| Rabu, 18 Juli 2007 | NASIONAL |
Data Penerima Bantuan Diuji Publik
KLATEN- Gubernur Jateng Mardiyanto mengakui rehabilitasi 801 sekolah itu berat, namun prosedurnya jangan dibuat berbelit. Selain itu semua proyek dibuat laporan transparan dan sederhana. Laporan mencakup kondisi awal dan setelah penanganan serta dilengkapi data. Laporan semacam itu bisa menjadi gambaran proyek, sehingga dapat dipertanggungjawabkan. ''Saat ini masih ada 98 gedung yang belum tertangani dari 801 sekolah. Memasuki tahun 2008 semua ditargetkan selesai,'' ujar Gubernur saat meresmikan gedung Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah I Kradenan, Kecamatan Trucuk, Selasa (17/7). Tidak hanya rehab gedung sekolah, Gubernur berharap pembangunan rumah juga dilengkapi laporan. Apalagi bulan depan dana rehab/rekon tahap III sudah disiapkan. Sebelum dicairkan, data penerima akan diuji publik sehingga transparan. Saat ini ada sisa dana RR II senilai Rp 39 miliar yang masih dikonsultasikan ke pemerintah pusat. ''Dana itu bisa jadi akan dianggarkan di perubahan,'' lanjut dia. Akhir Tahun Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan akhir tahun 2007 rehabilitasi 801 gedung sekolah yang rusak akibat gempa 27 Mei 2006 selesai. Bahkan dengan banyaknya bantuan dari donatur swasta, Pemprov mematok sampai akhir tri wulan ketiga tahun ini sisa yang belum tertangani sudah selesai dibangun. MIM yang rusak berat akibat gempa itu diresmikan bersama delapan gedung lain yang dibangun dengan dana Rp 4 miliar lebih yang dihimpun Palang Merah Indonesia (PMI). Hadir mendampingi Gubernur, Ketua Umum PMI Dr Mar'ie Muhammad, Ketua PMI Daerah Jateng, Sasongko Tedjo MM, Bupati Klaten, Sunarna SE, dan wakil dari donatur. Dia juga berterima kasih kepada donatur yang dikoordinir PMI dalam pembangunan delapan gedung MIM dan gedung SMP PGRI 10 di Kecamatan Wedi. Ketua Umum PMI, Mar'ie Muhammad mengatakan sejak awal PMI fokus ke daerah terpencil dalam membantu rehab. ''Kami mengambil tempat yang belum dibantu orang lain, sehingga menumbuhkan semangat gotong-royong,'' ujar dia. Sektor pendidikan harus segera pulih. Sebab anak-anak adalah generasi masa depan. Bisa diibaratkan jika anak -anak tersenyum lepas, ke depan masyarakatnya juga cerah. Sebaliknya jika anak sekolah lesu, lesu juga masyarakatnya.(H34-77) | ||||