| Kamis, 20 September 2007 | NASIONAL |
Siapkan 274 Kapal Perang Baru
UPAYA untuk membenahi pertanahan laut Tanah Air, dilakukan TNI AL secara bertahap dan pasti. Selama kurun waktu tahun 2005 hingga tahun 2024, sejumlah besar alat utama sistem pertahanan (Alutsista) yang ada akan mengalami reduksi karena mencapai maksimal usia pakai. Bila sebagian Alutsista yang belum mengalami hal seperti itu ditambahkan dengan jumlah kebutuhan kekuatan hingga tahun 2024, maka kebutuhan kekuatan TNI AL sampai tahun 2024 bakal mengalami perubahan cukup besar. Menurut KASAL Laksamana TNI Slamet Soebijatno, kelak kesatuannnya bakal memiliki Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) sebanyak sejumlah 274 buah. Keberadaan kapal baru itu tentu akan menjadi pertimbangan tersendiri negara-negara lain yang selama ini memandang sebelah mata kekuatan tempur TNI AL. Strategi penambahan kapal perang yang begitu banyak, menurut jajaran petinggi kesatuan tersebut, memang memberikan dampak psikologis dalam sistem pertahanan laut secara nasional. ''Kalau di setiap titik rawan ada KRI tentu musuh yang ingin menyusup akan berpikir panjang. Dipantau lewat satelit lawan kapal kita ada di mana-mana, tentu mereka tidak akan meremehkan kekuatan armada laut kita,'' tandas KASAL. Dalam perang modern, tentu tidak hanya mengandalkan keberadaan kapal perang saja. Keberadaan pesawat udara (Pesud) juga telah diperhatikan. Saat ini kekuatan pesud yang fungsional siap tempur berjumlah 137 buah. Terdiri atas 30 pesawat angkut sedang (14 fix wing dan 16 rotary wing), 32 angkut ringan (rotary wing), 36 patmar, 30 Heli AKPA dan AKS, 9 pesawat latih (5 fix wing dan 4 rotary wing). Keberadaan peralatan tempur sebanyak itu, kelak akan didukung kekuatan pasukan marinir terdiri atas 3 Pasmar, 2 Brigmar BS, 1 Kolatmar, Pasusla dan 5 Lanmar, 1 Satintel. Selanjutnya ditopang lagi 11 Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan dengan material tempur, 64.144 senjata perorangan, 128 roket, 793 meriam, 890 ranpur, 254 albes, 3.991 alkomlek, 44 kapsatlap, 5.529 ranmor, 103.120 alkapsus dan 8.948 aloptik. Dalam strategi perang ke depan, pangkalan TNI AL bakal berjumlah 59 buah. Terdiri atas 11 Lantamal, 24 Lanal, 21 Sional, tiga Denal. Pangkalan Udara TNI AL berjumlah 12 buah, terdiri atas satu Lanudal kelas A, sembilan Lanudal kelas B, dan dua Lanudal kelas C. Dengan adanya perubahan dari sistem lama Sisrenstra menjadi sistem baru yaitu Sistem Perencanaan Pembangunan Pertahanan Negara (SPP Hanneg), maka TNI AL melaksanakan penyesuaian. Cetak Biru Cetak biru TNI AL tahun 2004 hingga 2013 pada sistem lama, ditransformasikan dan dilengkapi ke dalam sistem baru. Kemudian menjadi Rancangan Postur TNI AL Tahun 2005 hingga 2024. Dengan demikian, strategi pembangunan kekuatan TNI AL tetap berkesinambungan. Jajaran kesatuan ini, dalam rencana validasi organisasinya menyangkut beberapa hal pokok. Antara lain, pembentukan Komando Armada RI yang membawahi tiga Komando Wilayah Laut (Kowilla). Yaitu Kowilla Barat, Kowilla Tengah dan Kowilla Timur untuk mengantisipasi tiga corong strategis. Dalam melaksanakan perannya, Kowilla akan membawahi Lantamal yang berada diwilayahnya dan Eskader sebagai sub organisasinya. Kemudian dilakukan penambahan jumlah Lantamal. Dari semula sembilan menjadi 11 Lantamal. Itu dengan membentuk Lantamal baru di Padang dan Merauke. ''Kita juga akan menata kembali gelar pangkalan. Dengan merelokasi beberapa Lantamal sehingga lebih ideal dalam mendukung geostrategi pendekatan corong,'' terang petinggi nomor satu TNI AL. (Riyono Toepra, Fahmi ZM-77) | ||||