logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 02 Oktober 2007 NASIONAL
Line

Sutiyoso Maju Capres 2009

  • Gus Dur dan Try Sutrisno Hadiri Deklarasi

SM/Sumardi DEKLARASIKAN DIRI:Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mendeklarasikan diri sebagai capres 2009.(30)

JAKARTA- Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso kemarin secara resmi menyatakan maju menjadi calon presiden pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009. Keberhasilannya memimpin Jakarta serta desakan berbagai kalangan, mendorong dirinya untuk melanjutkan pengabdian pada level yang lebih tinggi.

''Dengan memohon rida Tuhan Yang Maha Esa, saya menyatakan siap mencalonkan diri menjadi Presiden RI periode 2009-2014,'' kata Bang Yos, panggilan akrab Sutiyoso, yang diiringi tepuk tangan hadirin.

Dalam ''Deklarasi Politik Sutiyoso'' yang berlangsung di Hotel Four Season Jakarta tersebut, hadir sejumlah tokoh.

Seperti Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mantan wapres Try Sutrisno, tokoh Malari Hariman Siregar, tokoh Betawi Ridwan Saidi, penyair Taufik Ismail, Ketua DPW PKB DKI Moeslim Abdurrahman, Wakil Ketua MPR RI Mooryati Soedibjo, Ketua Ketua Umum PNBK Eros Djarot, mantan Kabin Hendropriyono, Ketua Umum PDK Ryaas Rasyid, dan Sophan Sophiaan.

Kepada pers Sutiyoso mengatakan, baru setahun terakhir ini dirinya mendapat banyak dukungan untuk menjadi capres. ''Dukungan itu datang dari tokoh masyarakat, organisasi yang eksis maupun yang belum. Lalu saya sendiri juga merasa terpanggil. Dan spirit saya adalah pengabdian,'' kata pria asal Gunungpati, Kota Semarang tersebut.

Mengaku maju sebagai calon tidak punya partai, Sutiyoso mengatakan ingin mengayomi partai-partai yang mendukungnya. ''Ini juga sebagai test case, karena saya ingin memberi kesempatan masyarakat untuk mengukur diri saya selama satu tahun lebih,'' tuturnya.

Ditanya kesiapannya bersaing dengan capres lainnya dan kekuatannya, Sutiyoso mengatakan yang akan menilai adalah masyarakat. ''Konsekuensinya, ya saya akan berhadapan dengan calon yang lain, saya harus siap. Tapi semua silakan, masyarakat yang menilai sendiri siapa yang lebih tepat memimpin bangsa ini.''

Ia juga menepis anggapan bahwa dirinya tidak didukung kalangan TNI. ''Yang mengundang Anda semua kan Pak Try. Pak Try kan 'ketua suku' purnawirawan. Itu saja jawabannya, silakan menilai sendiri,'' ujarnya.

Dia enggan menyebutkan partai-partai yang disebut-sebut telah mendukungnya. ''Ada partai-partai kecil yang lama, dan partai baru yang muncul. Saya tidak mau menyebutkan karena mereka menyatakannya secara tidak resmi.'' Alasan lain, menurutnya, setiap partai ada mekanisme internal, yang tidak ingin dilanggar.

Menjalin Hubungan

Bang Yos mengaku tidak mendirikan partai baru untuk menjadi kendaraan politik dalam pilpres. Oleh karenanya, ia tetap akan menjalin hubungan dengan parpol, utamanya yang sudah menjadi peserta pemilu.

Menurutnya, selain adanya dukungan sejumlah parpol, dalam posisinya sebagai ketua Asosiasi Pemerintahan Daerah yang anggotanya adalah gubernur, hal itu telah memberi masukan yang berarti. ''Misalnya soal pelaksanaan otonomi daerah akan menjadi prioritas jika terpilih nanti.''

Mengenai program utamanya Sutiyoso mengatakan ingin mensukseskan program otonomi daerah. Menurutnya, saat ini otonomi daerah hanya berjalan di tempat.

''Daerah tetap tidak punya kewenangan dan anggaran yang cukup. Bila semua cukup, maka pembangunan dapat tersebar. Ini artinya membuka peluang kerja dan akan mengurangi urbanisasi.''

Ketika ditanya soal pertemuan dengan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri, Bang Yos mengaku sebagai pertemuan silaturahmi biasa dan rutin dilakukan.

Tidak hanya dengan mantan presiden Megawati, tapi juga dengan BJ Habibie, bahkan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

''Jadi silaturahmi biasa, saya gali nilai baiknya,'' kata suami Hj Setyorini tersebut.

Dalam pidatonya ia menyatakan, keberhasilannya memimpin Jakarta selama sepuluh tahun merupakan hasil kerja keras rakyat Jakarta dan dukungan semua pihak.

Kekurangan yang masih ada merupakan keterbatasan dirinya sebagai manusia.

Dalam kesempatan itu, dia menyinggung lima poin yang merupakan realitas saat ini. Pertama, pentingnya untuk menghargai nilai-nilai lama yang baik dan menyerap nilai-nilai baru yang lebih baik, demi kemajuan Indonesia. Kedua, reformasi belum mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, karena belum berhasil merumuskan dan menyepakati konsep dasar arah dan tujuan reformasi. ''Kita harus membangun kesepakatan rumusan konsep dasar reformasi yang dilandasi oleh Pancasila dan UUD 45,'' tandasnya.

Ketiga, tujuan utama pembangunan nasional adalah melindungi dan mensejahterakan rakyat Indonesia. Untuk mewujudkannya harus dilakukan pembangunan di setiap daerah yang melibatkan seluruh masyarakat terutama guru, petani, buruh, nelayan, karyawan dan pengusaha kecil dan menengah.

Keempat, perlu pembangunan Hankam yang tangguh yang bertumpu pada kekuatan rakyat. ''Dan kelima, pembangunan nasional memerlukan politik luar negeri yang bebas aktif, yang berarti tidak adanya dominasi negara lain, baik ekonomi, politik, sosial dan budaya terhadap Indonesia,'' kata Sutiyoso.

Sementara itu, Try Sutrisno menyatakan, Bang Yos adalah menjadi harapan di tengah keadaan dan situasi yang tidak menentu sekarang ini. ''Deklarasi pada 1 Oktober bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila, mempunyai arti yang penting untuk tegaknya Pancasila,'' katanya.

Menurut Khotibul Umam Wiranu, mantan wakil sekjen DPP PKB yang hadir pada acara tersebut, Bang Yos lebih baik mencari dukungan parpol peserta pemilu ketimbang harus mendirikan partai baru yang memerlukan dana besar serta waktu.

''Lebih baik mencari dukungan parpol peserta pemilu. Saya kira banyak yang mau, terutama bagi parpol yang tidak memiliki capres sendiri,'' katanya.

Acara deklarasi tersebut diawali pembacaan puisi oleh Ridwan Saidi yang khas Betawi dan dilanjutkan Taufik Ismail yang menyitir sebuah harapan di tengah situasi yang tidak menentu saat ini.

Menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Bang Yos punya hak politik untuk tampil sebagai capres. Namun Bang Yos punya beberapa kendala.

"Hemat saya, pencalonan diri atau orang lain untuk pilpres kelihatannya masih terlalu pagi. Tetapi itu bagian komunikasi politik," ujar Din di kantor Center for Dialogue and Cooperation Among Civilizations, Jakarta Pusat.(F4,di-49)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA