logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 01 Oktober 2007 NASIONAL
Line

Mendidik Anak lewat Puasa

  • Oleh Sri Suhandjati Sukri

ANAK-anak kami adalah belahan jiwa kami. Ungkapan ini menggambarkan betapa pentingnya anak bagi orang tua. Maka kebahagiaan menerima anugerah Allah itu selalu disertai tanggung jawab untuk membesarkan dan mendidiknya, agar menjadi anak yang saleh. Adapun kriteria anak saleh itu di antaranya beriman dan bertakwa kepada Allah.

Ketakwaan itu akan terwujud dalam sikap dan perilaku yang baik, sehingga hidupnya membawa manfaat bagi keluarga maupun masyarakatnya. Anak demikian inilah yang akan membahagiakan orang tuanya di dunia maupun di akhirat.

Rasulullah memberitahukan bahwa di antara kebahagiaan orang tua yang berhasil mendidik anaknya menjadi saleh/salehah akan mendapatkan pahala yang terus-menerus dari Allah, meskipun orang itu sudah meninggal. Hal ini menunjukkan bahwa mendidik anak, merupakan tugas berat tetapi mulia.

Karena prosesnya panjang dan tidak lepas dari tantangan, maka kalau berhasil, Allah berkenan memberikan penghargaan yang bernilai abadi.

Pengamatan atau pengalaman pribadi dari beberapa praktisi pendidikan, menunjukkan proses pendidikan sudah dimulai sejak masih dalam kandungan. Sehingga dikenal adanya pendidikan prenatal (sebelum lahir).

Seorang ibu menceritakan pengalamannya dalam menerapkan metode pendidikan ini, dengan mengajak bicara janinnya sambil mengusap-usap perutnya.

Ketika akan membaca Alquran, ia membisikkan kata ''Mari nak, kita baca ayat suci Alquran.'' Ibu ini seringpula memutar kaset bacaan Alquran, dan semua itu ternyata memberikan pengaruh positif bagi anak setelah lahir.

Menurut pengakuannya, bayinya menjadi lebih tenang, jika mendengar suara orang mengaji. Adanya respons sejak bayi masih dalam kandungan ini, kiranya yang mendorong Rasulullah mengajarkan agar penanaman tauhid dilakukan sedini mungkin, dengan melantunkan azan di telinga bayi yang baru lahir.

Dasar keimanan itu, perlu dipelihara pertumbuhannya melalui pembiasaan dan pemantapan. Nabi pernah mengajak cucunya Hasan dan Husain pergi ke masjid. Anak-anak yang masih kecil itu, sewaktu Nabi ruku' mereka naik ke punggung Nabi, dan beliau tidak marah.

Apa yang dilakukan Rasulullah itu merupakan teladan bagi para orang tua, bahwa membiasakan anak-anak mengenal pengamalan agama merupakan hal penting, karena akan memudahkan anak untuk mengikutinya.

Maka pada Ramadan ini, anak-anak yang masih kecil hingga remaja perlu dilibatkan dalam kegiatan yang bernilai ibadah. Mulai dari penanaman tauhid, misalnya dengan berpuasa, shalat wajib maupun sunah, dan berdoa setiap memulai dan mengakhiri aktivitas.

Di samping ibadah yang bersifat individual, anak juga diperkenalkan pada kegiatan sosial yang merupakan hikmah dari puasa. Seperti memberikan santunan kepada fakir miskin dan anak-anak yatim, mempunyai nilai positif bagi pengembangan kepekaan sosial anak. Oleh sebab itu, sebaiknya para orang tua mengajak anak-anaknya sewaktu memberikan sumbangan bagi kaum dhuafa. Hal ini merupakan pengajaran langsung di lapangan, yang akan mudah diserap dan terekam dalam ingatan anak. Diharapkan mereka akan melakukan hal yang sama setelah dewasa atau menjadi orang tua.

Rubayyi' binti Mu'awwidz, seorang muslimah pada masa Rasulullah memberitakan tentang cara melatih puasa bagi anak-anaknya yang masih kecil. Ia mengatakan, "Kami ajak anak-anak kecil kami untuk berpuasa dan pergi ke masjid. Kami buatkan mainan bagi mereka dari tanah. Jika ada di antara mereka yang menangis karena ingin makan, kami berikan mainan itu kepadanya, hingga sampailah waktu berbuka."

Contoh ini, kiranya bisa memberikan inspirasi bagi orang tua untuk mencari cara yang dapat digunakan dalam mendidik anak, sesuai dengan usia anak dan tujuan pendidikan yang ingin dicapai.

Allah menurunkan Alquran pada Ramadan sebagai petunjuk bagi manusia. Maka mengerti makna Alquran, merupakan hal penting lainnya yang perlu diperkenalkan pada anak sejak dini. Di samping berlatih membaca hurufnya, anak perlu dilatih pula untuk membaca terjemah dari ayat-ayat atau doa yang diucapkannya.

Mengingat Alquran memuat petunjuk Allah untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat. Seseorang akan sulit mengambil pedoman yang terkandung di dalamnya, jika tidak tahu arti dan maksudnya.

Akibatnya, terjadi kesenjangan antara ibadah dengan akhlak seseorang. Misalnya, bisa shalat dan membaca Alquran, tetapi gaya hidupnya menyimpang dari tuntunan Alquran.

Oleh karenanya, agar kesenjangan itu tidak terjadi lagi pada masa yang akan datang, metode pembelajaran Alquran perlu disempurnakan. Sehingga tidak cukup dengan bisa membaca, tetapi juga mengerti makna dan maksudnya.

Dengan demikian, diharapkan anak-anak akan mudah menangkap isi serta mengamalkannya, yang semua itu sangat diperlukan bagi pembentukan kepribadian yang saleh.(60)

- Prof Dr Sri Suhandjati Sukri, dosen IAIN Walisongo.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA