah kelompok itulah, dia menggantungkan hidupnya. ''Namun dari hidup sebagai penyanyi, saya lebih banyak merasakan keprihatinan karena hasilnya tidak pasti,'' katanya.

Namun ibarat pepatah habis gelap terbitlah terang, kini perubahan itu mulai menerangi hidupnya. Tak perlu harus hidup berpindah-pindah karena sudah ada rumah layak huni yang kini ditinggali. Lalu tabungan dari hasil royalti lagu-lagunya baik yang beredar di dalam negeri maupun luar negeri.

Terakhir dia juga mendapatkan santunan kesehatan dari Pemerintah Kota Surakarta. Itu semua diraih berkat lagu ciptaannya yang kini mendunia. Semoga tetap berkarya dan panjang umur Mbah Gesang.(60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA