logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 01 Oktober 2007 NASIONAL
Line

studi banding

Gerakan Sosiokultural di Eropa (3-Habis)

Ke Berlin Bertemu Dekonstruksi Ken Arok


SM/Triyanto Triwikromo BERLIN BARU: Situasi Berlin masa kini yang multikulturalistis kian terbuka untuk kerja sama dengan berbagai bangsa dan budaya. Jerman memang tak sibuk dengan persoalan rasisme lagi. (35)

STASIUN Friedenau, Berlin, Jerman, lengang malam itu. Selain suara kereta seakan-akan tak muncul bunyi lain. Pada pukul 20.00 dunia hening dan lampu-lampu di apartemen hanya menyala kecil. Dalam situasi semacam itulah komponis Paul Gutama Soegijo (73), pendiri Banjar Gruppe Berlin asal Yogyakarta, bekerja, membubuhkan angka-angka, bulatan-bulatan, tanda-tanda menyerupai kecambah, dan menampilkan semacam grafik, naik-turun, menggeliat mirip gerakan seorang penari.

Bekerja untuk siapa? ''Saya sedang menulis komposisi baru yang akan segera dipergelarkan di Kuba,'' kata pria yang salah satu komposisinya, ''Klavierstudie'', dimainkan oleh pianis Steffen Schleiermacher itu.

Baik Gutama maupun Scheliermacher memang tak lagi bekerja hanya untuk Indonesia atau Jerman. Kita tahu ketika menggarap Asia Piano Avantgarde Indonesia jelas-jelas Scheliermacher menggandeng komposer Indonesia lain semacam Slamet Abdul Sjukur dan Michael Asmara (Indonesia). Ia juga mengajak Soe Tjen Marching (Australia).

Sebagaimana dalam kesebelasan sepak bola, orang-orang Jerman memang tidak lagi ingin melakukan segalanya sendiri. Mereka kian menghargai orang lain. Di Berlin, misalnya, saat bertemu dengan orang-orang Jerman di kereta, mereka masih mau bercakap-cakap dengan orang asing dalam bahasa Inggris. Ini berbeda dari orang-orang Paris di jalanan, metro (kereta bawah tanah), dan bus, serta furnicular (kereta yang merambat ke tanjakan dalam kemiringan sekitar 60 derajat di Lyon) yang nyaris tak mau berkomunikasi dengan bahasa selain Prancis.

Dari berbagai wawancara oleh Program Magister Hukum Kesehatan Unika Soegijapranata yang sedang melakukan studi gerakan sosiokultural di Eropa dengan para pekerja seni memang bisa disimpulkan Jerman kian menyadari untuk tak menganggap diri sebagai pusat dunia. Ia justru sedang belajar kepada ''dunia lain''. Bukti dari konsep mau belajar itu tampak pada keinginan mereka mendanai Opera Ken Arok yang digubah oleh Paul Gutama Soegijo.

Mengapa Ken Arok? ''Ken Arok itu sosok yang mampu melakukan dekonstruksi kebudayaan pada zamannya. Indonesia bisa saja tak ada tanpa Ken Arok. Ia mungkin orang pertama yang menemukan kehebatan pasukan berkuda. Ia adalah pemberontak kebudayaan yang menggunakan logika untuk mengatasi berbagai persoalan. Ia bukan tipe manusia yang melulu bersandar pada kekuatan keilahian atau klenik. Karena itu ia bisa diterima di Jerman,'' kata Gutama.

Apakah karena Ken Arok memenuhi kriteria ubermench (manusia agung) ala Nietzsche sehingga tabiatnya bakal dipelajari oleh orang-orang Jerman? Entahlah, yang jelas Dekonstruksi Ken Arok dalam bentuk novel dua bahasa (Indonesia-Jerman) yang ditulis Gutama bersama Triyanto Triwikromo dalam semangat multikultur juga akan menyertai pemanggungan opera itu.

Multikulturalisme

Di Lourdes -pusat ziarah agama Katolik di Prancis- kesadaran untuk menggunakan ''multikulturalisme'' sebagai dasar pijak hidup bersama juga sejak lama telah digelorakan. Untuk melayani umat -lewat misa universal yang diselenggarakan setiap malam- para pengelola tak hanya menggunakan bahasa Prancis, mereka juga memakai bahasa lain semacam China, Jepang, Inggris, bahkan Indonesia. Karena itulah, orang bisa mendengarkan ''Ave Maria'' dalam multibahasa.

Kecurigaan terhadap kultur lain agaknya memang hendak disirnakan. Di penginapan Saint Piere yang dikelola oleh para biarawan dan biarawati dengan sumbangan sukarela relatif murah (200 euro untuk empat orang dalam dua malam) meskipun masih menggunakan bahasa Prancis sebagai alat komunikasi utama, ada ''bahasa'' lain yang ditumbuhkan.

Bahasa itu bernama ''cinta kasih'', ''kejujuran'', dan ''penghargaan atas kemanusiaan''. Para penginap, misalnya, tidak mendapatkan kunci kamar sehingga kebanyakan khawatir harta benda paling berharga -laptop, tustel, dan uang- tak dalam kondisi aman dari penjarahan orang lain. Ketika kami minta kunci sambil bilang, ''Key!", mereka tertawa, ''No key! No key!''

Ah, inilah kecurigaan yang ditertawakan. Cara mereka menghargai orang lain ternyata adalah dengan menumbuhkan kepercayaan pada diri siapa pun untuk menjaga ketenteraman dan kebahagiaan bersama. Dan ternyata memang tak ada kisah tentang pencurian barang dan aman-aman saja.

Penghargaan atas kemanusiaan juga muncul saat Prof Widanti diare dan harus dibawa ke rumah sakit terdekat. Setelah ditanya macam-macam dan harus dijawab sendiri oleh si sakit, dokter kemudian mengobati dengan penuh seluruh. Ketika hendak dibayar, dokter menolak, karena para penziarah memang berhak mendapatkan perawatan. Prinsipnya: selamatkan nyawa dulu, urusan lain belakangan.

Apakah Prancis telah berubah akibat para demonstran menyuarakan, ''metro, boulot, dodo (jalan, kerja, tidur)'' kepada pemerintah sepanjang hari sehingga para birokratnya tidak menjadi sosok-sosok yang mekanis? Bisa saja seperti itu, sehingga mereka selain menentukan upah buruh minimum 8 euro per jam (bukan per hari), juga mulai melakukan berbagai kebijakan yang intinya memberikan penghargaan kepada kemanusiaan secara besar-besaran.

Dan tindakan-tindakan semacam itu harus dilakukan sebab di Eropa sebagaimana diungkapkan oleh aktivis lingkungan hidup Corrinne Blanchet, kemajuan teknologi yang dipraktikkan dengan berstandar ganda ternyata membuat orang hidup dalam situasi schizofrenik. Agar tak sakit jiwa, penghargaan semacam itu memang harus diutamakan.

Kebijakan yang multikulturalistis juga terjadi Belanda, Belgia, dan Swiss. Di negeri-negeri itu orang-orang asal Indonesia semacam Harland Hartono (pengawas keselamatan di perusahaan kereta api) dan Ricky Siegers (seniman grafis) bisa hidup layak.

''Saya bahkan sudah beli tanah di Jimbaran, Bali. Sekarang saya sedang saya membangun rumah di atas tanah yang saya beli dengan duit hasil bekerja di Rotterdam,'' kata Hartono.

Jadi apa sesungguhnya efek Eropa bagi Indonesia? ''Eropa adalah pusat lain yang harus kita pelajari gerakan sosiokulturalnya. Jika tak ingin mengulang penyakit kebudayaan Eropa di Indonesia, kita harus bersama-sama mereka mencari jalan keluar dengan berbagai seminar, tukar-menukar dosen, dan penelitian. Ini saat kita berteman dan berkolaborasi dengan mereka di segala bidang,'' tutur Prof Widanti.

Tentang hasilnya, mari kita tunggu realisasi program-program yang melibatkan para intelektual Indonesia-Eropa itu. (Triyanto Triwikromo-35)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA