logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Juli 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Kembalikan Air ke Tanah

Penduduk di daerah Klaten dan Gunungkidul kekurangan air. Ini salah satu dampak dari pembabatan hutan. Tetapi para bupati dan gubernur serta Departemen Kehutanan tidak berbuat banyak dalam penghijauan dan penghutanan kembali daerah-daerah yang gundul. Malah tidak sedikit oknum aparat yang terlibat atau menjadi pelaku penebangan pohon tanpa melakukan penanaman kembali.

Sungguh tidak bertanggung jawab dan egois, hanya memperkaya diri. Masyarakat bertanya, dana reboisasi triliunan rupiah itu dikemanakan? Kok Sumatra dan Kalimantan sebagian besar sudah gundul. Akibatnya sungguh luar biasa, banjir besar di mana-mana dan saat musim panas kekurangan air.

Antisipasinya adala sumur resapan (SR) tradisional yang biasanya berdiameter lebih dari 1 meter dan dalamnya 2 meter, sehingga cukup memakan tempat. Sayangnya tidak diimplementasikan dengan baik, mungkin karena biayanya relatif mahal. Juga kesadaran aparat Pemda minim, itu pun kalau masih ada yang sadar lingkungan.

Banyak sekolah, kompleks ruko, tempat peribadatan yang umumnya berhalaman luas hanya membuat satu atau dua sumur resapan atau malah tidak sama sekali. Padahal menurut hemat saya, paling tidak dibuat sumur resapan setiap 200 m2 tanah. Sekarang ada teknologi baru yaitu Lubang Resapan Biopori (LRB).

Cukup praktis dan mudah karena hanya membuat lubang dengan diameter 15 cm-30 cm sedalam 1 meter. Lubang diberi sampah organik sektiar 25 cm kemudian ditanami mungkin jenis perdu. Dengan membuat LRB sebanyak mungkin maka kita bisa mengembalikan air hujan ke dalam tanah.

Dengan demikian air tanah yang dipakai sehari-hari, dikembalikan pada waktu hujan. Masyarakat perlu disadarkan terus-menerus perlunya mengembalikan air yang dipakai. Kalau tidak maka air akan habis. Kita bisa meniru PLN yang dengan gencar mengimbau masyarakat mematikan 2 lampu dari pukul 17.00 s.d 22.00.

Untuk membuat lubang tentu saja melalui RT/RW harus diberi alat bor LRB seperti yang dilakukan oleh Pemkot Bogor. Efek sampingnya, memberi lapangan pekerjaan baik bagi pembuat alat bor maupun dalam membuat lubang resapannya.

Suryanto Wibowo

Persada Kemala B5 RT 5/RW 13

Jakasampurna, Bekasi Barat

Soal Mengambil Hakku

PT Indosat Tbk. mengucapkan terima kasih atas masukan Bapak Iwan Setyawan Jl Pondok Raden Patah II H/2 Demak yang dimuat di Surat Pembaca 28 Juni 2007 berjudul "Mengambil Hakku". Kami mengklarifikasi atas keluhan mengenai Program Free Talk dan beliau bisa mengerti serta telah mendapatkan Free Talk Rp 10.000.

Dengan demikian, masalah tersebut telah terselesaikan dengan baik. Masukan dan saran tetap kami terima demi peningkatan kualitas layanan kepada para pengguna kartu seluler Indosat. Silakan hubungi customer service kami atau langsung ke Galeri Indosat terdekat.

Susi Rachmawati (08552658168)

Humas PT Indosat Central Java & DIY Region

***

PLN, Bagaimana Ini?

Saya membuka toko di daerah Karangrejo Semarang. Karena butuh maka saya pasang listrik dengan daya 2200 watt, (rekening terlampir). Memang pemakaian listrik dilihat dari rekening pertama bulan Mei 2007 ke Juni di bawah 250 kwh, karena ikut program "Bersinar". Berarti tidak ada biaya beban bulanan, tetapi pemakaian di bawah 250 kwh akan dikenakan biaya pemakaian 250 kwh.

Anehnya setelah membayar rekening bulan Mei sebesar Rp 224.815 dengan pencatatan stan awal 1, untuk bulan Juni stan awal mulai dihitung dari 1 lagi sampai stan akhir 476 dengan pemakaian sebanyak 475 kwh, saya harus membayar Rp 427.450. Bagaimana bisa begitu.

Saya komplain ke PLN Ngesrep sampai 3 kali, tapi mereka mengatakan pencatatan di lapangan yang salah dan uang yang sudah masuk tidak dapat diambil kembali. Atau bisa dikompensasikan untuk bulan berikutnya dengan alasan saya ikut program "Bersinar" yang tanpa biaya beban. Berarti uang yang sudah saya bayarkan bulan Mei sebesar Rp 224.815, raib.

Bukan karena besarnya uang tapi apakah kesalahan pencatatan yang dilakukan petugasnya mengorbankan pelanggannya. Bagaimana PLN memberikan solusinya, saya mohon penjelasan. Jangan saya dirugikan karena selama ini pun saya sudah menjadi pelangganmu dengan baik. Mohon kinerjanya diperbaiki.

Nidyaka Wahyadi (08122908505)

Jepang pakis RT 3/RW 3, Kudus

***

Tentang Selular Shop

Berdasar keluhan saya beberapa waktu lalu tentang ponsel W710i, pihak Selular Shop Semarang telah memberikan tanggapan baik dan memuaskan. Melalui wakilnya, Bapak Joseph, telah menyelesaikan masalah ponsel tersebut. Terima kasih Seluler Shop telah mengutamakan kepentingan konsumennya.

Variant Altama

Wahyu Asri VIII/B 85, Semarang

***

Wali Kota Pekalongan

Formasi CPNS di Kota Pekalongan yang diumumkan 2 Juli 2007 ternyata belum memuaskan semua pihak, terutama pendidikan luar sekolah yang juga disebut pendidikan nonformal. Berdasarkan pengumuman tersebut, lebih banyak guru bantu yang diangkat. Sementara pendidikan nonformal, hanya satu dari PKBM.

Bagaimana pendidikan nonformal (PLS) akan berkualitas, kalau daya dukung dari pemerintah sangat minim. Dalam Sistem Pendidikan Nasional diakui ada tiga jalur pendidikan; pendidikan formal, nonformal dan informal. Pendidikan formal meliputi TK dan berjenjang sampai perguruan tinggi, sedangkan nonformal sebagai penambah, pelengkap dan/atau pengganti pendidikan formal.

Meliputi: kesetaraan terdiri dari Kejar Paket A, setara SD; kejar Paket B, setara SLTP; kejar Paket C, setara SLTA. Keaksaraan fungsional yaitu pemberantasan buta aksara, PAUD usia 0-6 tahun, pendidikan gender dan life skill serta kepemudaan. Pendidikan nonformal, sebagaian besar sasarannya masyarakat yang termarginalkan, yang tidak dapat menyelesaikan sekolah formal.

Dengan demikian pendidikan nonformal sangat dibutuhkan untuk menuntaskan Wajar Dikdas dan program lain bagi masyarakat kecil. Hanya saja, tenaga pendidik dan kependidikannya sebagaian besar adalah kontrak dan masyarakat, belum banyak PNS-nya.

Se-Kota Pekalongan hanya 8 penilik sedang Tenaga Lapangan Dikmas (TLD), Fasilitator Desa Intensif ( FDI) dan tutor semua masih kontrak. Bagaimana meningkatkan pendidikan nonformal kalau tenaga pendidik dan kependidikan belum CPNS termasuk TLD, FDI, dan lainnya. Mohon dipertimbangkan untuk segera diangkat CPNS.

Suprayitno SAg

TLD UPTD Pendidikan

Kec Pekalongan Utara

***

Fuji Film Digital

Beberapa waktu lalu orang tua saya beli kamera digital merk Fuji Mpix 3.1 MP yang di dalamnya terdapat 4 lembar voucher cetak foto digital (terlampir), masing-masing lembar bertuliskan 25 lbr 4R.

Pada voucher tertulis:voucher tidak dapat ditukar uang, hanya dapat digunakan di toko Fuji Film Digital Photo Service dan berlaku s.d ....(kosong).

Beberapa saat setelah kamera dipakai, 1 lembar voucher untuk 25 lembar foto digunakan dan tidak ada masalah. Tetapi ketika mencetak foto dengan voucher kedua ternyata di 3 Fuji Film Digital Photo Service di Semarang yar\itu di Siliwangi, Gajahmada dan Majapahit semuanya menolak. Alasannya masa berlaku sudah berakhir.

Padahal tidak ada ketentuan masa berlaku voucher yang harus diisi atau hanya berlaku di satu cabang FDI tertentu saja. Saya kecewa karena sebelumnya sudah tanya via telepon dan dijawab bisa dilayani pakai voucher tersebut. Tetapi ketika sampai di FDI malah ditolak.

Beginikah service Fuji terhadap pelanggan. Jika karena keteledoran mereka atau penjual, voucher tidak ditulis masa berlakunya dan dalam ketentuan layanan tidak tercantum syarat yang harus diisi/dicap. Kenapa pelanggan yang dirugikan. Memang "cuma" 75 lembar foto ukuran 4R saja, tapi perasaan kecewa karena tertipu membuat saya kapok.

Kepada pengguna yang lain agar hati-hati dan cermati masa berlakunya voucer atau segera gunakan sebab jika tidak, voucher tersebut akan sia-sia.

Yulia Dwimulyani

Jl Kelud Utara II/2, Semarang

***

Mau Untung Rp 1.000

Malah Rugi Rp 22.000

Tanggal 21 Juni 2007 pukul 11:55 dan pukul 19:55, saya melakukan transaksi Simpati masing-masing Rp 10 ribu ke 081 396 079 222 dengan menggunakan M-Kios. Di transaksi M-Kios sukses, tetapi di pelanggan belum pulsa belum masuk. Saya mencoba menghubungi 116, selalu sibuk dan hal ini sering terjadi . Selama ini saya diam.

Pada 23 Juni 2007 pukul 09:00 saya komplain ke Grhapari Pandanaran Semarang tapi jawabannya kurang memuaskan. Mereka meminta saya menunggu sampai 27 Juni 2007, baru pulsa masuk. Berarti sistem di Telkomsel kurang bagus. Saya sebagai penjual pulsa sangat dirugikan.

Komplain ke Grhapari saja tidak membuahkan hasil, lalu ke mana harus mengadu. Apa saya mesti komplain ke DPR?. Ingat, tanpa penjual pulsa di pinggir jalan, perusahaan tidak akan jaya. Maunya untung Rp 1.000 tapi malah rugi Rp 22.000 yaitu isi ulang 2 x Rp 10 ribu ditambah biaya telepon Rp 2 ribu

Panuluh A Riyanto SKom.

Jl Balekambang IX/9, Semarang

***

Gaya Penipu

Terbongkarnya sindikat penggelapan dan penjualan mobil rental oleh Unit Ranmor Polwiltabes Semarang, menuntut semua lebih selektif dan waspada. Selain penipuan yang lagi marak lewat SMS, modus yang satu ini juga perlu diwaspadai karena jaringannya masih berkeliaran khususnya Pati dan Kudus. (Suara Merdeka, 26 April 2007).

Taktik yang digunakan dengan cara meminjamkan/menggadaikan mobil kepada korbannya. Mobil-mobil ini konon milik sebuah koperasi di Semarang yang dipinjamkan kepada masyarakat dengan agunan atau menitipkan sejumlah uang berkisar Rp 10 juta s.d Rp 25 juta.

Uang titipan dikembalikan jika mobil tidak dipakai lagi tanpa potongan atau bunga, setelah sebelumnya memberi uang administrasi Rp 1,5 juta selaku anggota koperasi. Mobil yang kebanyakan bernomot H dan B jenis Kijang, Taruna, Xenia, Avanza dan APV ini setelah diterima korban akan diroling dalam waktu satu dua minggu dengan alasan perawatan atau perbaikan.

Pada saat itulah biasanya anggota sindikat melakukan aksinya. Satu dua putaran mobil benar-benar diganti, namun setelah itu tidak kelihatan lagi karena dipindah ke daerah lain untuk umpan korban baru dengan cara menggadaikan kepada korban barunya. Uang jaminan juga tidak dikembalikan hilang bersama mobilnya.

Tersangka yang masih buron bebas berkeliaran dan berdomisili di daerah Pati. Masyarakat harus lebih waspada dengan modus ini. Choirun Niam, anggota komplotan ini berpenampilan meyakinkan merayu korbannya. Dia tak segan-segan menggunakan nama salah seorang kiai terkenal di daerah Dukuhseti Pati.

Ditambah lagi dia berasal dari kota santri di Margoyoso. Lengkaplah atribut penipu ini sehingga dipastikan cepat mendapat korban, yang kebanyakan berasal dari kalangan madrasah, pemuka agama, pegawai.

Para korban tak bisa berbuat banyak, mengingat membawa nama baik seseorang dan juga tidak tahu ke mana harus mengadukan kejadian ini.

Hadi Sunaryo SE

Puri RT 1/RW 9 Puri, Pati

***

Tanggapan soal

Penukaran Uang

Menanggapi tulisan di Surat Pembaca 16 Juli 2007 mengenai "Penukaran Uang di BI", kami sampaikan bahwa kekurangnyamanan yang dialami Bapak Hariono menjadi concern kami untuk tidak terulang lagi. Untuk itu kami mohon maaf. Namun kami juga ingin menyampaikan beberapa Informasi kepada masyarakat terkait penukaran uang di BI agar pengalaman Bapak Hariono dapat dihindari, yaitu :

Waktu pelayanan penukaran uang di BI adalah pukul 08.00 s.d.12.00 WIB, sehingga masyarakat dapat menyesuaikan dengan jam layanan tersebut. Kami merasa senang bila masyarakat dapat membawa uangnya dalam keadaan rapi, baik untuk uang yang rusak maupun belum sehingga pelayanan akan menjadi lebih cepat.

Penukaran uang tidak hanya dilakukan di kantor Bank Indonesia, tetapi juga di tempat lain yang ditunjuk resmi oleh kantor BI Semarang yaitu di Perusahaan Penukaran Uang Pecahan Kecil (PPUPK). Saat ini, terdapat 3 lokasi yaitu PT Trans Dana Profitri Jl Kompol Maksum 233-235 telp (024) 8314865, PT Bara Musi Pancoran di kompleks Ruko Siliwangi Plasa telp (024) 7604025 dan PT Gunung Arta Sejahtera Jl Dr Cipto 88 B telp (024) 3510983.

Noviatini

Pangawas Bank Madya BI Semarang

***

Soal Kupon Undian

Sehubungan tulisan saya di Surat Pembaca 6 Juli 2007 tentang "Kupon Undian", kini permasalahannya sudah terselesaikan dengan baik oleh Toko Mas ABC pada hari itu juga. Saya berterima kasih kepada toko tersebut yang telah menanggapi dan merespons keluhan konsumen dan menyelesaikan permasalahannya.

Lily/Vera

Jl Dr Suratmo 315, Semarang

***

Haji Berkali-kali

Ketika menyambut teman yang baru pulang haji, iseng-iseng saya bertanya kepadanya apakah ingin kembali lagi ke Mekah? Jawabannya tegas, ingin. Hampir seluruh jamaah haji juga menjawab begitu. Hanya satu-dua yang menyatakan: "Saya ingin beribadah haji sekali saja". Jawaban itu menunjukkan antusiasme umat Islam Indonesia beribadah haji.

Sekilas, itu juga menunjukkan nilai positif karena beribadah haji berkali-kali dianggap sebagai barometer "ketakwaan" dan "kesejahteraan" dirinya. Tapi dari kacamata agama, itu tidak selamanya positif. Menurut Imam Besar Masjid Istiqal, Ali Mustafa Yaqub, dalam Islam ada dua kategori ibadah.

Yaitu ibadah qashirah (ibadah individual) yang manfaatnya hanya dirasakan pelakunya dan ibadah muta'addiyah (ibadah sosial) yang manfaatnya dirasakan pelakunya dan orang lain. Ibadah haji dan umrah termasuk qashirah. Karenanya, ketika pada saat bersamaan terdapat ibadah qashirah dan muta'addiyah, Nabi SAW tidak mengerjakan qashirah, melainkan memilih muta'addiyah.

Menyantuni anak yatim termasuk ibadah muta'addiyah. Misal oleh Nabi SAW, penyantunnya dijanjikan surga, malah kelak hidup berdampingan dengan beliau. Sementara untuk haji mabrur, Nabi SAW hanya menjanjikan surga, tanpa janji berdampingan bersama beliau. Ini bukti, ibadah sosial lebih utama ketimbang individual.

Ketika banyak anak yatim telantar, puluhan ribu orang menjadi tunawisma akibat bencana alam, balita busung lapar, ratusan orang terkena PHK, orang makan nasi aking dan rumah yatim serta bangunan pesantren terbengkalai, lalu pergi haji kedua atau kali ketiga, maka patut bertanya pada diri sendiri, apakah hajinya karena melaksanakan perintah Allah? Ayat mana yang menyuruh kita melaksanakan haji berkali-kali, sementara kewajiban agama masih segudang di depan mata.

Joko Suprayoga

Jl Dieng I/40 Perum Brangsong, Kendal

***

Dari Karya Rejeki Motor

Menanggapi keluhan Bapak Erliawan S Budianto 11 Juli 2007 di Surat Pembaca, saya selaku pimpinan Karya Rejeki Motor Semarang mohon maaf atas ketidaknyamanan yang Bapak rasakan. Kami hari itu juga menemui beliau untuk mengklarifikasi permasalahannya sbb:

Untuk hadiah ponsel dan TV 21 ada perbedaan persepsi dan setelah dijelaskan langsung, terjadilah kesepahaman. Sedang keluhan produk sudah dilakukan perbaikan dan diterima dengan baik. Bila ada keluhan produk maupun layanan dapat langsung menghubungi kami pada kesempatan pertama.

Norman Mulyadi

Jl MT Haryono 822, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA