| Rabu, 18 Juli 2007 | BUDAYA |
Semarang, Ibu Kota Perkusi Baru ?
DI mana letak Semarang dalam peta musik perkusi? Sudahkah terpampang dengan jelas sebagai kota yang diperhitungkan? Atau, justru masih sekadar noktah yang, untuk melihatnya, perlu bantuan kaca suryakanta? Pertanyaan-pertanyaan itu sontak mengemuka ketika sejumlah praktisi musik tabuh di ibu kota Jawa Tengah mendeklarasikan Semarang Percussion Community (SPC). Senin (16/7) malam lalu, di sesela latihan rampak gendrum di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), sejumlah perkusionis "mengumumkan" pendirian komunitas perkusi Semarang. Komunitas itu antara lain dimotori Bambang Iss, musikus jazz yang cukup mempunyai nama. Dia adalah pentolan Progressio Band, yang juga ketua Semarang Jazz Community. Selain itu, SPC diperkuat sejumlah nama yang tak asing lagi di jagat musik Semarang, seperti Harry Djoko (Bud 'N Friends) dan Marco Manardi. Marco tak lain adalah vokalis Congrock 17 yang juga ketua Dewan Kesenian Semarang. "Bandung sudah terlebih dahulu bergerak (dalam musik perkusi-Red). Sekarang giliran Semarang. Bukan tidak mungkin, pembentukan SPC ini menjadi tanda awal Semarang sebagai ibu kota baru musik perkusi," ujar Marco. Ya, Bandung memang relatif lebih dulu lekat dengan musik perkusi. Di Parijs van Java itu, tercatat tak kurang dari 30-an grup perkusi yang menorehkan eksistensinya. Siapa tak dengar kiprah Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) yang dimotori Harry Roesli (almarhum). Predikat "ibu kota perkusi" kian kuat setelah dedengkot musik perkusi dari Kota Kembang, Dadi Firmansyah, mendirikan Bandung Percussion Community, baru-baru ini. Pendirian komunitas itu seakan menegaskan, Bandung memang salah satu kiblat musik perkusi. "Semarang punya banyak potensi musik perkusi. Baik yang modern semacam jimbe, bongo, drum maupun yang tradisional seperti beduk atau kendang," imbuhnya. Gendrum Malam itu, SPC tengah menggelar latihan rampak gendrum yang akan dimainkan pada pembukaan Semarang Pesona Asia (SPA), Agustus mendatang. Rampak gendrum itu merupakan penggarapan bersama SPC dan Dekase yang didukung komunitas musik truntung dari Desa Warangan, Magelang. Penggarapan yang dikomandani Harry Djoko itu merupakan upaya menyenyawakan musik tabuh modern dan tradisional. Lihatlah, di barisan depan berjajar empat set kendang, sementara empat beduk ditata paling belakang. Di antara kedua alat tabuh tradisional itu, ditempatkan sejumlah jimbe, bongo, dan drum. Secara konsep, sudah mulai bisa dibaca cetak biru penggarapan rampak gendrum itu. Walaupun sejumlah penonton, seperti penasihat Dekase, Nasrun M Yunus, dan dedengkot Teater Lingkar, Maston, masih melihat belum adanya kesatuan antarpemain. Belum ada perkawinan rasa dan cenderung bermain sesuai egonya sendiri. (45) |