| Rabu, 18 Juli 2007 | SALA |
Tali Kasih Ibu dan Anak Itu Terpaksa Terputus
SUASANA Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Assalam Gemolong kemarin terasa begitu berbeda. Beberapa karyawan RS yang biasanya sibuk, terlihat berkerumun di salah satu bangsal. Mimik haru terlihat dari raut muka mereka saat mengantar Tia ke ambulans untuk kemudian dibawa ke rumah sakit jiwa daerah (RSJD) Surakarta. Ya, Tia, pengidap gangguan jiwa yang melahirkan di jalanan Dukuh Sarigunan, Desa Kragilan, Kecamatan Gemolong, Sragen, Sabtu (14/7) lalu harus dipisahkan dari bayi yang baru dilahirkannya. Dia dirujuk Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Assalam Gemolong ke RSJD karena kondisinya dinyatakan sehat. Hati siapa tak teriris menyaksikan perpisahan ibu-anak itu meski sang ibu mengidap gangguan jiwa. "Pihak Dinas Kesejahteraan Sosial (Dinkesos) Kabupaten Sragen meminta kami untuk segera memindahkan Tia ke RSJ. Sebab kondisinya sudah stabil dan bisa dititipkan di sana," ujar Bagian Humas RSIA, Agus S. Keputusan itu sudah direncanakan semenjak Tia masuk RSIA agar tidak terlalu membebani RS. Pemindahan ini erat kaitannya dengan perlakuan bagi orang yang mengidap gangguan kejiwaan. "RSJD adalah tempat yang paling layak utnuk menampung Tia. Adapun bayi perempuannya masih dirawat di ruang perawatan bayi, menunggu keluarga yang akan mengadopsinya," jelas dia. Agus juga mengungkapkan, ada tiga keluarga yang berkeinginan mengadopsi bayi itu. Namun, ia belum bersedia menyebutkan siapa-siapa keluarga yang akan mengadopsinya. Mereka telah melakukan registrasi pengadopsian ke RSIA maupun ke Dinkesos. Beberapa karyawan RS mengaku merasa haru atas saat melepas kepindahan Tia. Sebab selama tiga hari mereka merawat ibu dan bayi malang itu penuh belas kasih. Bagi mereka pengalaman merawat keduanya sangatlah berharga. "Sebenarnya kasihan juga harus memisahkan Tia dengan bayinya itu. Namun, hal itu harus tetap dilakukan, demi keselamatan mereka berdua," ujar Emi, salah satu perawat yang setiap hari mengurusi mereka berdua. Dia menuturkan, pagi itu ia sempat mengamati tingkah laku Tia. Wanita itu nampak tegang sekali pagi itu. Bahkan, ia juga menolak ketika mau disuapi. Mungkin naluri keibuannya merasakan kalau akan dipisahkan dengan anaknya. Marsono (69), karyawan lain mengutuk lelaki tak bertanggungjawab yang tega menghamili wanita pengidap gangguan kejiwaan itu. "Saya tidak bisa berkata apa-apa saat itu. Saya hanya bisa berdoa demi kebaikan mereka dari dalam hati saja." (67) |