logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 02 Oktober 2007 KEDU & DIY
Line

Penipuan Dunia Maya (2-Habis)

Bawa Kabur Uang Kenalan, Pindah-pindah Kos

  • Oleh Agung PW

MODUS penipuan lewat dunia maya berkedok prostitusi tak sebatas via chat, telepon, atau sms. Pelaku ada yang berani bertemu dengan calon korban. Saat bertemu, dia mengaku sebagai mahasiswi. Seperti yang dilakukan Melda, mahasiswi PTS di Yogyakarta utara.

Perempuan usia 20 tahunan itu, menggunakan identitas tertentu untuk menarik mangsa. Begitu berhasil menjerat korban, dia pun mengaku tengah kebingungan karena harus membayar kuliah. Orang tua di kampung tak bisa membiayainya lagi.

''Mas boleh melakukan apa saja karena sudah membeli saya. Layaknya jual-beli, saya menjual, pembeli mendapatkan haknya," tutur Deni- salah satu korban-mengutip kata-kata pelaku.

Setelah terperangkap kata-kata manis nanmenghiba, mahasiswa PTN itu merelakan Rp 500.000 miliknya. Mereka lantas menuju kos pelaku di Jalan Laksda Adisucipto. Di tempat itu, mereka mengobrol dan membuat janji, kencan esok hari.

Pelaku yang mengaku berasal dari salah satu kota di pantai utara Jawa Tengah itu berjanji jalan bareng dengan korban. Namun keesokan harinya, ketika Deni mendatangi tempat kos itu, Melda sudah tidak berada di tempat. Erna -teman satu kamar pelaku- juga mengaku kenal dengan Melda melalui chatting. Dia mengatakan, pelaku hanya menumpang di kamarnya untuk beberapa hari.

Bisa saja teman satu kamar itu bersekongkol dengan pelaku. Namun yang jelas, dia menyatakan pelaku sudah pergi dan tak menumpang lagi. Dia juga mengaku tak mengetahui tempat kos pelaku. "Aneh kan, sudah sekamar kok tak tahu alamat kos dan daerah asal pelaku," tutur Deni.

Ganti Nama

Selain pindah-pindah kos, pelaku juga sering ganti nama. Melda misalnya. Dia mengaku bernama Dian kepada korban yang lain. Setelah mendapatkan uang, dia pindah tempat numpang dan berganti nama.

Paras menarik dan wajah memelas, merupakan modal utama pelaku menjalankan aksi. Mereka -baik yang benar-benar mengajak kencan dengan imbalan uang maupun hanya ingin menipu-, acapkali memasang foto-foto ''menantang'' di situs tertentu.

"Mereka juga sering ganti nomor ponsel. Alasannya, menjaga privacy. Para penipu itu hanya mau menerima pembayaran di muka tetapi menjanjikan kencan pada lain hari. Pelaku juga bersumpah, sedang bermasalah dan membutuhkan uang," papar Anton yang nyaris menjadi korban karena tergiur suara dan foto pelaku.

Dia menuturkan, sebenarnya pekerja seks komersial dan pelaku penipuan bisa dibedakan lewat foto yang terpajang. Para PSK malah memasang foto biasa, setengah badan hanya menampilkan muka. Pelaku penipuan, kebanyakan memajang foto vulgar, pose panas, atau malah gambar sedang berhubungan intim.

Terlepas dari perkembangan teknologi informasi komunikasi yang sesungguhnya berdampak positif, sebagian anak muda memanfaatkannya untuk melakukan tindak kriminal. Ketika membobol uang melalui internet semakin sulit, mereka beralih menggunakan cara-cara yang lain. Salah satunya, berpura-pura menjalankan praktik prostitusi. (72)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA