logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Juli 2007 SALA
Line

Dikira Atlet Jepang

MESKI sama sekali tidak berkulit kuning layaknya warga Jepang, Yasin Tanaka sering membuat orang terkecoh. Atlet panjat tebing asal Pengcab Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Klaten yang baru saja menyebet medali emas di putaran pertama sirkuit panjat tebing Asia Tenggara di Yogyakarta Juli 2007 itu, sering dikira warga Jepang. ''Padahal nama saya memang asli seperti itu. Tapi saya lahir di Wonogiri,'' ujar lajang kelahiran 9 Oktober 1985 itu.

Mahasiswa semester VIII FH UNS itu bahkan merasa aneh jika dirinya dikatakan mirip orang Jepang. Meski matanya sipit, tetapi kulitnya yang hitam manis tentu membedakannya dengan warga negeri Sakura.

Pemegang medali perunggu Kejurnas Panjat Tebing Nasional Kelompok Umur 18 di Surabaya tahun 2003 itu mengatakan, dia tidak kikuk meski namanya dikaitkan dengan orang Jepang. Yang penting baginya adalah dia tetap warga negara Indonesia.

Cowok dengan tinggi badan 169 centimeter itu blak-blakan mengaku, terjun ke dunia panjat bukan cita-cita. Meski puluhan piala dan medali berhasil dia koleksi, namun kegiatannya merayap di dinding itu dikatakan hanya kebetulan.

Tahun 2002 dia bergabung dengan kegiatan pecinta alam di SMA. Setelah kuliah, kegemaran memanjatnya semakin menggebu.

Sampai akhirnya event lokal, nasional, dan internasional dilahapnya. Maklum, juara III kelas kecepatan (speed) Kejurda Panjat Jateng-DIY 2005 itu juga mendapat dukungan orang sekitar.

Tak hanya orang tua, pacar dan teman. Bahkan para dosennya di UNS juga men-support. Posisinya di urutan pertama klaseman sementara sirkuit Asia Tenggara 2007 tentu saja membuatnya repot. Sebab, di putaran berikutnya yang entah akan digelar di negara mana, dia harus ikut. (Achmad Hussain-63)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA