SUARA MERDEKA
 
INDEKS WACANA Kamis, 16 Agustus 2007

Memasuki usia kemerdekaan ke-62, bangsa dan negara kita masih harus bergulat dengan berbagai persoalan yang begitu beragam. Kadang kita merasa sudah melompat jauh ke depan dalam menata kehidupan demokrasi, tetapi pada aspek lain justru mundur ke belakang karena tingkat kemakmuran dan pemerataan yang masih seperti berjalan di tempat. Ukurannya selalu pada output dan bagaimana kita bisa menyelesaikan persoalan mendasar seperti kemiskinan dan pengangguran. Harus diakui, kita masih sangat rentan dalam soal ini, dan masih tertatih-tatih menghadapi persaingan global yang kian mencekam.

Sangat tepatlah refleksi Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang disampaikan Keuskupan Agung Semarang (KAS) dengan mengaksentuasikan persoalan kesenjangan antara ungkapan iman dengan perwujudan iman. Menurut Uskup Agung Mgr Ignatius Suharyo, kesenjangan itu semakin lebar. Tidak sedikit orang berpendapat, yang penting ungkapan iman dalam bentuk upacara dan doa, sementara perwujudan iman dilalaikan. Banyak yang berpikir beragama sudah cukup, dengan demikian ibadah, doa, dan upacara keagamaan dapat lepas sama sekali dari moralitas hidup pribadi maupun sosial.

NAMPAKNYA pemerintah tidak boleh terlambat lagi dalam mengambil kebijakan secara tegas guna melindungi tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. 

PERISTIWA yang menimpa empat tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi belum lama ini bukan yang pertama. Peristiwa semacam itu hampir setiap tahun terjadi. 

Semboyan Merdeka atau Mati di tahun 1945 bagi generasi Angkatan '45 bukan sekadar hiasan bibir, tetapi tekad untuk mempertahankan kemerdekaan melawan penjajah Belanda yang datang kembali setelah Proklamasi. Artinya para pejuang rela mati di pertempuran melawan tentara Nica walau sebagian hanya bersenjata bambu runcing untuk melawan senjata modern dan tank musuh.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA