Memasuki usia kemerdekaan ke-62, bangsa dan negara kita masih harus
bergulat dengan berbagai persoalan yang begitu beragam. Kadang kita merasa
sudah melompat jauh ke depan dalam menata kehidupan demokrasi, tetapi pada
aspek lain justru mundur ke belakang karena tingkat kemakmuran dan pemerataan
yang masih seperti berjalan di tempat. Ukurannya selalu pada output
dan bagaimana kita bisa menyelesaikan persoalan mendasar seperti kemiskinan
dan pengangguran. Harus diakui, kita masih sangat rentan dalam soal ini,
dan masih tertatih-tatih menghadapi persaingan global yang kian mencekam.
|
 |
Sangat tepatlah refleksi Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang disampaikan
Keuskupan Agung Semarang (KAS) dengan mengaksentuasikan persoalan kesenjangan
antara ungkapan iman dengan perwujudan iman. Menurut Uskup Agung Mgr Ignatius
Suharyo, kesenjangan itu semakin lebar. Tidak sedikit orang berpendapat,
yang penting ungkapan iman dalam bentuk upacara dan doa, sementara perwujudan
iman dilalaikan. Banyak yang berpikir beragama sudah cukup, dengan demikian
ibadah, doa, dan upacara keagamaan dapat lepas sama sekali dari moralitas
hidup pribadi maupun sosial.
|