logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Juli 2007 WACANA
Line

Wisata Ziarah di Solo

  • Oleh Heri Priyatmoko

POTENSI wisata bisa dibagi dalam tiga kelompok, yaitu objek wisata alam, wisata budaya, dan wisata ziarah. Tampaknya, beberapa daerah di Indonesia sudah berhasil mengembangkan objek wisata ziarah.

Bagi Indonesia, Gresik adalah kota yang paling kaya akan objek wisata ziarahnya. Kabupaten Kudus dikenal masyarakat luas, karena makam Sunan Kudus, dan Kota Malang dengan Pesarean Gunung Kawi.

Di luar negeri pun, wisata itu menjadi agenda rutin keluarga di hari libur. Di tapal batas Washington DC, terdapat sebuah makam luas yang menjadi daya pikat pengunjung, yaitu Arlington Cemetery. Anggapan mereka, tempat itu seolah membawa kenikmatan kepada kenangan masa lalu.

Objek wisata ziarah yang ada di Kota Solo antara lain, Astana Pajimatan Laweyan, makam Kyai Gedhe Sala, makam Sultan Hadiwijoyo, dan makam Kyai Pabelan. Pada bulan Ruwah dan malam Jumat Kliwon, tempat-tempat sakral tersebut dipadati oleh pengunjung dari eks Karesidenan Surakarta.

Berkat dan rahmat, rupanya menjadi hal menarik dari tempat-tempat yang menjadi tujuan peziarahan itu. Mereka juga sering melakukan lek-lekan (begadang) semalam suntuk, sambil tirakat dan berdoa.

Banyak warga meyakini rutinitas itu tak hanya mengingatkan kepada leluhur, tapi juga mempererat tali silaturahmi. Bahkan, ada pula wisatawan asing yang mengunjungi makam karena kagum akan sejarah asal-usul makam tersebut.

Sayang, potensi wisata minat khusus itu tidak dikembangkan alias belum dilirik oleh pemangku kepentingan di Solo. Padahal, ditinjau dari bobot sejarah dan kesakralan, objek-objek itu layak untuk "dijual" seperti yang dilakukan penguasa kota lain.

Misalnya Astana Pajimatan yang mengadung nilai historis mendalam tentang tokoh-tokoh sejarah keraton. Antara lain, Susuhunan PB II yang berhasil memindahkan Keraton Kartasura ke Desa Sala hingga menjadi Keraton Kasunanan.

Prospek Bisnis

Menurut foklor, beliau ingin dimakamkan dekat dengan Kyai Ageng Henis, dan bertujuan untuk menjaga keraton dari serangan musuh. Selain itu, di pekuburan tersebut ada makam seorang permaisuri PB V, yakni Pangeran Widjil I Kadilangu. Tokoh tersebut semasa hidupnya mengabdikan diri kepada PB II hingga PB III sebagai pujangga dalem. Pangeran tersebut berperan memprakarsai kepindahan keraton dari Kartasura ke Surakarta.

Kemudian, Nyai Ageng Pati Nyai Pandanaran Prabuwinoto, ialah anak bungsu PB IX. Dia seorang dalang Keraton Kasunanan yang kabarnya pernah diundang oleh Nyi Roro Kidul untuk mendalang di Laut Selatan.

Terakhir Kyai Ageng Proboyekso, tak lain merupakan jin Laut Utara yang bersama pasukan jin ikut membantu menjaga keamanan Keraton Kasunanan. Dimensi historis dan mitologis itulah, yang menjadi magnet wisatawan untuk berkunjung ke Surakarta.

Bila melihat cerahnya prospek bisnis wisata ziarah di beberapa kota sehingga mampu mendongkrak pendapatan asli daerah dan perekonomian penduduk sekitar yang ditandai dengan berdirinya toko-toko kecil sampai di lorong-lorong kampung, seharusnya hal itu menggugah kesadaran Pemerintah Solo untuk melakukan hal serupa.

Strategi yang ditempuh, yaitu membuat paket wisata ziarah beserta pendalaman sejarahnya dan menggelar festival atau napak tilas. Harapannya, supaya program itu tersebar ke seluruh pelosok Indonesia.

Dalam rangka mengoptimalkan program, pemerintah itu, perlu menggandeng pihak terkait untuk diajak bekerja sama.

Kegiatan itu, pada mulanya hanya ziarah berdasarkan tradisi, kemudian dikembangkan menjadi wisata ziarah sebagai bagian dari wisata Nusantara. Pastinya, aktivitas tersebut tak terlalu memakan biaya besar. Di sisi lain, makam bukan saja merupakan objek rekreasi semata, melainkan juga diminati untuk studi para sejarawan dan peminat genealogi.

Jangan dianggap remeh, walau hanya seonggok batu nisan tapi itu merupakan tonggak sejarah yang mampu mengungkap banyak hal. Jadi, sayang bila makam leluhur seperti itu tidak dilestarikan. Akibatnya, seperti yang terjadi sekarang, banyak makam dalam keadaan memprihatinkan.

Alang-alang tumbuh tinggi di kompleks pemakaman, dan beberapa batu nisan telah roboh sehingga tidak lagi dapat dikenali siapa tokoh yang ada di dalamnya.(68)

--- Heri Priyatmoko, mahasiswa Ilmu Sejarah, FSSR, UNS, pernah aktif di Pusat Penelitian dan Pengembangan Pariwisata, LPPM, UNS


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA