| Senin, 01 Oktober 2007 | NASIONAL |
Enam Pasar Tumpah Simpul KemacetanSEMARANG- Keberadaan pasar tumpah yang berada di sejumlah jalur utama di Jateng, dimungkinkan menjadi titik simpul kemacetan dalam arus mudik Lebaran tahun ini. Jika sebelumnya terdapat 94 lokasi, kini menjadi 97 lokasi. Pendataan sementara terbanyak berada di wilayah hukum Polwil Pekalongan. Dirlantas Polda Jateng Kombes Gatta Chairuddin mengatakan, untuk mengantisipasi kemacetan di seluruh pasar tumpah, pihaknya menempatkan personel khusus. Antara lain dari Satlantas dibantu kesatuan dan instansi terkait yang terlibat dalam pengamanan arus mudik-balik tahun ini. Personel dari Pramuka, Satpol PP, TNI, Orari, dan RAPI sifatnya memberikan dukungan. Namun harus tetap bekerja sama untuk koordinasi kerja tim di lapangan. ''Pasar tumpah tetap jadi masalah. Keberadaannya masih sulit untuk dihapus. Karena menjadi kebutuhan masyarakat di sejumlah daerah. Karena itu, kami perlu strategi dalam pengamanan serta pengaturan arus pemudik agar aman dan lancar.'' Enam Pasar Berdasarkan pemantauan menjelang Operasi Ketupat Candi 2007, ada enam pasar tumpah yang layak jadi sorotan. Yakni Pasar Pagi Wiradesa berlokasi di kilometer 108 Semarang-Cirebon. Lalu Pasar Suradadi (Tegal) dan empat lagi yaitu Pasar Induk Brebes, Pasar Limbangan, Pasar Bulakamba, dan Pasar Losari (Brebes). Persoalan di enam pasar tumpah itu adalah jalur menyempit. Juga padatnya pengunjung pasar yang lalu-lalang, serta pejalan kaki menyeberang jalan sembarangan. ''Ini sangat berbahaya. Karena itu kami tempatkan personel khusus dibantu personel pengamanan lainnya dari instansi dan kesatuan terkait. Ini demi keselamatan dan kelancaran bersama,'' terang dia. Pantauan Suara Merdeka, banyaknya angkutan tradisional seperti becak dan andong yang parkir tidak rapi juga sering mengganggu kelancaran arus jalan. Sementara itu, jumlah penumpang melalui Terminal Arjosari Malang masih sepi. Banyak bus tidak beroperasi. Menurut Koordinator Pengawasan dan Pengendalian Terminal Arjosari, Agoes Ruskandi, bus AKDP yang tidak beroperasi mencapai 40 persen, sedangkan untuk AKAP tiga persen. Dari data di Dinas Perhubungan Kota Malang, bus di Terminal Arjosari yang tersedia untuk jenis AKAP mencapai 50 unit per hari dan 382 unit bus AKDP. Melihat persentase itu, bus AKDP yang tak beroperasi selama bulan puasa ini mencapai 153 unit, sedangkan bus AKAP dua unit. Estimasi Dinas Perhubungan, kenaikan jumlah penumpang mudik mulai terasa H-7 dan mencapai puncak pada H-1. Sementara puncak arus balik sekitar H+6 lebaran. "Dari pengalaman tahun lalu, arus mudik kebanyakan ke daerah Bali, Jateng, dan Jakarta," ujarnya.(D12,H21, jo-60) |