logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 02 Oktober 2007 SEMARANG
Line

SUDUT PANDANG

Mengembalikan Tradisi Kartu Lebaran

TRADISI berkirim kartu lebaran yang berisikan ucapan selamat dan saling memohon maaf memang sudah luntur. Penyebabnya, gelombang teknologi komunikasi telah menjadikan pesan pendek atau SMS menjadi bagian hidup sehari-hari. Fungsi kartu lebaran sudah tergantikan SMS. Kepala Kanwil Usaha Pos Wilayah VI Jateng-DIY, Ismanto mengakui kian ditinggalkannya tradisi berkirim kartu lebaran.

Bahkan kondisi itu telah memengaruhi kinerja kantor pos menjadi drop. Pada 1980-1990-an, kantor pos diserbu masyarakat untuk mengirimkan kartu lebaran. Karenanya, tak heran pada saat itu, banyak pedagang tiban yang nangkring di emperan kantor pos menjajakan kartu lebaran berbagai model. Meski demikian, ia yakin keberadaan kartu lebaran ini tidak akan mati begitu saja.

''Pengirim kartu tersebut saat ini memang didominasi kalangan korporat. Mereka mengirimkan ucapan selamat hari raya untuk menjaga relasi,'' katanya di sela-sela serah terima jabatan Kepala Kanwil Usaha Pos Wilayah VI Jateng-DIY, di Hotel Patra, Jumat (28/9).

Ia menilai, kartu lebaran tidak sekadar sebagai sarana mengucapkan hari raya dan memohon maaf melainkan berkembang menjadi sesuatu yang bermakna pengikat silaturahim. Orang yang menerima kartu tersebut pasti akan menyimpannya. Jadi kartu lebaran ini lebih bersifat pribadi, berbeda dengan SMS yang instan dan tidak menimbulkan kesan mendalam. Tidak hanya itu, dulu, orang-orang juga berkreasi sendiri kartu lebaran yang akan dikirimkannya. Tentu saja hal itu memacu daya imajinasi para pengirimnya.

Saat ini, secara perlahan ia memperhatikan adanya kesadaran kembali untuk menumbuhkan tradisi kartu lebaran. Pengiriman kartu undangan oleh perorangan mulai meningkat. Pihaknya juga terus berinovasi produk sebagai antisipasi penurunan bisnis pos. Maka, kini dikenal pula Ratron Pos, produk yang memadukan SMS dan telegram yang bisa dimanfaatkan untuk berkirim ucapan lebaran. ''Adanya perangko Prisma juga banyak diminati masyarakat. Foto pribadi atau logo perusahaan bisa ditampilkan di samping perangko.''

Pria kelahiran Palembang 19 Februari 1963 ini, menggantikan Mohammad Sabaruddin yang ''bertukar posisi'' di jabatan Sekretaris Yayasan Amal Bhakti Pos Indonesia di Bandung. Kedatangannya ke Semarang seakan ingin bernostalgia. Pasalnya ia pernah menempuh studi di bangku Fakultas Ekonomi Undip pada 1982-1988. (Moh Anhar-56)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA