logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 02 Oktober 2007 SEMARANG
Line

Pemkab Berupaya Salurkan Karyawan PHK Kedaung

  • Hindari Kejahatan, Pesangon Berupa Cek

UNGARAN - Pemkab Semarang berupaya menyalurkan ratusan karyawan PT Kedaung Medan Industrial Limited (Ltd) yang di-PHK pada Sabtu (30/ 9). Namun saat ini pihak pemerintah daerah masih menunggu data dan proses penyelesaian pabrik gelas yang gulung tikar ini. Kepala Bidang Hubungan Industrial Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang, Budi Yuwono SH, mengatakan, setelah ada kejelasan jumlah ter-PHK, pihaknya akan berusaha menyalurkan ke perusahaan lain. Terutama bagi sekitar 200 penyandang cacat yang bekerja di Kedaung Klepu.

''Bagi penyandang cacat (kaki dan tangan) sudah ditawarkan bekerja di Kedaung Jakarta. Tapi sebagian besar menolak,'' kata Budi Yuwono, kemarin. Jika memang mereka tidak bersedia, Pemkab akan mencari perusahaan gelas di Jateng yang bersedia menerima mereka. Sebab para penyandang cacat yang sebelumnya ditampung di Rehabilitasi Centrum (RC) Solo itu, sudah terampil bekerja.

Kabag Personalia PT Kedaung Hamid Yusuf hingga sore kemarin masih meeting dan belum bisa memberi keterangan. Hingga pukul 15.30 saat dihubungi via telpon kantor, operator menjawab,''Pak Hamid masih rapat dengan direksi,'' ucap seorang wanita di seberang sana.

Soal pesangon, Budi Yuwono menjelaskan, akan diberikan sekitar tanggal 4 dan 5 Oktober. Untuk menghindari kejahatan, pesangon akan diberikan berupa cek. Sebab jumlah seluruh karyawan di-PHK lebih dari 900 orang. ''Saat hendak mem-PHK seluruh karyawan, pihak manajer perusahaan sudah berkonsultasi dengan kami. Mereka gulung tikar karena harga BBM yang sangat tinggi,'' jelas Budi Yuwono.

Menurut dia, regulasi soal solar industri dari pusat mestinya ada peninjauan kembali. Sebab jika tidak, banyak karyawan yang perusahaannya menggunakan BBM akan dirumahkan.

Sistem Kontrak

Muh Yose Dasilva (48) karyawan penyandang cacat yang berasal dari Timor Timur mengatakan sudah 25 tahun bekerja di Kedaung Klepu. ''Saya tak mengira pabrik sebesar ini bisa tutup,'' jelasnya yang bekerja di bagian packaging.

Susilowati (41) asal Mertoyudan Magelang yang juga dari RC Solo, telah bekerja di Kedaung Klepu selama 17 tahun. Saat ini dia bersama Joko, suaminya, yang juga di Kedaung, mengaku kebingungan hendak ke mana. ''Mungkin sementara saya pulang ke ibu saya di Magelang. Mau jualan juga bingung. Nggak tau lah mas, nanti bagaimana,'' jelas dia yang menanggung beban pendidikan anaknya di SMP dan SD. Sri Murni (44) seorang pekerja menyatakan, jika sistem kontrak dia bersedia kerja di Kedaung Jakarta. Kalau borongan, menurutnya rugi.

Mini'i (47) asal Lombok NTB yang juga Ketua RT 14 RW I Klepu di mess ratusan penyandang cacat Kedaung mengatakan, selama Kedaung belum dijual pihaknya sementara tinggal di tempat tersebut. ''Kalau sudah punya rumah sendiri gak masalah. Di saat anak butuh biaya, kami di-PHK. Pesangon juga kecil. Padahal kami kerja 25 tahun,'' papar dia. Sebanyak 52 keluarga penyandang cacat di mess tersebut, lanjutnya sudah seperti keluarga sendiri. ''Susah senang kami bersama di sini selama puluhan tahun, dengan gaji pas-pasan,'' ucap Mini'i. (H14-16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA