| Kamis, 20 September 2007 | NASIONAL |
Daging Glonggongan dan Ayam Bangkai Diprediksi MeningkatSEMARANG- Peredaran daging sapi glonggongan dan daging ayam bangkai diperkirakan akan meningkat mendekati Lebaran seiring naiknya permintaan dari konsumen. Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jateng Ir Kusmaningsih MP mengakui peredaran daging glonggongan dan daging ayam pada hari raya tahun lalu belum sepenuhnya bisa diberantas. Sebab, biasanya hal itu terjadi di luar rumah potong hewan (RPH). ''Sebagai antisipasi pada tahun ini pemerintah membentuk tim daging ilegal yang berasal dari unsur Dinas Peternakan, Polda Jateng, Lembaga Perlindungan Konsumen, Balai POM, dan Satpol PP,'' kata dia, Rabu (19/9). Tim akan terjun sewaktu-waktu menjelang Lebaran kali ini di sejumlah wilayah yang diperkirakan menjadi peredaran daging sapi glonggongan dan ayam bangkai. Ia enggan membeberkan daerah yang dimaksud agar ''gerakan'' tim tidak tercium oleh pelaku glongongan. Selain membentuk tim daging ilegal, Dinas Peternakan juga telah mengirim surat edaran kepada kabupaten/kota di seluruh Jateng perihal pengawasan pangan asal hewani dengan memperketat RPH. Petugas diminta memeriksa hewan pada saat sebelum dan sesudah dipotong. Selain itu, juga pemeriksaan kesehatan ternak baik ternak potong maupun unggas potong di tempat penampungan ternak, pasar hewan, dan lalu lintas ternak. Tanpa Impor Kebutuhan daging sapi itu akan dipasok dari Kabupaten Blora, Pati, dan Grobogan untuk mengisi kebutuhan masyarakat di daerah Pantura. Juga berasal dari peternak Wonogiri, Sragen, Sukoharjo, Karanganyar, dan Kebumen untuk memenuhi konsumsi masyarakat Jateng bagian selatan. Sementara itu, perkiraan kebutuhan daging ayam selama lima bulan mendatang diperkirakan mencapai 30.957 ton atau setara 25.168.292 ekor ayam. Ketersediaan daging ayam ini akan dipenuhi dengan ayam ras, ayam broiler dan ayam petelur afkir siap potong, dan yang lain. Pihaknya memperkirakan kebutuhan daging selama lima bulan adalah 35.485 ton. Ia juga menyatakan Jateng bebas daging yang terkena penyakit antrax. Kasus antrax terakhir pada 2003 di Kecamatan Ampel, Boyolali pada seekor kambing. Setelah kejadian itu, pemerintah melakukan vaksinasi setiap tahun. Daerah yang menjadi tempat vaksinasi yakni Boyolali, Kabupaten Semarang, Salatiga, dan Klaten. (H7,H37-60) |