logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 01 Oktober 2007 NASIONAL
Line

"Saya Tak Akan Maafkan Majikan Istri Saya"

"Betapa hatiku tak akan pilu telah gugur pahlawanku. Betapa hatiku tak akan sedih sedih hamba ditinggal sendiri. Telah gugur pahlawanku...." PENGGALAN lagu perjuangan berjudul Gugur Bunga dinyanyikan para keluarga korban bersama aktivis dari Migrant Care, menyambut kedatangan jenazah Siti Tarwiyah dan Susmiyati. Mereka terus menyanyikn lagu tersebut di depan dua peti mati yang tertutup rapat. Ya, mereka memang pahlawan. Di tengah ketidakmampuan pemerintah menyediakan lapangan kerja yang baik dan cukup, mereka mendatangkan sejumlah uang dari negeri perantauannya ke dalam negeri.

Lagu tersebut berhenti, ketika Hamid, suami dari Siti Tarwiyah tiba-tiba tidak kuat lagi menahan perasaan dukanya. Tangis pun akhirnya pecah, beberapa orang di, sekitarnya tak pelak ikut berjuang keras agar air mata tidak tumpah.

"Tidak, saya tidak akan memaafkan majikan istri saya kerena mereka tidak manusiawi," ujarnya ketika masih menunggu kedatangan jenazah istrinya.

Dirinya tidak dapat menggambarkan perasaannya secara pasti atas kedatangan jenazah isitrinya yang telah dinantinya sejak dua bulan terakhir. Tak dapat dipungkiri, kedatangan jenazah tersebut disambutnya dengan perasaan gembira. Namun, menurutnya perasaan sakit, menyesal atas nasib istrinya, perasaan kehilangan juga ada di hatinya.

"Ya gimana ya. Namanya kehilangan keluarga, walaupun gembira atas kedatangannya, tapi rasa sakit, kehilangan, dan perasaan bagaimana mengenai anak saya nanti setelah kehilangan ibunya, tetap ada," kata Hamid.

Yang paling dikawatirkannya adalah pendidikan dalam arti luas bagi anak-anaknya. Hamid sadar, walaupun anaknya masih mempunyai ayah yaitu dirinya, namun pendidikan yang diberikan dari seorang ibu tidak dapat tergantikan. Padahal, masalah mendidik anak itulah yang sempat dipesankan oleh istrinya sebelum menemui ajal.

Hal tersebut diketahuinya dari seorang TKW bernama Dalima, yang beberapa waktu lalu pulang ke Indonesia. Selama di Arab Saudi, Dalima sempat menghuni sel yang sama dengan Rumini binti Surtim, TKW yang bersama istrinya ikut disiksa oleh ketujuh anggota keluarga majikannya. Sebelum meninggal, Siti Tarwiyah meminta tolong Rumini agar menyampaikan pesan kepada keluarganya, supaya keluarganya menididik anaknya. Pesan tersebut akhirnya tersampaikan melalui Dalima.

Sementara Sutomo, adik kandung korban lainnya, Susmiyati, menuntut agar proses hukum terhadap majikan kakaknya tetap berjalan. Dirinya senang karena ketidakpastian pemulangan jenazah kakaknya berakhir. Tidak lupa, Sutomo menyampaikan terima kasih kepada pemerintah, yang telah membantu proses pemulangan tersebut.

"Pemulangan kan hanya sebagian dari tuntutan kami. Tuntutan lainnya adalah agar pelaku penganiayaan kakak saya dihukum," ujarnya. (Wahyu Wijayanto-41)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA