logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 19 Agustus 2007 NASIONAL
Line

Bung Karno Baca Ulang Teks Proklamasi


SM/Budi Winarto REKAMAN VIDEO: Pakar telematika Roy Suryo saat memperlihatkan rekaman video pidato Bung Karno pada peringatan Hari Kemerdekaan RI tahun 1966 di depan peserta Reuni SMAN 1 Semarang, kemarin.

SEMARANG- Setelah menemukan dokumen video berisi lagu Indonesia Raya dengan tiga stanza yang menimbulkan kontroversi, pakar telematika, Roy Suryo, bakal mengungkapkan lebih banyak lagi dokumen sejarah bangsa yang tersembunyi. Beberapa di antaranya adalah tentang Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dan rekaman suara Bung Karno saat membacakan teks Proklamasi.

Menurutnya, suara Bung Karno saat membaca teks proklamasi yang selama ini didengar, tidak direkam langsung pada 17 Agustus 1945. Rekaman tersebut dibuat pada 1949. Hal tersebut berdasarkan kesaksian Jusuf Ronodipuro yang saat itu menjadi Kepala RRI Jakarta.

''Proklamasi itu memang benar dilakukan Bung Karno dan Bung Hatta. Tapi ada beberapa peristiwa yang harus diluruskan. Pada saat itu Indonesia tidak menyiarkan proklamasi karena dilakukan dalam keadaan insidentil,'' terangnya.

''Sebenarnya, Bung Karno tidak setuju kalau proklamasi diulang. Karena proklamasi hanya ada sekali. Jika diulang dikhawatirkan akan menimbulkan kekacauan. Tapi dengan pertimbangan agar anak cucu bisa mendengar proklamasi seperti apa, Bung Karno akhirnya mau pembacaan Proklamasi direkam,'' imbuhnya.

Surat Pengamanan Kewenangan

Sedangkan untuk Supersemar, Roy masih melengkapi fakta dan data sejarah. Perburuan terhadap arsip berupa rekaman video dan dokumen teks pun terus dilakukan. Salah satu rekaman video yang menyangkut Supersemar ditemukan di Arsip Nasional Republik Indonesia.

Rekaman video tersebut berupa pidato Bung Karno di peringatan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1966. Dalam pidatonya, presiden pertama Indonesia itu menyatakan surat perintah sebelas maret bukanlah surat perintah pergantian kekuasaan atau transfer authority. Surat perintah tersebut hanya surat pengamanan kewenangan presiden dan menjaga kewibaan presiden.

Rekaman video tersebut diperlihatkan Roy Suryo di hadapan peserta Reuni Alumni Angkatan 79 SMAN 1 Semarang di aula sekolah tersebut Sabtu kemarin.

''Dengan mendengar pidato tersebut, tidak pas kalau surat perintah 11 Maret disebut Supersemar, tapi Superbagong. Mengingat dalam pewayangan tidak ada yang namanya Semar kembar,'' ungkapnya.

''Aplikasi teknologi komunikasi informasi dan multimedia memang dapat digunakan untuk ''menerawang'' ke depan maupun ''melihat'' ke belakang. Dengan teknologi tersebut diharapkan masih banyak lagi realita sejarah negara ini yang bisa diungkap. Termasuk Superbagong itu,'' tambahnya.

Hingga kini, keberadaan surat asli Surat Perintah 11 Maret memang masih jadi tanda tanya. Selama ini surat tersebut dimengerti sebagai kejatuhan Soekarno dan awal kekuasaan Soeharto.

''Untuk menegakkan kebenaran, apapun risikonya akan saya terima. Itu bagian dari demokrasi,'' tandas Roy. (H13, J8-11)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA