| Rabu, 18 Juli 2007 | KEDU & DIY |
Usir Rasa Malu demi Pendidikan Anak
PANDANGAN takjub orang-orang seolah menjadi kenikmatan tersendiri bagi Yuni, penjaga parkir wanita yang biasa mangkal di depan sebuah toko roti di Gejayan. Pekerjaan yang biasanya digeluti kaum pria ini dijalaninya dengan penuh semangat. Bahkan anggapan malu dari kedua anaknya dia tepis begitu saja. Aktivitas yang dilakoni ibu berkacamata ini dimulai sejak setahun yang lalu. Setiap hari mulai pukul 15.00 hingga 21.00, sambil membawa peluit, dia berjalan dan terkadang berlarian mengatur mobil dan motor yang parkir. Niatnya dari semula adalah membantu mencukupi keuangan rumah tangga. Bermula dari suaminya yang juga mantan penjaga parkir, Yuni berkeinginan untuk melanjutkan pekerjaan itu. Selama satu bulan, dia belajar menangani teknik dasar mengenai parkir dari sang suami. Saat pertama kali bekerja, dia mengaku, pekerjaan tersebut sangat melelahkan. ''Dahulu saya sering sakit punggung karena bekerja. Untungnya sekarang tidak pernah kumat lagi,'' katanya. Biaya Sekolah Sebelum memutuskan menjadi penjaga parkir, dia mendapat penolakan keras dari kedua anaknya. Mereka mengaku malu ibunya menjadi seorang penjaga parkir. ''Walaupun anak-anak saya tidak mengizinkan tapi saya tetap maju,'' tandasnya. Tanpa diduga, pekerjaan itu membuat tetangga-tetangganya yang juga wanita tertarik dan ingin bergabung. Dari hasil parkir mobil dan motor, dia dapat mengantongi tak kurang dari Rp 50.000 setiap hari. Namun jumlah itu dikurangi setiap minggu untuk setoran 30%-nya kepada bos. Sisanya dia gunakan untuk membiayai kedua anaknya yang masih sekolah. ''Biaya sekolah sekarang sangat mahal. Tanggungan itu berat bagi saya dan suami,'' ujarnya. Saat pertama bekerja, Yuni sering kesulitan untuk menyeberangkan mobil yang diparkir. Namun kondisi jalan yang ramai kini dapat dia atasi dengan mudah. Kesulitan lain, saat hujan datang. ''Kalau hujan saya jadi susah, orang-orang jarang keluar rumah dan otomatis parkir sepi,'' ungkapnya. (70) |