logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 02 Oktober 2007 SEMARANG
Line

Jejak Sunan Kalijaga di Desa Jatirejo

ORANG zaman sekarang mungkin tidak mengira jika di Dukuh Kauman, Desa Jatirejo, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Sunan Kalijaga pernah singgah dan membangun masjid. Bagi masyararakat asli dukuh itu, cerita ini sangat dipercaya. Sebab di lokasi tersebut terdapat sebuah masjid, konon peninggalan Sunan Kalijaga.

Menurut penuturan HM Hafik Amin (80), salah seorang sesepuh desa, Masjid Baiturrahim dibangun Sunan Kalijaga sekitar tahun 1450 masehi. ''Saat hendak membangun masjid, Sunan Kalijaga mengajak beberapa tokoh masyarakat berdiskusi di Balai Panjang,'' ujarnya.

Di balai yang tak jauh dari lokasi masjid, Sunan Jati (pendiri Desa Jatirejo) juga terlibat dalam perbincangan pembangunan masjid, yang dipercaya dibangun pada hari Kamis. Lalu, pada keesokan harinya, Jumat Legi, diadakanlah syukuran di Balai Panjang.

Syukuran inilah yang kemudian diperingati oleh warga pada setiap Jumat Legi untuk mohon berkat hingga sekarang. ''Dulu setiap Jumat Legi di lokasi Balai Panjang banyak yang berjualan makanan, jenang, kembang, maupun mereka yang menyebar uang. Bahkan di tempat itu juga digelar seni reog.''

Sembunyi-sembunyi

Hafik menjelaskan, mulanya pembangunan masjid dilakukan secara sembunyi-sembunyi di daerah Jaten, sebelum fajar. ''Lantaran saat itu ada orang yang datang ke lokasi menyebar benih jagung, maka lokasi masjid pun di pindah ke tempat sekarang,'' terangnya.

Saat itu, orang yang menyebar benih jagung ditegur, karena gugup orang itu mengatakan bahwa yang dia sebar adalah benih jati. Ajaibnya, benih jagung yang disebar justru tumbuh menjadi tanaman jati. Makanya, tempat ini dinamakan Jaten dan desa sekitar dinamakan Jatirejo.

Diceritakan, dalam masjid ada beberapa kejadian unik yang sulit diterima akal sehat. Setiap asar, ada yang bermain-main dengan pukulan kentongan di serambi masjid, tetapi wujudnya tidak terlihat. ''Pernah ada sebatang kayu masjid yang dicuri saat dilakukan rehab, tetapi kayu tersebut kembali lagi ke tempatnya,'' kata Hafik.

Dalam perkembangannya, masjid tersebut sudah mengalami beberapa kali perbaikan. ''Yang masih asli dari peninggalan Sunan Kalijaga adalah tongkat kotbah dan salah satu tiang yang kini disimpan di atap. Tongkat tersebut sudah pernah sampai ke Cirebon, tetapi kembali lagi ke sini,'' jelasnya.

Sementara Chozin Zamahsyari (62), pengurus masjid menambahkan, dulu yang mengumandangkan adzan bernama khotib Panawangan. Meski tanpa pengeras suara, suara adzan bisa terdengar sampai beberapa kilometer. Hingga sekarang, makam dari khotib bisa dijumpai di sana dan sering dikunjungi kiai untuk memohon berkat Sunan Jati. (Leonardo Agung B-18)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA