logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Juli 2007 NASIONAL
Line

Semarang Pesona Dunia

  • Oleh: Jaya Suprana

SM/dok

SAYA tidak tahu-menahu mengenai apa, bagaimana, kapan dan kenapa Semarang Pesona Asia dicanangkan. Namun saya sungguh terkejut ketika mendengar dan melihat sambutan skeptis, bahkan sinis, justru dari warga Kota Semarang sendiri terhadap slogan promosi Kota Semarang itu.

Saya tidak punya kepentingan politik, komersial atau apa pun untuk membela promosi Semarang Pesona Asia. Namun saya memang telanjur terperangkap rasa bangga menjadi warga Kota Semarang yang bagi saya adalah kota terindah, bukan hanya di Asia, melainkan di seluruh planet bumi ini.

Saya sudah melihat keindahan Kota Paris, Roma, Kyoto, Toledo, San Fransisco dan lain-lain yang konon terindah di dunia. Menurut saya, Kota Semarang memang tidak lebih tetapi tidak kalah dalam hal pesona keindahan ketimbang kota mana pun juga di marcapada ini.

Sebab pesona keindahan termasuk nilai estetika, maka apabolehbuat, sukataksuka, memang nisbi dan subyektif tergantung pada dimensi siapa, kapan, bagaimana dan dengan kaidah apa sang keindahan dinilai.

Inferiority-complex

Mungkin akibat terlalu lama dijajah bangsa asing terutama Belanda dan Jepang yang gemar melecehkan dan menginjak-injak harkat dan martabat bangsa terjajah-meski sudah hampir 62 tahun merdeka secara politik dan militer-namun secara mental kebudayaan sebenarnya bangsa Indonesia, termasuk warga Kota Semarang, masih dijajah habis-habisan oleh imperialisme kebudayaan. Maka secara psiko-sosial menderita inferiory-complex, rasa rendah diri yang kronis.

Bahkan di antara warga kota-kota besar di Indonesia, tampaknya warga Semarang yang paling minder, paling merasa bahkan paling yakin Kota Semarang paling tidak punya pesona apa pun untuk dibanggakan.

Maka ketika mendengar istilah Semarang Pesona Asia, langsung sebagian warga Kota Semarang sendiri kaget lalu malu lalu sinis lalu protes terhadap program yang dianggap muluk-muluk, tidak realistis, mubazir bahkan mempermalukan Kota Semarang yang tidak punya pesona kok dibilang pesona, bahkan sampai Asia segala!

Maka terpaksa kini sebagai warga Kota Semarang, saya protes terhadap protes terhadap Semarang Pesona Asia dengan tujuan bukan membela sang pencanang dan pelaksana program. Namun gigihsampai titik darah penghabisan membela Kota Semarang yang saya cintai dan banggakan sebagai kota paling mempesona di jagad raya ini!

Pesona Keindahan

Barusan saja bangsa Indonesia kecewa karena Candi Borobudur gagal masuk daftar Tujuh Keajaiban Dunia. Rasa kecewa yang mencerminkan inferiority complex kultural karena tunduk dan patuh pada penilaian bangsa asing yang berkedok demokrasi dengan menyelenggarakan pemilu dengan mayoritas peserta pemilu dari bangsa mereka sendiri.

Salah sendiri, dari bangsa Indonesia sendiri tidak banyak yang ikut serta memberikan suara dalam pemilu yang diprakarsai dan diorganisir bangsa asing itu, akibat tidak sadar jika ada pemilu tentang Keajaiban Dunia dan tidak tahu bagaimana cara ikut pemilu di samping memang tidak bersemangat karena sudah jenuh ikut pemilu-pemiluan.

Di antara tujuh keajaiban dunia yang terpilih itu, saya pribadi berani menyatakan bahwa sebenarnya Candi Borobudur tidak kalah ajaib apalagi tanpa kejelasan tentang ukuran ajaib itu apa dan bagaimana. Perlu disadari bahwa daftar Tujuh Keajaiban Dunia yang asli dan perdana adalah bikinan sejarawan Yunani kuno: Herodotus yang hidup di abad V sebelum Masehi. Maka belum pernah berkunjung ke candi Borobudur, Prambanan, Tanah Lot, Candi Besakih, atau Mesjid Istiqal.

Kota Inverness merupakan kota Skotlandia Utara yang paling banyak dikunjungi turis dengan daya tarik Pesona Dunia yakni Danau Loch-Ness yang didesas-desuskan dihuni monster Nessie yang sudah diyakini sebenarnya sama sekali tidak ada karena cuma hasil khayalan beberapa orang yang gemar berkhayal.

Jadi jelas sebenarnya sama sekali tidak ada pesona hadir di kawasan Inverness. Namun akibat Kota Inverness nekad mencanangkan program Loch-Ness Pesona Dunia tanpa ada protes dan sinisme dari warganya, maka berduyun-duyunlah wisatawan mancanegara bermalam di Inverness demi mengunjungi Loch-Ness yang sama sekali tidak punya pesona kecuali pesona khayal!

Beribu kilometer perjalanan saya tempuh demi mengunjungi My Son, Vietnam akibat terpesona promosi My Son Pesona Dunia yang terdaftar di UNESCO sebagai World Heritage. Sambil terengah-engah dan mandi peluh akibat menempuh perjalanan berbukit dan hutan belukar akhirnya saya tiba di reruntuhan candi-candi kuno My Son yang secara kuantitas maupun kualitas -maaf- tidak layak dibandingkan dengan pesona agung Borobudur dan Prambanan.

Secara arsitektural Angkor Wat di Kamboja sebagai bekas kawasan kota memang kolosal mendebar sukma. Tetapi dalam estetikal relief dan nilai historis masih di bawah pesona Candi Prambanan yang indah tiada tara itu!

Saya ngotot ke Hanoi akibat mau nonton pergelaran Wayang Air yang digembar-gemborkan sebagai Pesona Teater Dunia. Memang menarik, namun sebenarnya Wayang Golek dan Wayang Kulit Indonesia tidak kalah menarik, bahkan bagi saya jauh lebih menarik. Hanya kita kalah sombong dan kalah nekad dalam mempromosikannya.

Jika anda susah payah menempuh udara tipis di ketinggian lebih dari 3.000 meter dan akhirnya berhasil tiba di kawasan Machu Pichu, Peru yang kebetulan ikut terpilih sebagai Keajaiban Dunia versi baru, maka jangan kecewa apabila pesona yang anda temui di sana dalam bentuk reruntuhan yang sulit dihayati maknanya apabila anda tidak menghayati makna sejarah peradaban dan kebudayaan Inka.

Kota Newcastle-upon-Tyne di Inggris masyhur dengan pesona dunia Hadrian's Wall yang dibangun Kaisar Hadrian di masa Romawi masih menjajah Inggris demi mencegah serangan kaum Pict dari utara.

Apabila anda tiba di bagian Barat di mana sebagian besar tembok Hadrian sudah musnah, apalagi jika kebetulan anda sudah pernah mengunjungi Tembok Akbar Cina yang dipersatukan kaisar Shih-huangti pada abad III, maka dijamin rasa kecewa lebih besar ketimbang pesona.

Para turis mancanagera berduyun-duyung mengunjungi pasar tiban yang setiap sore mendadak muncul di tengah Kota Luangprabang, Laos. Seingat saya, limapuluh tahun yang lalu Kota Semarang juga punya Pasar Yaik yang sayang kini pesonanya telah ditelan budaya mal tanpa sempat dipropagandakan ke masyarakat dunia!

Singapura mengklaim dirinya sebagai Kota Pesona Belanja, namun lazimnya rasa pesona akan hilang setelah maksimal tiga hari karena sebenarnya kota itu tidak punya pesona budaya apa pun kecuali shopping itu tadi.

Belakangan Kota Singapura mati-matian berusaha mempersolek diri sebagai kota kebudayaan dengan antara lain mendirikan Esplanade nan megah spektakuler, namun para seniman yang tampil di panggung nan megah itu sibuk diimpor dari luar negeri termasuk Indonesia.

Jadi tampaknya pesona itu ada di mana-mana bahkan-seperti Loch-Ness-yang tidak ada pun bisa diada-adakan menjadi pesona!

Semarang

Dibanding Loch-Ness yang hanya jual khayalan, potensi produk wisata Kota Semarang unggul! Ibu Kota Jawa Tengah ini memiliki pesona bukan khayalan seperti Gedung Batu, Lawang Sewu, Gereja Blenduk, kawasan Kota Kuno, kawasan Simpanglima, Museum Ronggowarsito, Museum Mandala Bhakti, Chinatown dengan sembilan kelenteng, dihias dengan pesona wisata boga seperti lunpia, bolang baling, tahu pong, sate kambing, jajaran penjaja sate ayam Jl Gajah Mada, food-court Semawis, Museum Jamu Nyonya Meneer, Museum Jamu Jago, Museum Rekor Dunia Indonesia dan masih banyak potensi yang sementara siap digarap menjadi pesona seperti panorama Gombel, kawasan Marina. Dan tak terhitung banyaknya pesona wisata alam di sekitar Kota Semarang seperti Gua Kreo, Bleduk Kuwu sampai Karimunjawa. Semua pesona wisata itu apabila dikemas dalam promosi yang profesional dijamin tidak kalah potensial ketimbang pesona wisata kerbau di Vietnam, pasar tiban di Luangprabang atau pohon pisang di Hawaii.

Yang penting jangan minder, jangan malu untuk promosi, jangan terlalu rendah diri untuk merasa bangga atas pesona Kota Semarang karena jika Loch-Ness, Machu Pichu, Hadrian's Wall, My Son, Angkor Wat, Hanoi, Luangprabang, Singapura bisa dan boleh kenapa Semarang tidak bisa dan tidak boleh!

Apalagi promosi yang didukung pembenahan dan pembangunan infrastruktur mulai dari transportasi, akomodasi, konsumsi, pelayanan kesehatan, kebersihan, keamanan, kenyamanan sampai ke kejujuran dan keramahtamahan warga Kota Semarang yang bersatu padu menjunjung tinggi pesona Kota Semarang menjadi benar-benar gemah ripah loh jinawi aman sentosa, indah permai penuh pesona! (60)

- Jaya Suprana, budayawan warga kota Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA