| Rabu, 18 Juli 2007 | KEDU & DIY |
Metode 5A untuk Atasi Perokok AktifMEROKOK, aktivitas yang digemari berbagai kalangan, tidak hanya orang dewasa tapi juga anak-anak. Bahkan perempuan di sebagian wilayah juga mempunyai tradisi menghisap daun tembakau tersebut. Bukan itu saja, gadis remaja pun sudah mengenal rokok meskipun konon kabarnya merokok dapat membuat masalah pada rahim. Berbagai upaya dilakukan untuk menyadarkan perokok agar menghentikan aktivitasnya karena tak hanya merugikan diri sendiri tapi juga orang lain. Hanya kesadaran menghargai kesehatan masih sangat minim terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Lihat saja, orang berlalu lalang menenteng rokok dan mengeluarkan asap di sembarang tempat. Yayi Suryo Prabandari selaku Country Director Quit Tobacco Indonesia memprihatinkan kondisi demikian. Dia menggagas perlunya sosialisasi serta program berhenti merokok. Kampanye bahaya merokok harus terus dikumandangkan. ''Pecandu rokok harus diberitahu dan disadarkan, berhenti merokok dapat mencegah berbagai penyakit kronis dan tentu saja hidup lebih sehat dan nyaman,'' tandasnya. Dia menjelaskan, berdasarkan data yang ada, 50% dari populasi masyarakat Indonesia merupakan perokok. Hasil penelitian tahun 2003 lalu menyebutkan, 22% dari 400 responden yang merupakan tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, dan mahasiswa kedokteran sebagai perokok aktif. Pelatihan Menurutnya, pelatihan untuk mengatasi perokok aktif telah dikembangkan di seluruh puskesmas di Sleman, Bantul, dan Kulonprogo. Di Indonesia, tenaga ahli seperti dokter diharapkan dapat menjadi kunci untuk gerakan berhenti merokok. Inisiatif para perokok untuk berhenti baru mulai ketika dirinya divonis menderita penyakit kronis seperti TBC. Adapun bentuk pelatihannya dengan metode 5A yakni ask atau bertanya seberapa jauh ketergantungan perokok, advice atau nasihat penyakit yang berhubungan dengan aktivitas merokok, assessment yakni menanyakan keinginan berhenti merokok , assist atau pendampingan dan kampanye tak ada obat berhenti merokok serta arrange yakni menyusun upaya agar tidak merokok lagi. ''Penerapan metode 5A tersebut selama ini cukup efektif. Kendati demikian ada satu hal menarik, perokok tak mau dikaitkan dengan kematian karena hal itu menjadi urusan Tuhan. Yang jelas kampanye bahaya merokok harus terus dilakukan,'' ungkap Yayi. (Agung PW-70) |