logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Juli 2007 OLAHRAGA
Line

Sasana Garuda Emas Tak Surut Prestasi

PATAH tumbuh hilang berganti. Rupanya, kata-kata itu lebih cocok kalau dialamatkan kepada Sasana Wushu Garuda Emas. Bagaimana tidak ? Sasana yang berdiri 12 Mei 1980 tak henti-hentinya menyumbang atlet-atlet nasional.

Kenyataan itu baru terlihat, setelah cabang olahraga wushu masuk Indonesia pada 1992. Seiring masuknya wushu di Indonesia itu pula, sasana yang sebelumnya mempunyai nama Siauw Lim Hong Yang Pay Garuda Emas, semakin semangat melakukan pembinaan.

Terbukti, pada tahun berikutnya empat atlet, masing-masing Eko Sapuan, Sutantyo, Foni, dan Meliani sudah dipanggil oleh Timnas, untuk persiapan SEA Games 1993 di Singapura. Tidak lama kemudian, muncul nama Seno Prakoso yang selalu menjadi langganan Timnasm baik SEA Games maupun Asia Games.

Kenyataan seperti itu masih berlanjut pada SEA Games 2005 di Manila lalu. Sasana yang hanya khusus membina nomor taolu (peragaan jurus) tersebut, masih bisa mengorbitkan nama Hariyanto, berkat prestasinya merebut medali emas dalam PON XVI Palembang tahun 2004.

''Tidak boleh dipungkiri, Sasana Garuda Emas adalah aset Jateng dan aset nasional untuk nomor taolu, sama halnya dengan Sasana Lindu Aji di nomor sanshou (perkelahian). Masalahnya, sebelum wushu didirikan oleh Bapak IGK Manila pada 10 November 1992, jauh-jauh sebelumnya Garuda Emas sudah melakukan pembinaan,'' jelas Sekum Pengda Wushu Indonesia (WI) Jateng, Drs Sudarsono.

Sekarang ini, sasana yang sebelumnya menggunakan aula GOR Trilomba Juang itu, juga berhasil mendominasi atlet-atlet taolu Tim Bayangan Pra-PON Jateng, yang dipersiapkan untuk mengikuti Babak Kualifikasi PON XVII, di Medan, akhir Juli ini. Mereka adalah Heriyanto, Bili Erdiyanto, Silfia Kristianti, Apriyantoro, dan Teguh. Mereka ditangani oleh seniornya, Eko Sapuan di Wisma Wushu Jateng, kompleks Marina.

Pemain Pelapis

Rupanya, sasana yang kini menggunakan aula Klenteng Gang Lombok untuk latihan tersebut, tidak pernah surut dari prestasi. Para atlet yang rata-rata masih berusia dini tersebut berhasil merebut tiga medali emas, empat perak, dan tiga perunggu atas nama Devi Indaryanti Taryono, Faustina Chandra, Nikolas Arief WP, Genny Kusuma W, dan Dessy Wulandara EY.

''Prestasi yang sudah begitu bagus, tetapi sampai sekarang masih belum ada perhatian. Jadi kalau sewaktu-waktu klenteng digunakan, sekitar 100 atlet yang kami bina terpaksa harus kami liburkan, karena di tempat tersebut hanya sebatas pinjam,'' kata Ketua Harian Agung Tjahyono SE, sambil menyebut DKI dan Sumut, sebagai saingan terberat. (Mundaru Karya-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA