logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Juli 2007 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Denuklirisasi Korut Masih Panjang Berliku

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) akhirnya memastikan bahwa Korea Utara telah bersedia menutup reaktor nuklir Yongbyon. Penutupan reaktor yang digunakan untuk memproduksi bahan-bahan bom itu bagaimanapun menjadi berita yang melegakan di tengah-tengah kecamuk konflik global yang kian memanas. Apalagi kita tahu, penutupan reaktor itu dicapai melalui rangkaian proses negosiasi yang sangat panjang dan berbelit. Melalui perundingan enam negara, Februari lalu Korut setuju menutup reaktor nuklirnya dengan imbalan bantuan 50.000 ton bahan bakar minyak.

Perundingan enam negara yang melibatkan Korut, Korea Selatan, Amerika Serikat, China, Rusia dan Jepang, mengalami pasang surut dan proses yang alot. Upaya membujuk Korut untuk menghentikan program senjata nuklirnya sungguh tidak gampang. Terjadi proses bargaining yang terkadang berkesan sebagai sikap keras kepala. Misalnya, di tengah-tengah perundingan, Korut bahkan sempat melakukan uji coba rudal jarak jauh melintasi Laut Jepang, dan uji coba bom nuklir di bawah tanah. Dengan uji coba itu, pemimpin Korut Kim Jong-il mendeklarasikan Korut sebagai negara nuklir.

Penutupan reaktor Yongbyon bagai-manapun menandai sebuah babak baru dalam perundingan denuklirisasi Korut. Proses ini menjadi pengalaman berharga untuk mencoba menerapkan model perundingan terhadap Iran, yang dituduh Amerika Serikat berniat mengembangkan senjata nuklir dengan pembangunan reaktor Bushehr dan Natanz. Apakah im-balan dan insentif ekonomi yang diberikan kepada Korut menjadi dasar keberhasilan perundingan itu? Barang tentu terlalu sederhana untuk menyimpulkan bahwa insentif itulah yang mendorong Korut bersedia menutup reaktor nuklirnya.

Dihentikannya operasi reaktor paling ditakuti di Korut itu, meskipun sangat penting, hanyalah merupakan tahap kecil dari seluruh proses denuklirisasi. Bagaima-napun, tahap puncak yang diharapkan adalah penyerahan senjata dan bahan nuklir Korut untuk dihancurkan. Tahap ini bakal menjadi bagian yang paling menegangkan dan - pasti - paling sulit. Ter-lebih lagi, kesepakatan enam negara Fe-bruari lalu tidak menyebut apa pun me-ngenai senjata nuklir. Sejak awal Korut tidak bersedia menanggapi pembicaraan apa pun selama masih menyebut soal uranium dan senjata nuklir.

Tampak bahwa insentif bukanlah faktor utama di balik sukses perundingan. Dalam hal ini, haruslah diakui Korut secara cerdas berhasil ''memaksa'' pihak penentang - Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan - untuk percaya lebih dulu mereka memang beriktikad meng-hentikan program nuklir, tanpa perlu me-nyebut apa pun mengenai senjata nuklir dalam teks kesepakatan. Bagi Amerika, hal itu ibarat se-buah cek kosong, mengingat prosedur denuklirisasi total yang masih sangat panjang. Sedangkan bagi pihak Korut, faktor kepercayaan kedua belah pihak itulah pesan yang disodorkan.

Dengan demikian, proses lebih lanjut pascapenutupan reaktor Yongbyon bisa saja macet apabila faktor kepercayaan itu tidak dipegang teguh. Antara lain, dengan mengedepankan proses rekonsiliasi dan pembicaraan damai. Ujian paling awal adalah kesediaan Amerika untuk menghapus Korut dari daftar ''poros kejahatan'' (axis of evil) bersama Iran dan dulu Irak. Rekonsiliasi itulah sesungguhnya inti dari proses perundingan diplomatik, yang juga ditunggu masyarakat internasional, dan terutama Iran. Tanpa penekanan itu, Korut akan terus memaksimalkan elemen konfrontasi.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA